Ramadhan Bulan Penuh Berkah

04/08/2011 0 Comments

Awal bulan Ramadhan, umat Muslim diwajibkan menjalankan puasa. Suasana bulan Ramadhan sudah tampak di mana-mana. Seperti tahun-tahun sebelumnya, umat Islam Indonesia demikian bergairah menyambut kedatangan bulan suci ini dengan meningkatkan amalan ibadah-ibadah ritual.

Selain untuk menekuni ibadah ritual, tak sedikit diantara mereka yang menjadikan bulan puasa sebagai momen memperbanyak aktivitas dan aksi sosial. Bahkan selain itu, banyak pula dari mereka yang menjadikannya sebagai bulan untuk menahan diri dari segala sikap dan perilaku tercela serta pada saat yang sama mengembangkan akhlak mulia.

Hal itu memperlihatkan keberadaan bulan Ramadhan, sebagai bulan-bulan yang benar-benar  berbeda dari pada bulan-bulan lain. Simbol dan atribut keislaman hadir berbagai ranah. Kegiatan keagaman pun menyebar disetiap ruang dan sudut sehingga “semangat beragama“ sekaligus bernuansa Islami terasa menggentarkan di mana-mana.

Sebagaimana dapat dipahami dari ajaran dan pesan Al-Quran, ibadah akan mengantarkan seseorang ke proses pencerahan. Beribadah akan memperkuat spiritualitas berdampak positif  bagi penajaman nurani dan pengembangan sikap serta perilaku luhur yang bermanfaat bagi diri sendiri, sesama, dalam kehidupan.

Jika kegairahan ibadah Muslim Indonesia yang tampak pada bulan Ramadhan berada dalam bingkai itu, karut-marut kehidupan bangsa yang sampai batas tertentu mengakar pada memudarnya moralitas dipastikan dapat ditangani lebih intens dan serius. Penguatan moralitas akan jadi modal utama menuju perbaikan pencerahan kehidupan bangsa yang senyatanya.

Namun, melihat fenomena yang ada, keberpuasaan yang berjalan selama ini masih sulit  untuk dimasakan secara utuh dalam bingkai pencerahan tersebut. Jika dilihat secara arif, beberapa bentuk keberpuasaan yang lumrah dan umum dijalani Muslim Indonesia belum mencapai ideal pencerahan.

Sebagai contoh, sebagian dari mereka menjalankan puasa sekedar menahan lapar dan dahaga. Mereka mengerjakan ibadah wajib dan sunah, tetapi belum menjauhi sikap dan perilaku tercela. Mereka belum mentransformasikan pesan dan nilai-nilai puasa ke dalam kehidupan nyata. Disamping itu ada kelompok yang telah melaksanakan segala ibadah sesuai aturan formal agama serta berupaya mengembangkan moralitas luhur dalam kehidupan dan menyebarkannya ke sekitar lingkungan mereka.

Persoalannya, kelompok ini mengimplentasikan moralitas luhur itu hanya selama bulan Ramadhan. Selepas bulan puasa, upaya mereka mengendur kembali sehingga lambat laun mereka bersikap dan berperilaku seperti sebelum puasa.

Selain itu, ada kelompok yang berpandangan implisit-ekplisit bahwa puasa adalah mendekat diri kepada Tuhan yang harus direpresentasikan melalui ketekunan dalam beribadah yang bersifat ritual-vertikal. Bagi mereka, termasuk dalam takarub kepada Allah adalah menghilangkan dan menghancurkan segala sesuatu yang dalam anggapan mereka akan mengganggu kekhusukan berpuasa. Untuk itu mereka tak segan-segan merusak tempat hiburan dan sejenisnya.

Pola puasa semacam itu gejala umum dalam kehidupan umat hingga saat ini. Mungkin hanya sedikit yang mengembangkan keberpuasaan sesuai dengan substansinya ajaran puasa itu sendiri. Kendati bulan puasa hanya satu bulan dalam setahun, dalam hitungan yang bersifat lunar dan umat Islam hanya diwajibkan secara ritual serta fisik berpuasa pada satu bulan itu, mereka sejatinya dituntut secara teologis-sufistik melaksanakannya sepanjang tahun. Tentunya berpuasa selepas bulan Ramadahn lebih bersifat moral.

Dengan demikian, umat Islam pada bulan Ramadhan wajib beribadah puasa secara fisik dan moral. Melalui ibadah puasa, mereka pada siang hari tidak boleh makan dan minum, tidak boleh melakukan hubungan suami istri, dan hal-hal lain sesuai dengan ketentuan agama. Selain itu, mereka juga harus menghidarkan diri dari segala perilaku hina dan tercela, terutama merugikan orang lain. Mereka wajib menahan amarah, iri, dengki, tidak menyakiti sesama. Tidak main hakim sendiri, serta tak merusak alam dan menyebarkan keangkaramurkaan.

Pada saat yang sama, mereka mutlak mengembangkan sikap perilaku sabar, arif, dan mengedepan dialog dalam menyelesaikan segala persoalan. Setelah bulan puasa usai, mereka memang tidak diwajibkan berpuasa secara fisik, tetapi harus tetap mengembangkan keluhuran moral sekaligus berupaya keras untuk tidak berada dalam kukungan hawa nafsu mereka.

Bulan Ramadahan bagi umat Islam, selain bersifat latihan pengendalian diri, juga senyatanya lebih bersifat upaya imuhasabah al-nafs, refleksi diri untuk menelusuri sejauh mana  selama sebelas bulan sebelum bulan puasa itu mereka sudah berada dalam bimbingan moral  agama. Jika mereka relatif sudah berjalan diatas nilai dan ajaran agama substantif, tugas mereka  adalah meningkatkan kualitas. Namun, andai pernah tergelincir, mereka dituntut secepatnya  kembali kedalam rangkulan kesejatian agama. Dalam konteks ini, puasa sejatinya setiap hari, sepanjang tahun, bahkan sepanjang usia.

Melalui penyikapan puasa semacam itu, kualitas keberagamaan umat Islam akan terus menerus meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, model ini urgen untuk dikembangkan saat ini dan kedepan. Semoga kita, umat Islam Indonesia, masih memiliki kearifan untuk mengembangkan diri secara terus-menerus dan berkelanjutan, termasuk dalam berpuasa. [abd’a’la]

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply