Sejarah dan Budaya Minum Kopi Masyarakat Kab. Ciamis

11/08/2011 0 Comments

Dicky Haryanto Adjid

Sejarah kopi telah dicatat pada abad ke-9, dimana pertama kali, kopi hanya ada di warga Ethiopia dataran tinggi. Akan tetapi, seiring perluasana kawasan perdagangan bangsa-bangsa, biji kopi mulai dikenal sampai ke Afrika Utara, ke Eropa dan Asia.

Namun, Bangsa Belanda berhasil menjadi salah satu negara Eropa pertama yang membudidayakan kopi pada tahun 1616. Kemudian, sekitar tahun 1690, ketika indonesia masih jajahan Belanda, biji kopi dibawa ke Pulau Jawa, untuk di-kultivasi (pengolahan lahan)secara besar-besaran.

Sementara menurut buku sejarah Kab. Ciamis, karya Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M. Hum, dan Hj. Nina Herlina Lubis, menyebutkan, budidaya tanaman kopi di Kab. Ciamis mulai diperkenalkan pada tahun 1720, atau pada era bupati R. Adipati Kusumadinata I.

Pada saat itu, masyarakat di lereng gunung sawal dan Ciremai diperintahkan untuk menanam kopi, dengan jumlah produksi mencapai 375 ton. Meski kala itu, lahan di Tatar Galuh dianggap belum cocok untuk ditanamai kopi.

Masih dari sumber yang sama, budidaya tanaman kopi hanya bertahan hingga abad ke 18. Karena, pada tahun 1819, budidaya tanaman Nila dan Tarum kembang (untuk bahan pewarna), mulai diterapkan, untuk kebutuhan pasar Eropa. Bahkan, di Distrik Panjalu, Kab. Galuh, lahan untuk tanaman Nila dan Tarum Kembang mencapai 101,2 hektar.

Seorang Budayawan Ciamis, Aip, Minggu (7/8), membenarkan cerita dalam buku sejarah Kab. Ciamis/ Galuh tersebut, yang menyatakan bahwa kopi pertama kali dibawa oleh Belanda ke Galuh sekitar abad 17.

Pada saat itu, kata Aip, komoditas kopi sedang booming di kawasan Eropa. Tapi kopi yang ditanam di Kab. Galuh tersebut bukan untuk dikonsumsi masyarakat sendiri, melainkan untuk keperluan perdagangan rempah Eropa.

Aip menambahkan, seharusnya waga Ciamis bersyukur, karena potensi kopi Indonesia, termasuk Ciamis, menjadi kopi kedua setelah Brazil. Pasalnya, kopi di Indonesia banyak mengandalkan dari perkebunan kopi di Lampung. Padahal, banyak warga Rajadesa selain menanam kopi di Rajadesa juga turut menaman kopi di Lampung.

“Malahan saya baru-baru ini mendengar kabar, petani kopi di Lampung sering berkomunikasi dengan petani kopi di Rajadesa, untuk persoalan peningkatan kualitas kopi,” katanya.

Lebih jauhnya, Aip menambahkan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kab. Ciamis memberikan perhatian lebih kepada petani kopi di wilayah Ciamis, khusunya soal peningkatan kesejahteraan Petani kopi.

Di tempat terpisah, Yuda, mahasiswa asal Langkap Lancar Kab. Ciamis, mengatakan, bahwa secara sosiobudaya, hampir semua kalangan, mulai dari rakyat biasa hingga kalangan elit, selalu disuguhi minuman kopi, ketika mengadakan acara.

Ironisnya, budaya minum kopi ini, belum dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan petani kopi. Misalnya, dengan membangun kedai kopi tradisional di kawasan strategis di Kab. Ciamis.

Tidak hanya itu, kebiasaan di masyarakat Langkaplancar, setiap kali mengadakan tahlilan, selalu diselingi dengan minum kopi hasil olahan sendiri, yang dinamai kopi kampung. Budi, warga Rancah, mengaku sering meminum kopi giling/ tumbuk asli, pada saat acara gotong royong, seperti membangun jalan, hajatan dan kegiatan lainnya di kampung. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply