Pegadaian, Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah & Tak Banyak Lagi Yang “Malu”

25/08/2011 0 Comments

Menjelang Lebaran tahun ini, jumlah barang yang masuk ke Kantor Perum Pegadaian Cabang Banjar lebih sedikit. Peningkatan justru terjadi pada jumlah penebusan barang gadaian. Foto : Eva Latifah/HR.

Saat ini, mereka yang keluar masuk Pegadaian bukan cuma orang yang terlilit persoalan keuangan. Orang bisa meminjam modal usaha, menitipkan barang, hingga mencari keuntungan melalui pembelian logam mulia. ***

Inilah cerita seorang pengusaha wanita yang tengah membutuhkan uang tunai dalam waktu cepat. Sebut saja Fauziah (35), pengusaha di bidang konstruksi. Untuk pertama kali dalam hidup menggadaikan barang di salah satu pegadaian di kota ini. Ketika dia tengah membutuhkan dana tunai “cuma” Rp.10 juta.

“ aktu itu, uang tunai yang aku punya untuk membeli semen dan pasir kurang Rp.10 juta. Mau pakai uang bank, prosesnya lebih panjang. Padahal, kebutuhan aku hanya Rp.10 juta dan hanya untuk waktu seminggu. Pinjam saudara enggak enak. Bongkar deposito juga sayang. Jadi, terpaksa ke pegadaian,” tutur Fauziah.

Sesampai di Pegadaian, Fauziah terperangah karena hanya butuh waktu 10 menit untuk mendapat uang tunai dengan menggadaikan sebuah gelang emas. ”Aku engga nyangka secepat itu prosesnya. Gelangku jadi seperti kartu ATM,” kata Fauziah.

Cerita menjelang lebaran tahun ini, jumlah barang yang masuk ke Pegadaian cabang Banjar ternyata lebih sedikit. Masyarakat justru malah lebih banyak yang menebus barang gadaiannya. Hal ini dikatakan Kepala Pegadaian Cabang Banjar Rachmat, saat ditemui HR Senin (22/8). Biasanya peningkatan jumlah barang yang masuk terjadi sejak dua minggu sebelum lebaran.

Menurut Rachmat, pihaknya sudah meningkatkan persiapan dana untuk menghadapi lebaran, sebesar 20-25 persen. Lantaran menghadapi lebaran tahun ini, Perum Pegadaian Pusat telah menyiapkan dana Rp.5 triliun, dan omzet ditarget terjadi kenaikan 15 s/d 20 persen.

”Biasanya bila sudah mendekati lebaran banyak masyarakat yang menggadaikan barang, dalam hal ini berupa emas atau sepeda motor berikut dengan BPKB-nya. Lain dengan menjelang lebaran tahun ini tidak ada peningkatan yang signifikan, normal-normal saja. Mungkin sekarang masyarakat banyak menebus barangnya itu untuk dipakai saat lebaran,” ucap Rachmat.

Lebih lanjut dia mengatakan, jenis barang yang digadaikan warga berupa perhiasan dari emas dan sepeda motor buatan Jepang minimal keluaran tahun 2005. Lantaran, Pegadaian sekarang lebih selektif dalam menerima barang gadaian. Selain itu saat HR akan memotret yang sedang bertransaksi, dilarang. Koo… gitu yaa. Hallo Bung Rachmat apa di Perum Pegadaian di tempat lain juga seperti di kota Banjar?. Dilarang memotret, saat transaksi.!!!

Pegadaian tidak lagi menerima barang gadaian berupa elektronik, sebab nilai taksiran pada barang tersebut jauh lebih rendah, dan harga jual di pasaran pun gampang turun, sebabnya barang eletronik cepat sekali mengeluarkan produk atau tipe baru, seperti halnya handphone. Kalau dulu memang kami menerima barang gadaian berupa elektronik, bahan kain pun kami terima.

Seiring dengan kemajuan zaman, jenis-jenis barang tersebut tidak lagi mempunyai nilai jual yang tinggi, dan tidak laku ketika dilelang. Sedangkan emas dan motor nilai jualnya tetap tinggi. Tetapi untuk sepeda motor buatan China tidak diterima, sebab harga jual seken (bekas) sangat rendah.

Rachmat menambahkan, untuk memaksimalkan pelayanan, saat ini di kota Banjar telah dibuka dua unit kantor pembantu Pegadaian di Jl. Husen Kartasasmita, dan di Jalan Tentara Pelajar dan Pegadaian Syariah di Jalan Gudang. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply