Sudahkah Bangsa Kita Merdeka ?

19/08/2011 Berita Terbaru
Sudahkah Bangsa Kita Merdeka ?

Hari kemerdekaan kita tahun ini, kita peringati di tengah bulan suci Ramadhan. Persis saat kemerdekaan diproklamasikan tahun 1945. Merayakan ulang tahun ke-66 republik ini, berarti sudah dua pertiga abad kita merdeka.

Sebuah pertanyaan, sudahkah cita-cita kemerdekaan yang kita rebut dengan darah dan nyawa itu terealisasi. Yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan rakyat, ataukah hanya dan baru dinikmati oleh lapisan kecil tertentu di tingkat atas?

Realitas menunjukan, kehidupan rakyat kecil yang merupakan mayoritas dari penduduk, sebagaimana pada zaman kolonial. Praktis masih begitu juga pada zaman kemerdekaan ini. Bagian terbesar dari mereka masih hidup dari tangan ke mulut.

Menyimak laporan perkembangan dari pihak resmi yang cukup menggembirakan, dari tahun ke tahun dari sejak masa Orba (Orde Baru) dan berlanjut ke masa Orde Reformasi SBY sekarang ini, kita dijejali dengan angka-angka stastistik. Semua meningkat dan menggembirakan.

Hal yang ditonjolkan selama ini hanyalah, ”apa dan bagaimana serta dengan capaian berapa, secara makro lalu dibagi dengan jumlah penduduk”. Tetapi tak pernah “oleh siapa dan untuk siapa menurut pelapisan sosial“. Padahal struktur masyarakat kita sangat berlapis dan bertingkat.

Artinya, kelompok terkecil masyarakat menurut jalur etnik itu, yang umumnya adalah non pribumi, menguasai bagian terbesar kekayaan nasional. Sementara kelompok terbesar dari masyarakat pribumi, yang merupakan pewaris sah dari republik ini mendapatkan bagian dan dari porsi terkecil. Akibatnya, cita-cita pasal 34 UUD 1945, ”pembangunan itu adalah untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Hanyalah isapan jempol belaka, rakyat kecil kita masih banyak yang tak bertanah, hanya memiliki air saja.

Jika demikian halnya, bagaimana keadaan sesungguhnya negara, rakyat, dan bangsa kita saat ini? Jawaban secara struktural relatif sederhana. Kita sampai saat ini belum merdeka!. Kita masih berada di bawah penjajahan ekonomi multinasional, berupa kombinasi kerja sama saling menguntungkan antara pengusaha non pribumi dan korporasi multinasional di bawah naungan dan proteksi kelompok elit penguasa pribumi yang hidup mewah bagaikan benalu.

Kerja sama segitiga yang saling menguntungkan ini yang mengibarkan bendera pembangunan nasional Indonesia sejak masa Orde Baru ke masa Reformasi saat ini. Lebih celaka lagi, saat ekonomi kita sudah dikuasai dari hulu sampai ke muara oleh mereka. Kita dijadikan pula sebagai pengutang lapis berlapis dengan bunga meningkat terus sehingga sekian keturunan ke depan belum tentu bisa melunasinya.

Utang Indenesia ke IMF, Bank Dunia dan lain-lainnya. Membengkak jadi Rp.1,250 triliun untuk tahun 2011. Sementara bumi, air, dan langit kita mereka kuras, pasar kita mereka kendalikan, dan politik kita pun mereka setir dengan remote control.

Faktor penyebab, mengapa para petinggi dan penguasa negeri ini rata-rata korupsi, kolektif, dan nepotisme, juga sederhana jawabannya. Mereka tak berbuat sesuai dengan yang mereka katakan dan ucapan yang manis hanya pencitraan diri meluluu…. Di satu pihak, mereka mengelu-elukan demokrasi, kesetaraan di muka hukum, hak asasi manusia, dan sebagainya. Namun itu semua hanya gincu di bibir belaka.

Hanya ada satu jalan bila melihat keadaan kehidupan di negeri ini gambarannya semacam di atas. Mari kita berdoa. Selamatkan jiwa dan bangsa kami, ya Allah, dari keterpurukan yang makin dalam dan berkelanjutan. Sadarkanlah, ya Allah, para pemimpin kami akan amanat yang mereka emban. Dan jadikanlah kami bangsa yang mempunyai rasa tanggung jawab akan tugas suci yang engkau bebankan kepada kami. Selamatkan kami, selamatkan jiwa kami, dan selamatkan bangsa kami, ya Allah, dalam menempuh masa depan kami, dalam rangka kami mengenang dua pertiga abad kemerdekaan kami. Amin.***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles