A I R

22/09/2011 0 Comments

Indonesia, yang menurut sejumlah pakar merupakan satu dari dua negara yang paling membludag ketersediaan air tawarnya di dunia, jadi seperti tak mensyukuri keberuntungannya. Krisis menerpa hampir di seluruh wilayah di negeri ini, kita semua warga negeri ini merasakan bila musim hujan dimana-mana semarak kebanjiran dan di musim kemarau kekeringan.

Air memang tidak menghilang seperti di Gurun Sahara. Hanya, yang layak dipakai mandi atau jadi sumber untuk minum semakin sulit didapat karena sungai dan air tanah semakin tercemar berbagai limbah-limbah pabrik dan rumah tangga.

Soalnya, sungai dan saluran air dijadikan tempat sampah umum, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan kabupaten/kota sangat lelet membangun jaringan drainase. Sementara  jumlah penduduk semakin bertambah, kesadaran masyarakat untuk memelihara sarana fasilitas publik belum sadar betul membuang sampah seenaknya membikin drainase tersumbat tumpukan sampah. Bila bencana datang seperti banjir, atau kekeringan masyarakat terkena dampaknya sendiri.

Akibatnya, kerugian masyarakat dari kelalaian pemerintah mengelola air bersih semakin lama semakin besar. Penduduk yang tak tersambung jaringan pipa air ledeng tak punya pilihan selain mengambil air tanah, atau membeli ke perusahaan penyedia air minum komersial. Ini mengakibatkan permukaan tanah terus menerun dan biaya pengadaan air terus meningkat.

Biaya mahal pengadaan air ini tak merata diderita masyarakat. Mereka yang miskin, yang umumnya tak tersambung pipa air ledeng, membayar paling sedikit lima kali lipat lebih mahal ketimbang penduduk kaya di rumah mewah. Maklum kaum miskin, terpaksa membeli air isi ulang  yang harganya Rp.3.000 per galon, padahal tarif air ledeng untuk volume yang sama tak sampai Rp.15.

Mahalnya air bersih bagi orang miskin ini menyebabkan mereka terpaksa menggunakan air kotor yang ada untuk keperluan sehari-hari, dan akibatnya mereka mudah terkena berbagai penyakit, seperti diare terutama kalangan anak balita (dibawah lima tahun).

Kesengsaraan ini sebenarnya tak akan terjadi jika pemerintah serius membangun sarana pengadaan air bersih bagi warganya, yang saat ini baru menjangkau seperlima penduduk di negari ini. Biayanya tak akan membikin pemerintah bangkrut. Soalnya, teknologi termahal saat ini, pengadaan air tawar  dari laut, hanya sekitar Rp.4.500,-per meter kubik alias Rp.17 pergalon.

Dalam masalah air, benarkah pemerintah pro rakyat ? Pertanyaan itu perlu kita perhatikan !

Masalah kekurangan air pada musim kemarau ini, banyak lahan pertanian, persawahan dan perlandangan yang kekeringan. Pemerintah tak bisa banyak yang dilakukan, untuk membantu masyarakat pertanian membantu kebutuhan petani dalam pengadaan air.Air bendungan yang dialirkan ke saluran irigasi nyatanya banyak yang tidak memenuhi kebutuhan petani.Karena saling serebot soal air di antara petani pesawahan dan petani ikan untuk kebutuhan air kolam. Itu adalah suatu kenyataan, dalam musim kemarau. Air adalah segalanya, bagi kehidupan.

Upaya pemerintah untuk membantu petani, dengan menyediakan pompa air artesi, tak banyak dilakukan. Bila pompa air artesis diberikan kepada petani, setidaknya satu pompa air artesis bisa membantu pengadaan air untuk lima hektar persawahan. Kenapa hal tersebut tidak dilakukan dengan serius oleh pemerintah ?

Jika pengadaan air bersih ini dilakukan, tingkat kesehatan masyarakat akan meningkat pesat, usia rata-rata usia penduduk Indonesia akan semakin tinggi, dan tingkat produktivitas masyarakat akan meningkat. Air adalah sumber kehidupan.

Maka, jika pemerintah berani mencanangkan pembangunan pembangkit listrik 10 ribu megawatt, mengapa tak berani menyatakan pembangunan sarana air bersih 10 juta meter kubik sehari ? Mudah-mudahan pemerintah akan memperhatikan bahwa masyarakat membutuhkan air bersih, salah satu bukti bahwa pemerintah kita pro rakyat.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply