P U A S A

25/08/2011 0 Comments

Seperti kebanyakan orang di kota Banjar dan Ciamis apabila malam udara menjadi dingin, tak banyak orang ingin keluar rumah. Udara di siang hari panas dan angin kencang, debu kering berhamburan ke mana-mana, penyakit flu dan batuk banyak menyerang warga di kampung dan kantor saya wartawan dan karyawan banyak yang sakit. Sambil minum kopi panas, saya dan Pak Parto duduk di ruang tamu rumah saya, ngobrol ngaler-ngidul setelah usai sholat tarawih.

***

Pada musim kemarau, malam hari di Banjar maupun Ciamis udara cukup dingin, yang memuncak pada bulan Agustus. Dini hari dingin sangat menusuk sekujur tubuh, andai badan tak dibalut jaket. Udara dingin penanda musim kemarau sedang berlangsung, tahun ini kemarau baru dirasakan pada Juli.

Pak Parto yang bertubuh kecil menjelang usia 70 tahun tersebut adalah tipikal orang Jawa, yang ngugemi (memegang teguh) ajaran leluhur yang diwariskan secara turun temurun, lengkap dengan landasan falsafah dan simbolisnya.

Guna meraih keselamatan dalam hidup dan harmoni dengan sesama dan dengan alam, di samping agama Islam yang dianut. Dia ngugemi tujuh perkara yang lazim menjadi pegangan pokok orang Jawa ; eling, waspada, sabar, sadar, nerima, hati-hati, dan aja dumeh (jangan mentang-mentang apabila sedang di atas).

Pak Parto ini, meski tak mengenyam pendididikan formal, dari mulutnya mengalir kisah-kisah yang sarat ajaran bijak. Dia bertutur dengan polos tanpa mengendurkan ketakziman pada bagian-bagian yang dianggap sakral meski sesekali jenaka juga. Salah satu yang unik adalah tentang puasa khas orang jawa, sebagaimana yang dilakukan seorang kerabatnya.

“Dia sedang puasa, tidak makan nasi dan umbi-umbian selama setahun penuh. Karena harus bekerja di kebun, dia menjaga kondisi tubuhnya dengan minum susu yang kental setiap hari“. Tentu saja, dia melakoni tirakat itu lantaran ada tujuan yang hendak dicapai. Tetapi agaknya dengan alasan etika, Pak Parto enggan menjelaskan tirakat tersebut.

Pak Parto juga cerita seorang ulama yang pernah menjadi gurunya pada masa muda di Yogyakarta. Semasa hidupnya sang guru merupakan tokoh panutan yang khas di Jawa. Bukan saja hanya terpandang sebagai kiai, figur kharismatis itu merupakan pribadi linuwih, yakni memiliki keunggulan supranatura. Inilah orang yang dalam ungkapan Jawa disebut idune idu geni, ludahnya ludah api. Kehendaknya kehendak Tuhan. Apa yang diucap terwujud. Sabda pandita ratu.

Hidupnya bersahaja meskipun kaya dan mempekerjakan buruh di tanahnya yang luas. Seorang pejabat di Yogyakarta pernah bertanya tentang ilmunya. Seraya menunjukan perutnya dia dia menjawab, “Ini ilmu saya hanya ilmu perut”. Sepintas seperti main-main dan sekadar merendah, tetapi orang yang tanggap waskita paham, ilmunya diraih berkat puasa.

Membersihkan batin :

Orang tua kita tahu persis bahwa puasa menajamkan batin. Dalam tradisi Jawa, terdapat aneka jenis puasa untuk berbagai tujuan, baik demi keberhasilan ekonomi, sosial, maupun untuk menempa batin. Ada seorang ibi tirakat puasa Senin-Kamis sepanjang hayatnya demi kesuksesan putra-putrinya. Atau seorang calon ayah puasa selama istrinya hamil dengan harapan istri dan janin di rahimnya selamat sampai tiba waktunya melahirkan.

Agama Islam mewajibkan puasa kepada umatnya sebulan penuh setiap bulan Ramadhan. Dalam Al-Qur’an, dinyatakan tujuan ibadah ini untuk mencetak pribadi takwa. Artinya takwa dapat diartikan panjang lebar oleh para ulama. Namun pada hakikatnya puasa adalah laku spiritual, menahan diri, melatih kedispilinan sehingga tercapai kondisi awal yang mutlak menuju takwa. yakni eling, ingat kepada Allah tanpa putus.

Dari sudut pandang medis, sering diuraikan, lengkap dengan penjelasan ilmiah, bahwa puasa menyehatkan tubuh. Di sisi lain, tiap tahun para da’i, konsisten mengulang-ngulang makna sosial ibadah ini bahwa puasa mendidik umat agar makin peduli kepada orang miskin. ”Dengan puasa, kita merasakan perihnya lapar yang diderita kaum papa“.

Begitu banyak hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa, sehingga dapat dikatakan bahwa semua agama menerapkan praktek ritual ini dalam peribadatan masing-masing. Malam telah larut, tetapi kami masih duduk di ruang tamu. Pak Parto bercerita tentang puasa mutih, yakni hanya mengkonsumsi nasi dan air putih pada sejumlah hari yang dipilih .

Tujuannya, membersihkan batin sebelum melakukan hak penting. Jawa kaya dengan leluri yang multidimensi, tetapi sebagian besar tidak bisa dijabarkan hanya bermodalkan pemahaman intelek sebab hanya akan berhenti pada simbolisme. Hakikat puasa mutih pun mustahil dipahami tanpa pengalaman langsung.

Ketika jasad dijauhkan dari rasa lezat, syahwat hewaniah meronta. Pada tahap selanjutnya tumbuh kepekaan akan hal-hal yang halus. Rasa menajam, perhatian terfokus ke dalam. Tiada ada apa pun di sana, kecuali aku yang bersandar kepada Allah. Di hadapan wajah-Nya, aku fana seremeh lelatu yang berterbangan dari rokok daun kawung kesukaan Pak Parto.

Tidak ada salahnya memetik kearifan leluhur sebagai lokal jenius, kearifan lokal untuk membersihkan kalbu, asal kita konsisten menunaikan ibadah puasa Ramadhan menurut cara yang secara ketat digariskan Al-Qur’an dan sunah Rasul. Di penghujung cerita pada Ramadhan tahun ini sepekan lagi akan berakhir, masuk pada 1 Syawal 1432 H maaf lahir batin dari Bung HR.

Selamat Idul Fitri, insya Allah tahun depan kita bertemu kembali dengan bulan Ramadhan yang penuh barokah. Pak Parto pun pamit kembali ke mesjid yang tak jauh dari rumah saya, dan saya tak hendak lagi bercerita tentang Pak Parto. Soalnya hari telah larut malam udara dingin di luar sangat tidak bersahabat untuk kesehatan. Wassalam ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!