Kejaksaan Mengaku Kerap Gagal Tangkap Penerima Suap Dinsoskertrans

11/08/2011 0 Comments

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Ciamis, Herry Soemantri, SH

Ciamis, (harapanrakyat.com),- Kejaksaan Negeri Ciamis mengaku kerap gagal saat melacak keberadaan Tim Anggaran Jakarta yang mangaku sebagai pegawai Kementarian Keuangan (Kemenkeu) dan Staf Ahli DPR RI. Tim Anggaran Jakarta inilah yang menerima aliran uang dari tersangka kasus suap Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsoskertrans) Ciamis, Dede Lukman sebesar Rp.1,3 milyar.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Ciamis, Herry Soemantri, SH, mengatakan, pihaknya sudah beberapa kali melakukan pengejaran terhadap Tim Anggaran Jakarta tersebut.

“ Target awal kita membidik Hilman Mustofa yang mengaku sebagai Staf Ahli DPR RI. Kita sudah melakukan pengejaran ke rumah dinasnya di komplek perumahan Staf Ahli DPR di Jakarta. Tetapi, kata penghuni rumah tersebut, Hilman sudah pindah rumah,” ujarnya, kepada HR, di ruang kerjanya, Selasa (9/8).

Menurut Herry, informasi lainnya pun menyebutkan Hilman tinggal di tempat kost di wilayah Jakarta. “ Kita juga melacak tempat kostnya. Alamatnya bisa kita temukan. Tetapi, ketika kita ke sana, Hilman sudah pindah tempat kost, kata pemilik kost tersebut,” terangnya.

Ketika sulit melacak keberadaan Hilman, lanjut Herry, pihaknya pun mencoba mengejar beberapa orang Tim Anggaran Jakarta yang mengaku sebagai pegawai Kemenkeu.

“ Meski Kemenkeu sudah membantah adanya keterlibatan pegawainya, namun kita tetap mencari orang-orang itu ke Kantor Kemenkeu. Setelah kita cari dan menanyakan ke orang-orang di Kemenkeu, mereka mengaku tidak ada nama yang kita cari yang tercatat sebagai pegewai di sana, “ katanya.

Namun begitu, tambah Herry, pihaknya akan terus memburu orang-orang yang menerima suap tersebut hingga bisa ditangkap. “ Kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menghadirkan orang-orang tersebut guna dimintai keterangannya,” ujarnya.

Herry pun mengatakan pihaknya masih memiliki cara untuk menangkap orang-orang yang mengaku Tim Anggaran Jakarta tersebut. “ Insyaalloh kita bisa segera menangkap orang-orang itu. Kita pun dibantu oleh Tim dari Kejagung dan Kejati dalam pengejaran DPO ini, “ katanya.

Menurut keterangan Ahdi kepada penyidik, bahwa uang sebesar Rp. 1, 3 milyar yang dikumpulkan tersangka dari rekanan kontruksi Ciamis, mengalir ke tangan Hilman Mustofa sebesar Rp. 600 juta dan ke tangan Herman yang mengaku pejabat Kemenkeu sebesar Rp. 700 juta.

“Uang Rp. 600 juta yang diberikan kepada Hilman, menurut keterangan Ahdi berdasarkan pengakuan Hilman, dibagikan kepada Anggota DPR RI sebagai uang pelicin untuk mengesahkan bantuan DPIPD ke Kabupaten Ciamis. Sementara sisanya yang Rp. 700 juta itu, dibawa oleh Herman,” ujar salah seorang penyidik.

Namun, saat ini muncul spekulasi lain mengenai sosok Hilman Mustofa dan beberapa rekannya yang mengaku pejabat Kemenkeu. Menurut sumber HR, spekulasi itu memprediksi bahwa Hilman Mustofa dan Herman bukanlah seorang staf ahli DPR RI atau pejabat Kemenkeu, melainkan seorang penipu yang memanfaatkan situasi di saat sejumlah pemerintah daerah berebut anggaran stimulan dari pemerintah pusat.

Pasalnya, menurut sumber itu, beberapa pejabat Ciamis pun pernah melakukan konfirmasi ke kantor Kementrian Keuangan di Jakarta, menanyakan keberadaan Herman, Femi, Dedi dan Purwanto yang mengaku utusan dari Kemenkeu. Ternyata, setelah dicek, tidak ada staf atau pejabat Kemenkeu yang nama-namanya disebut tersebut. (Bgj)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!