PONjabar

Peran Ponpes Darussalam dalam Pendidikan Masyarakat Ciamis

Asrama putra Ibnu Khaldun. Foto : Dian Sholeh Wardiana/HR.

Dian Sholeh Wardiana Putra

Bila  kita telusuri jalan utama kota Ciamis menuju arah Timur, hingga keluar kota Ciamis, disana banyak terdapat Pondok Pesantren (Ponpes). Seiring pertumbuhan kota Ciamis, seolah tidak mau ketinggalan dengan perkembangan modernisasi, sehingga banyak pesantren yang berbenah diri.

Tidak jauh dari jalan utama, tepatnya di Jl. K.H. Ahmad Fadlil, yaitu daerah Dewasari, Kec. Cijeungjing, dapat kita jumpai Pondok Pesantren Darussalam yang megah dan selalu menjadi pilihan orang tua yang menginginkan anaknya sekolah di lembaga pendidikan agama.

Menurut penerus pengasuh Pondok pesantren Darussalam, KH. Dr. Fadlil Yani Ainusyamsi, MBA, M.Ag., melalui bagian Humas yang juga Kepala Kesekretariatan, Ustadz Pepe Iswanto, SHI., ketika ditemui HR, Senin (7/8), mengatakan, Ponpes Darussalam didirikan tahun 1929 oleh Kyai Ahmad Fadlil (Almarhum), pada sebidang tanah wakaf pasangan suami isteri Mas Astapradja dan Siti Hasanah.

Awalnya pesantren tersebut hanya bermodalkan sebuah rumah tempat tinggal, mesjid, dan satu pondokan sebagai asrama yang sangat sederhana, dibangun dengan menggunakan bilik bambu.

Dan santri yang pertama kali mondok (tinggal) adalah pemuda-pemuda setempat. Mereka tidak hanya belajar ilmu-ilmu agama, akan tetapi diajarkan pula tentang bercocok tanam dan cara mengolah sawah yang baik. Sehingga, dengan cepatnya mendapat simpati serta dukungan dari masyarakat sekitar.

Keputusan dengan hanya menerima santri putra tidak terlepas dari kondisi saat itu, yang tidak bisa keluar dari kontelasi keamanan akibat penjajahan Belanda. Karena didorong oleh keinginan untuk lepas dari cengkraman penjajah, ditambah meluapnya semangat santri untuk menghalau Belanda, maka pendiri (almarhum), mengajarkan straregi berdiplomasi dalam menghadapi tekanan penjajah.

Tahun 1945, angin kemerdekaan memberi udara segar kepada pesantren. Perjuangan untuk meningkatkan kwalitas umat mendapat keleluasaan, sehingga pesantren sedikit demi sedikit dapat memenuhi berbagai kebutuhan belajar mengajar para santri.

Lanjut Pepe, hal terpenting adalah paradigma lama tentang pesantren yang cendrung hanya mengkaji ilmu-ilmu ke-Islaman mulai dikikis. Untuk itu, pada dasawarsa 60-an, Ponpes Darussalam mulai memodernisasikan sistem pendidikan dengan merambah pada pendidikan formal.

Pendidikan formal pertama didirikan adalah Raudhlatul Athpal (Taman Kanak-kanak), yaitu tahun 1967, dan pada tahun 1968 berdiri Madrasah Ibtidaiyah (SD), dan Madrasah Tsanawiyah (SMP). Kemudian, tahun 1969 berdiri lagi Madrasah Aliyah (SMA), yang selanjutnya dijadikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN).

Perjuangan pesantren untuk menjadi lembaga pencetak manusia unggul di negeri ini tidak berhenti disitu, maka pada tahun 1970 didirikan perguruan tinggi Islam pertama di Kab. Ciamis dengan nama Fakultas Syariah Darussalam Ciamis, yang merupakan embrio dari Institut Agama Islam Darussalam (IAID), dengan memiliki tiga fakultas, yakni, Fakultas Syariah, Tarbiyah serta Fakultas Dakwah.

Karena banyak santri lulusan SMP yang melanjutkan di pesantren tersebut, maka tahun 2003 didirikan SMA Plus Darussalam. Plus-nya yaitu para siswa yang diproyeksikan selain menguasai ilmu-ilmu umum (eksakta), juga dapat menguasai ilmu-ilmu ke-Islaman yang terdapat dalam kitab-kitab klasik (kuning). Selain itu, kontemporer siswa juga diberi keterampilan bahasa asing.

“Konsep kurikulum yang digunakan di pesantren adalah kurikulum Integrasi. Yaitu menyatukan kurikulum dari pemerintah dengan pesantren, artinya bukan mandiri. Contoh pelajaran agama yang berbahasa Indonesia, kita kolaborasikan dengan kitab kuning,” terangnya.

Untuk kedepannya, lanjut Pepe, demi mewujudkan pendidikan ke arah yang lebih baik, bagi MTs dan MA akan diterapkan program Bilingual (bahasa Inggris dan Arab). Ini akan menjadi bahasa sehari-hari di pesantren.

Saat ini jumlah tenaga pendidik dari mulai RA sampai Perguruan Tinggi sebanyak 300 orang. Sedangkan jumlah santrinya, baik yang mukim (santri tetap) dan tidak mukim (santri kalong), mencapai 2.500 orang.

Mereka datang bukan hanya dari Jawa Barat saja, namun banyak juga santri yang berasal dari luar pulau Jawa, termasuk dari kawasan Timur Indonesia, seperti Papua, Maluku dan Nusa Tenggara.

Pelayanan yang diberikan pesantren pada para santri diantaranya, fasilitas ruang pembelajaran, seperti paskibra, pramuka, mini market, perpustakaan, ruang pelatihan komputer, jaringan internet, laboratorium MIPA dan bahasa, ruang audio visual, musik (band), qashidah, drumband, serta pos kesehatan dengan menyiapkan dua dokter jaga dan satu medis.

“Untuk menjadi staf pengajar di pesantren ini tidak mudah, karena ada tiga tahap penyeleksian. Pertama dari segi akademis atau intelektualnya harus mampu menguasai ilmu kepesantrenan. Kedua sikap atau kepribadian, dan ini akan dinilai dari mulai mengenyam pendidikan di pesantren. Yang ke tiga loyalitas. Penyeleksiannya dipegang Direktorat I Ponpes Darussalam bagian pendidikan,” terang Pepe.

Pengakuan Ponpes Darussalam sebagai lembaga pendidikan berkualitas tidak hanya datang dari mayarakat saja, tapi Pemerintah RI pun mengakuinya. Bentuk pengakuan itu antara lain diperlihatkan dengan mengubah status MA menjadi MA Negeri Darussalam di Kab. Ciamis.

Bukan hanya perubahan status saja, dalam bantuan pun Popes Darussalam sering mendapatkannya dari pemerintah, terutama untuk pengembangan pendidikan, sehingga banyak dosen/guru, serta mahasiswa yang diberi beasiswa dari Kementerian Pendidikan maupun dan Kementerian Agama. Bahkan satu tahun sekali memberangkatkan 2 orang santri untuk studi banding ke Jepang.

Dengan visi “Pesantren Darussalam sebagai pusat pendidikan Islam yang menyiapkan pemimpin-pemimpin masa depan,” maka visi tersebut menjadi salah satu landasan pengembangan pendidikan.

Sementara itu, santriwati Ponpes Darussalam asal Bandung, Sayidah Iklima, kelas 12 IPA, ketika ditemui HR, mengatakan, pendidikan agama dan formal di lingkungan Ponpes Darussalam sangat diutamakan. Hal itu membuat dirinya langsung merasa nyaman ketika mulai tinggal di pesantren.

“Lingkungan di pesantren juga sangat dekat dengan masyarakat, sehingga terasa berada di keluarga sendiri, dan tidak ada kefanatikan, terutama dalam bermusik. Menurut saya dakwah lewat musik lebih menggema, apalagi kalau musik Sufi,” katanya. ***

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below