Kehidupan: Penjual Bendera & Kembang Api

19/08/2011 0 Comments

Jenal Arifin (73), pedagang bendera musiman di Jl. Didi Kartasasmita, tampak termenung karena hingga tanggal 16 Agustus pendapatannya tidak mengalami peningkatan. Foto : Eva Latifah/HR.

Tahun ini, pedagang bendera merana akibat sepi peminat, sedangkan pedagang kembang api marema karena dagangannya laris-manis diserbu pembeli.

Eva Latifah

Hingga tanggal 16 Agustus, sejumlah pedagang bendera di Kota Banjar mengaku omzet penjualannya tidak memuaskan seperti tahun-tahun sebelumnya. Padahal, tanggal 16 Agustus itu biasanya menjadi puncak penjualan paling banyak.

Seperti halnya dialami Jenal Arifin (73), salah satu pedagang bendera yang mulai memajang dagangannya di Jl. Didi Kartasasmita sejak 20 Juli sampai 16 Agustus lalu. Dia mengatakan, bukan hanya dirinya saja yang kurang beruntung, namun pedagang bendera lain pun mengalami hal serupa.

Saat ditemui HR, Senin (16/8), Jenal menuturkan bahwa dirinya menjadi pendagang bendera musiman sudah dijalaninya sejak peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-45.

“Kalau sekarang kan peringatan HUT RI ke-66, jadi saya sudah cukup lama menjadi pedagang bendera musiman. Biasanya memang sok marema, apalagi pas tanggal 16 Agustusnya. Tapi sekarang mah benar-benar sepi pembeli,” tutur warga pendatang dari Tasikmalaya yang telah menetap di Kota Banjar selama 5 tahun.

Namun menurut Jenal, sepinya pembeli bukan karena peringatan HUT RI tahun ini bertepan dengan bulan Ramadhan, lantaran pada perayaan HUT RI tahun kemarin pun sama.

Setiap hari Jenal mulai dadasar barang dagangannya dari pukul 7 pagi hingga pukul 5 sore. Meski demikian, tapi pendapatan dari hasil penjualan bendera hanya cukup untuk kebutuhan makan keluarganya sehari-hari saja.

Padahal, harga bendera yang ditawarkan Jenal relatif murah bila dibandingkan dengan harga bendera di pedagang lainnya. Untuk bendera ukuran paling kecil dijual seharga Rp1.500. Sedangkan, bendera ukuran paling besar harganya mencapai Rp30 ribu.

Meski hanya mengambil keuntungan sedikit, kata Jenal, yang penting dagangannya bisa laku banyak setiap harinya. Tapi, rupanya harapan dan prediksi Jenal di tahun ini tidak tercapai.

Tumpukan kain bendera yang terbungkus plastik masih terlihat menumpuk. Untuk mendapatkan tambahan penghasilan, dirinya sengaja tidak hanya menjual bendera saja, namun juga menjual beberapa stiker/gambar tempel.

“Mun teu bari nagjual nu lain mah mungkin untuk makan sehari-hari juga akan sangat kurang. Walaupun persediaan stikernya tidak banyak, tapi ya lumayan jadi ada tambahan,” ujar Jenal.

Pendapatan Jenal sebagai penjual bendera justru berbanding terbalik dengan pendapatan Neneng (38), salah satu pedagang kembang api yang mangkal setiap sore di Alun-alun Kota Banjar.

Neneng mengaku, meski dirinya mulai dadasar pukul 3 sore sampai pukul 10 malam, namun hasil penjualan kembang api setiap harinya mampu mencapai hingga ratusan ribu rupiah.

Maklum saja, harga kembang api terbilang mahal, meskipun sama-sama tergantung besar kecilnya ukuran. Dia menjual kembang api dari mulai harga Rp5.000 sampai Rp50 ribu.

“Pembelinya bukan hanya anak kecil saja, tapi banyak juga orang dewasa, dan justru yang beli kembang api ukuran besar itu orang dewasa. Kalau anak-anak kebanyakan paling yang harganya lima ribuan,” tuturnya.

Menurut Neneng, pendapatan dari hasil penjualan kembang api pada bulan Ramadhan kali ini terhitung jauh lebih menguntungkan, bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Selain itu, jika dilihat dari segi keamanan pun, Ramadhan tahun ini para pedagang kembang api patut bersyukur lantaran barang dagangan mereka aman dari razia aparat penegak hukum. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply