Pohon Lengkeng Kawin Sambung, Cepat Berbuah

04/08/2011 0 Comments

Kepala UPT Balai Benih Padi dan Bibit Kota Banjar, Yaya Mulyana, mempraktekan cara-cara penyetekan pada pohon lengkeng. Foto : Eva Latifah/HR.

Usia 5-6 bulan sudah bisa dipanen

Melihat cara pengembangan budidaya lengkeng dengan sistim sambung di UPT Balai Benih Padi dan Bibit Kota Banjar.

Eva Latifah

Menurut masyarakat awam bahwa penanaman pada pohon lengkeng harus dengan dua pohon. Tapi sebenarnya satu pohon juga bisa menghasilkan, yaitu dengan sistim kawin sambung yang berasal dari pohon induk produktif.

Budidaya lengkeng dengan sistim kawin sambung saat ini tengah dilakukan di UPT Balai Benih Padi dan Bibit. Hasilnya memang memuaskan, terbukti pada kegiatan Hari Krida Pertanian (HKP) tingkat Kota Banjar beberapa waktu lalu, tanaman tersebut mampu terjual sebanyak 60%.

Untuk pohon lengkeng yang tengah berbunga, dijual seharga Rp100.000-200.000/pohon. Bahkan, pohon lengkeng yang kondisisnya sudah berbuah ditawar Rp500.000/ pohon oleh konsumen.

Kepala UPT Balai Benih Padi dan Bibit Kota Banjar, Yaya Mulyana, saat ditemui HR, Jum’at (29/7), menjelaskan mengenai cara-cara penyetekan pada pohon lengkeng dari berbagai varietas.

“Pertama kita harus punya pohon induk yang telah terbukti produktif, yaitu sudah berbuah minimal 3 kali. Kemudian, kita juga harus punya tanaman yang berasal dari biji, itu yang disebut sambung susu. Selanjutnya, baru melakukan okulasi, dan sebaiknya okulasi dilakukan pada musim penghujan, jadi kita tidak perlu menyiram. Tapi kemarau juga bisa, asal kita mau menyiramnya,” jelas Yaya.

Dari mulai penyambungan sampai siap potong, kurang lebih 2-3 bulan sudah bisa dipotong dari pohon induk. Ciri-cirinya, pada ikatan sambungan sudah timbul benjolan di bagian kulit batang.

Menurut Yaya, bibit pohon lengkeng siap dipasarkan ke pasaran setelah dipisahkan selama dua minggu dari pohon induk.

Selain pohon lengkeng, UPT Balai Banih Padi dan Bibit Kota Banjar juga tengah mengembangkan beberapa komoditas lain, diantaranya berbagai macam jeruk dan mangga, durian, rambutan, apel India, dan buah tien.

Namun, untuk buah tien saat ini pihaknya baru tahap uji coba, kalau memang cocok ditanam di wilayah Banjar, maka Balai Benih Padi dan Bibit akan mengembangkannya.

Bibit pohon lengkeng dan jeruk merupakan tanaman yang paling banyak terjual di pasaran. Harganya pun relatif terjangkau, apalagi jika jumlah persediaannya sudah banyak, sehingga harga bisa lebih murah dari sekarang.

Pemasarannya pun tidak hanya di wilayah Kota Banjar saja, namun Balai Benih Padi dan Bibit juga membidik pangsa pasar di luar daerah. Dengan demikian, maka diharapkan dari penjualan bibit ini dapat menjadi pendapatan asli daerah (PAD) untuk Kota Banjar.

“Jadi di sini kami tidak hanya memproduksi benih padi saja, tapi diharapkan juga memproduksi tanaman holtikura, kehutanan dan perkebunan. Sekarang untuk tanaman kehutanan dan perkebunananya kita sudah mulai membuat sendiri, yaitu pengembangan bibit albasia,” ujarnya.

Dari berbagai pengembangan itu, tentu nantinya bisa menyerap tenaga kerja, karena lahan seluas 1 hektare akan menyerap tenaga kerja sekitar 20 orang. Namun akibat lahannya masih terbatas, saat ini baru mampu menyerap tenaga kerja 3 orang, yaitu petugas harian lepas dan tenaga sukwan yang ada di UPT tersebut.

Yaya menambahkan, prospek pengembangan budidaya pohon lengkeng kedepannya dinilai akan lebih bagus, sebab usia 5-6 bulan sudah bisa dipanen. Selain itu, Balai Benih Padi dan Bibit kini sudah memiliki induknya, sehingga tidak perlu lagi membeli dari luar daerah. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!