Perontok Manual, Disinyalir Penyebab Turunnya Kualitas Padi Lakbok

19/08/2011 0 Comments

Lakbok, (harapanrakyat.com),- Proses perontokan atau pemisahan bulir gabah dari batang pohon yang dilakukan secara manual oleh para petani, disinyalir menjadi penyumbang terbesar rendahnya kualitas padi (rendemen).

Menurut Kepala BP3K Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Adun, SP, bahwa jumlah penyusutan dari satu kwintal padi (100 kg) mencapai 30 kg. Hal itu terjadi saat petani melakukan proses perontokan secara manual.

Saat ini, kehilangan hasil produksi beras masih mencapai angka di atas 20%. Salah satu faktor kehilangan hasil paling tinggi adalah pada proses pemanenan dan perontokan yang mencapai angka 14%. Sebanyak 6% lebih kehilangan terjadi pada proses penggilingan dan pengangkutan.

Dan, penyusutan padi lagi-lagi terjadi saat melakukan penggilingan, penyebabnya karena banyak mesin penggilingan padi (huler) yang dioperasionalkan tidak memenuhi standar, sehingga kualitas yang dihasilkan cukup rendah.

Dikatakan Adun, masih banyak para pengusaha penggilingan tidak memperhatikan faktor kecepatan putaran mesin yang ideal untuk menghasilkan beras berkualitas.

Lantaran, pada umumnya kualitas rendah disebabkan masih tingginya persentase beras pecah dan tertinggalnya kulit ari pada beras. Hal ini memerlukan proses sortasi ulang untuk menghasilkan beras yang lebih berkualitas.

“Kurangnya kepemilikan mesin perontok padi yang tidak dimiliki para petani di Kecamatan Lakbok, menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas padi di sini. Oleh karena itu beras asal Lakbok tidak mampu bersaing dengan beras asal Cianjur,” terangnya, pekan lalu pada HR.

Lebih lanjut Adun mengatakan, secara kuantitas, hasil panen padi dalam satu musim di Kecamatan Lakbok cukup besar, yaitu sekitar 213.888 ton gabah kering giling (GKG).

Angka sebesar itu didapat dari hasil panen yang diperkirakan per hektarenya menghasilkan 64-67 ton GKG, dengan luas lahan sawah yang ada di Kecamatan Lakbok sekitar 3.342 hektare.

Kemudian, penyebab lainnya adalah kondisi tanah yang kurang baik, serta penggunaan pupuk kurang berimbang. Menurut Adun, pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman, dan diberikan tepat waktu.

“Pemupukan merupakan suatu cara pemberian unsur hara atau pupuk pada tanah, yang tujuannya supaya dapat diserap olah tanaman, karena unsur hara adalah makanannya tanaman,” paparnya.

Selain itu, yang perlu diperhatikan petani adalah masalah penanganan paska panen. Selama ini para petugas penyuluh pertanian masih menemukan tingginya nilai susut produksi akibat penggunaan teknologi yang belum efisien.

Ditemui di tempat terpisah, Juju (56), salah seorang petani, mengakui bahwa memang besarnya angka penyusutan padi terjadi pada saat perontokan padi secara manual, serta mesin penggiling padi yang sudah jelek.

Untuk itu dia berharap kepada Pemerintah Kabupaten Ciamis, supaya member bantuan mesin perontok padi, agar kualitas beras dapat terus ditingkatkan. (Amlus)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply