Membangun Transportasi Publik yang Nyaman

11/08/2011 Berita Terbaru
Membangun Transportasi Publik yang Nyaman

Pembangunan yang terpusat di perkotaan telah menimbulkan gelombang urbanisasi yang berdampak pada bertumpuknya konsentrasi warga di perkotaan. Situasi ini berdampak pada mobilisasi warga yang sangat tinggi. Tanpa adanya kebijakan transportasi yang cerdas, kemacetan lalu lintas selalu menjadi masalah yang sangat krusial, kusut, dan sulit untuk diurai.

Asep Mulyana, Tim Litbang HR

Beberapa media memprediksi bahwa Jakarta sebagai ibukota negara akan mengalami kemacetan total pada 2015. Saat ini saja, pada jam-jam sibuk, kemacetan terjadi di hampir semua ruas jalan di Jakarta. Hal ini dapat dipahami ketika pertumbuhan luas jalan hanya 0,01 persen pertahun, sementara pertumbuhan pengguna mobil sebesar 10 persen, dan motor 15 persen. Pertumbuhan mobil sebanyak 220 unit perhari dan sepeda motor mencapai 800 unit perhari. Angka ini tidak sebanding dengan pertumbuhan luas jalan yang hanya 401 meter persegi setiap tahunnya (Metro TV).

Di kota besar lain, misalnya Bandung, polanya sama saja. Kemacetan disebabkan oleh membeludaknya jumlah kendaraan bermotor yang tak sebanding dengan pertumbuhan luas jalan. Apalagi di Bandung, jumlah kendaraan ditambah oleh menjamurnya angkutan kota (angkot). Jumlah angkot yang beroperasi di Bandung mencapai sekitar 5.500 unit dan beroperasi di 39 trayek. Hasil survei menunjukkan mayoritas warga Bandung (82 persen) mengeluhkan jumlah angkot sudah berlebihan. Pertumbuhan angkot yang liar ini dituding menjadi biang kemacetan di Bandung (Pikiran Rakyat, 22 April 2010).

Berguru Transportasi Publik ke Norwegia

Oslo, ibukota Norwegia, seperti kota-kota besar di negara maju lainnya terbilang bebas dari kemacetan lalu lintas. Hal itu tak lepas dari kebijakan transportasi publik yang cerdas, terintegrasi, dan visioner. Di Oslo, hampir setiap rumah tangga memiliki mobil pribadi, tetapi mereka jarang menggunakan mobil untuk mobilisasi mereka. Setiap hari mereka menggunakan transportasi publik yang disediakan oleh pemerintah. Mengapa?

Norwegia membangun transportasi publik yang aman, murah, nyaman, dan tepat waktu. Di sana ada empat jenis transportasi publik, yaitu bis, tram (kereta listrik dengan rel yang membelah aspal jalan), kereta api (subway), dan kapal laut. Semua jenis transportasi publik itu dikelola sepenuhnya oleh pemerintah. Pemerintah menyediakan satu tiket yang dapat digunakan untuk semua moda angkutan. Jadi kita dapat menumpang bis, trem, kereta api, dan kapal laut dengan satu tiket saja.

Di Oslo, tiket dapat kita beli dengan mudah di minimarket-minimarket terdekat dengan sangat murah. Jenis tiket itu ada beberapa macam, yaitu tiket sekali jalan, tiket harian, tiket mingguan, dan tiket bulanan. Ketika saya berada di Oslo, saya membeli tiket bulanan. Harga tiket bulanan itu setara dengan Rp.800 ribu saja. Ini harga yang sangat murah karena dengan tiket bulanan itu, saya dapat menumpang semua jenis transportasi publik sepuasnya selama sebulan itu. Di samping murah, transportasi publik di sana sangat nyaman dan tepat waktu. Kereta api (subway) yang biasa saya tumpangi selalu dalam keadaan bersih, tidak berdesak-desakan, dan tepat waktu, sehingga tak pernah mengganggu aktivitas saya sehari-hari.

Orang-orang di Norwegia lebih senang menggunakan alat transportasi publik daripada menggunakan mobil pribadi. Di samping transportasi publik yang murah, nyaman, dan tepat waktu, keengganan warga Oslo untuk menggunakan mobil pribadi disebabkan oleh adanya kebijakan tarif parkir yang sangat tinggi. Mahalnya tarif parkir untuk kendaraan di satu sisi dan murahnya harga tiket untuk transportasi publik di sisi lain telah membebaskan Kota Olso dari kemacetan yang sangat menyiksa warga ibukota kita.

Menyaksikan Oslo hampir tak jauh berbeda dengan Kota Banjar: tak ada kemacetan dan nyaman. Namun jika Kota Banjar tak memiliki visi ke depan dalam membangun transportasi publik, bukan mustahil Kota Banjar akan terjebak dalam kemacetan seperti kota-kota lainnya. Pertumbuhan Kota Banjar yang makin maju pasti diiringi oleh pertumbuhan penduduk yang mendorong mobilisasi warga yang makin tinggi di jalanan. Oleh karena itu, visi untuk membangun transportasi publik yang aman, nyaman, dan tepat waktu semestinya sudah dirumuskan dari sekarang.

Pertumbuhan transportasi publik di kota-kota kecil di Jawa Barat seperti meniru apa yang terjadi di ibukota propinsi. Di Tasik, Bogor, Bekasi, Depok—seperti juga di Bandung—transportasi publik diserahkan sepenuhnya kepada pihak swasta dalam bentuk pemberian ijin trayek angkutan kota (angkot) yang mudah sehingga pertumbuhan angkot menjadi sangat liar. Pada titik tertentu, pertumbuhan angkot yang besar ini telah menjadi sumber kemacetan tersendiri. Di samping itu, pertumbuhan sepeda motor yang tak terkendali juga menjadi hambatan tersendiri dalam transportasi publik kita.

Berguru ke ibukota Norwegia, Oslo, transportasi publik hendaknya dikelola oleh pemerintah secara terpadu. Beberapa langkah kebijakan dapat dilakukan, pertama, pemerintah perlu membangun desain besar kebijakan transportasi publik. Kedua, pemerintah harus menghitung kebutuhan infrastruktur bagi transportasi publik. Ketiga, pemerintah menyediakan semua moda angkutan yang dapat menjangkau kebutuhan warga kota. Keempat, transportasi publik harus menjangkau kebutuhan warga kota, murah, nyaman, dan tepat waktu. Kelima, adanya kebijakan satu tiket untuk semua moda angkutan. Keempat, pengenaan disinsentif kepada pengguna kendaraan pribadi dengan pengenaan tarif parkir yang sangat tinggi, sehingga warga kota tak memiliki pilihan lain, kecuali menggunakan transportasi publik yang murah, nyaman, dan tepat waktu.

Bukan soal yang sulit kiranya menerapkan kebijakan transportasi publik ala Norwegia di Banjar. Apalagi Banjar belum betul-betul tumbuh menjadi kota yang besar dan rumit. Political will dan visi pemerintah dalam menerapkan transportasi publik memang bukan isu populer saat ini mengingat Kota Banjar masih kecil dan bebas macet. Tetapi kebijakan transportasi publik yang visioner tak ada salahnya dirumuskan sejak sekarang sehingga di kemudian hari kita lebih mudah dalam menata kota. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles