Ibadah Rahasia

11/08/2011 0 Comments

Dalam bulan puasa (Ramadhan) ini, ada baiknya kita mengambil hikmah dari kisah ini. Sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Syaikh Usman al-Khaubawi dalam kitab Darratun Nasihin.

***

Dalam kitab tersebut, syaikh Usman mengisahkan serombongan jemaah yang masuk surga tanpa terlebih dahulu dihisab amalnya, tanpa melintasi shirat, dan tanpa pula diketahui oleh malaikat penjaga surga. Dan, ketika ditanya mengapa bisa masuk surga tanpa proses hisab, mereka menjawab. ”Kami sewaktu di dunia beramal dan taat kepada Allah dengan penuh rahasia. Maksudnya tanpa pamrih atau tanpa dorongan popularitas sehingga kami diantarkan ke surga secara rahasia pula.”

Dalam Islam, semua amal ibadah sebenarnya berpotensi untuk dirahasiakan atau paling tidak dijaga dari sifat riya (dipamerkan). Amal bersedekah, misalnya sangat bisa untuk dirahasiakan seperti anjuran “Jika tangan kanan memberi, usahakan tangan kirimu tidak melihat”. Anjuran ini mengandung pengertian bahwa bersedekah sebaiknya tidak diumumkan ke publik.

Namun, hanya ibadah puasa yang secara khusus disebut Allah sebagai ibadah yang bersifat rahasia. Mengapa rahasia?. Karena seseorang yang berpuasa atau tidak sungguh tak ada yang tahu kecuali Allah dan dirinya sendiri.

Ternyata kerahasiaan puasa tak hanya bersifat pelaksanaannya, tetapi juga pahalanya. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Bukhari-Muslim. ”Semua amal kebaikan anak Adam berlipat ganda, tiap hasanat sepuluh hingga tujuh ratus lipat gandanya, kecuali berpuasa. Karena puasa ini hanya untuk Aku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya”. Karena bersifat rahasia, logika berpikir kita mengatakan, ibadah puasa otomatis akan “gugur” nilainya sebagai ibadah tatkala tidak rahasia lagi.

Kini, disadari atau tidak, upaya membuat puasa tidak lagi sebagai “ibadah rahasia“ sejatinya sedang melanda. Apa itu?. Penertiban warung makan, penutupan tempat hiburan atau klub malam, sampai menyeru tidak merokok di siang hari. Dalam bulan Ramadhan, semua seolah-olah harus serba “tertib rapih“. Lalu, dimanakah letak makna puasa atau syiam (menahan)?. Kenikmatan orang berpantang adalah kalau dia mampu meninggalkan apa-apa yang dilarang, padahal yang dilarang itu tersedia, bahkan tergelar dihadapannya!.

Dari perjuangan melawan hasrat (nafsu) makan, nikmat mana orang yang berpantang makan padahal di sekelilingnya tersedia beraneka ragam makanan dengan orang yang berpantang makan sementara di sekelilingnya tak ada secuil pun makanan?. Pendek kata, satu hal pasti, setiap ibadah mesti disertai perjuangan. Dan, landasan perjuangan itu adalah keikhlasan.

Keikhlasan akan mendorong kita bersikap toleran terhadap mereka, yang kebetulan tak berpuasa, untuk makan atau merokok di siang hari. Dengan keikhlasan pula kita (umat Islam) tidak usah menonjol-nonjolkan kalau sedang berpuasa.

Biarlah keadaan berjalan wajar seperti biasa. Tentu umat Islam akan bersyukur dan sangat menghargai jika ada pihak yang secara sadar dan ikhlas pula menghormati bulan Ramadhan, misalnya dengan menutup tempat hiburan atau warung. Namun, hendaknya itu dilakukan atas dorongan hati paling dalam dari pemiliknya. Sebagaimana seorang perempuan memakai jilbab (kerudung), akan lebih baik jika atas dorongan kalbunya dan bukan karena trend, sekedar mencari popularitas, atau agar tidak terkucil dari pergaulan.

Jadi, jangan sampai penciptaan suasana serba “tertib-rapi“ itu dipaksakan, apalagi dengan jalan kekerasan yang ironinya sering mengatasnamakan ajaran Islam. Pasalnya, kekerasan di bulan Ramadhan sangat bertentangan dengan anjuran Nabi Muhamad SAW.

Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam dengan cara santun. Kesantunan inilah yang diharapkan jadi model menumbuhkan sikap tahu sama tahu antar pemeluk agama. Umat Islam mengerti ada saudaranya yang cari rezeki dengan membuka warung, tetapi mereka juga sadar sekarang bulan Ramadhan. Dengan kesadaran itu, mereka ikhlas sementara tidak membuka warung di siang hari atau minimal tak menonjolkan warung atau tempat hiburannya.

Mereka dengan kesadarannya sendiri menutup warungnya itu ibarat seorang majusi yang masuk surga karena melarang anaknya makan di tempat umum di bulan Ramadhan. Seperti dikisahkan Syaikh Usman al-Khaubawi di bagian lain dari kitab Darratuh Nashihin ; ”Hai para malaikat-Ku, jangan biarkan ia mati dalam agama majusinya, angkatlah ia menjadi Muslim, sebab ia telah menghormati bulan suci Ramadhan“.

Namun, kalau ternyata memang hanya sedikit dari para pemilik tempat hiburan atau warung  yang bersikap seperti seorang majusi di atas, niscaya hal ini justru membuat ibadah puasa semakin nikmat. Nilai sebagai ibadah rahasia pun tetap terjaga. (mwo)***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply