Suara Anak Indonesia 2011

28/07/2011 0 Comments

Tanpa terasa kita rayakan Hari Anak Nasional Sabtu (23/7), bertempat di Gedung Merdeka Bandung. Tujuh butir suara Anak Indonesia 2011 dibacakan sebagai puncak dari Kongres Anak Indonesia ke X, yang digelar terpisah dengan peringatan Hari Anak Nasional yang digelar di Ancol Jakarta.

Salah satu poin diantaranya meminta pemerintah, membebaskan biaya kesehatan bagi semua anak Indonesia tanpa diskriminasi. Selain itu anak Indonesia juga, meminta perlindungan bagi anak-anak yang menjadi korban eksploitasi, kekerasan, dan penelantaran serta memenuhi pemerataan fasilitas teknologi informasi hingga ke daerah terpencil.

Pada kenyataannya di negeri ini, terlalu sibuk dengan serba urusan orang dewasa. Anak-anak terus disodori “menu“ orang tua. Sebut saja nyanyian “korupsi”, kesan keroposnya partai politik, naiknya harga bahan pokok, dan harga bahan bakar minyak, misalnya, tentu lebih menarik dari pada kasus-kasus anak yang diperjual belikan. Laporan media dari Indramayu tentang perdagangan manusia, termasuk diantaranya perdagangan anak, berita kecil. Padahal, laporan yang bersumber dari instansi resmi itu hanya gunung es kondisi sebenarnya.

Laporan itu pun gunung es persoalan Indonesia, yang menyangkut anak. Memperdagangkan anak dan mempekerjakan anak seolah jalan keluar dari kemiskinan. Undang-undang memberikan sanksi bagi pelanggar tapi tidak digubris, dianggap itulah satu-satunya bertahan hidup. Belum lagi ribuan anak sekolah karena dipaksa bekerja membantu orang tua. Anak menjadi penyelamat.

Statistik menunjukan  jumlah penduduk usia anak semakin besar dari tahun ketahun, apalagi setelah keluarga berencana ‘dilupakan”. Dalam kondisi kemiskinan ini, kelas menengah ke bawah makin parah, meskipun konon ekonomi makro bagus, memberikan perhatian kepada hak anak sebagai keharusan kalau kita tidak ingin menggali liang kubur bagi masa depan mereka.

Ditambah dengan semakin besar jumlah anak yang terjerat dalam perdagangan anak, satu hal disebabkan kondisi kemiskinan, masa depan negeri ini sebenarnya serius. Tidak saja oleh tidak adanya kepemimpinan, belakangan ini semakin dirasakan sebagai hal biasa, tetapi juga terabaikannya masa depan. Anak adalah pemilik masa depan dan ketika mereka tidak disiapkan sebaik-baiknya, Indonesia sebenarnya sudah mulai bangkrut.

Perintah undang-undang bahwa pemerintah bertanggung jawab atas fakir miskin, termasuk diantaranya kondisi fakir anak-anak, perlu direbut. Bukankah dalam kondisi kita menyaksikan praksis pemerintah dengan pentas silat lidah tak berkesudahan, kita berpikir lateral dengan memberikan perhatian kepada hak-hak anak, pemilik masa depan negeri ini ?

Kita bersyukur ada Komisi Nasional Perlindungan Anak yang dapat mungkin memberikan perhatian, kepada hak-hak anak. Sepatutnya pada Hari Anak Nasional ini kita satukan tekad dan tindakan konkret memberikan perhatian kepada anak, tidak selesai dengan tindakan omdo (omong doang), apalagi hanya seremonial meriah, wah dan mewah !***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply