Jika Jabar Ingin Kategori Aman Ketersediaan Pangan

30/09/2011 1 Comment
Komisi B DPRD Jabar Desak Pemprov Realisasikan Bendung Matenggeng

Akibat tata kelola pemanfaatan aliran sungai Citanduy belum optimal, sungai ini akan sangat berkurang debit airnya dikala musim kemarau. Saat musim hujan debit air terbuang percuma ke laut. (Foto diambil di kawasan aliran sungai Citanduy Kota Banjar). Foto : Deni Supendi/HR.

Ciamis, (harapanrakyat.com),- Pengelolaan sungai Citanduy untuk pengairan lahan pertanian dinilai belum optimal. Hal itu disebabkan masih kurangnya bendungan di beberapa titik dan belum dibangunnya waduk yang berfungsi sebagai penyimpan air. Akibatnya, di saat musim kemarau melanda, areal pesawahan di wilayah Lakbok Selatan (Lakbok, Purwodadi, Mangunjaya dan Padaherang) banyak mengalami gagal panen akibat kurangnya ketersediaan air.

Anggota Komisi B (yang membidangi pertanian) DPRD Provinsi Jawa Barat, H. E. Kunsadi, SH, mengatakan, saat musim kemarau sedikitnya 90 % areal pesawahan di wilayah Lakbok Selatan mengalami gagal panen.

Hal itu disebabkan dari minimnya pasokan air dari Bendungan Manganti yang mengalir ke areal pesawahan di wilayah tersebut.

“Ketika saya cek ke empat kecamatan, ternyata Bendungan Manganti di saat kemarau hanya mampu mengairi sekitar 10 % areal pertanian. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan, karena wilayah Lakbok Selatan merupakan lumbung padi terbesar di Kabupaten Ciamis, “ jelasnya, kepada HR, ketika dihubungi di rumahnya, pekan lalu.

Menurut Kusnadi, saat ini air yang mengalir di sungai Citanduy banyak yang tidak termanfaatkan untuk lahan pertanian, sehingga banyak jutaan kubik air yang terbuang percuma ke laut.

“Kalau pengelolaan Sungai Citanduy bisa dikelola dengan baik, juga dengan menambah bendungan di beberapa titik dan membangun waduk, saya rasa di saat kemarau panjang pun ketersediaan air untuk areal pertanian akan terjaga. Karena ketersedian air dari sungai ini sangat besar,” ujar politisi senior Partai Golkar ini.

Untuk menjaga ketersedian air untuk lahan pertanian, lanjut Kusnadi, solusinya harus segera membangun bendung di daerah Matenggeng dan menambah 5 waduk di beberapa titik yang berdekatan dengan areal pertanian.

“Kita dari Komisi B sudah menekankan ke Pemprov Jabar agar segera mengajukan percepatan pembangunan bendung Matenggeng di daerah perbatasan Jawa Barat- Jawa Tengah ke Kementrian PU. Hal itu untuk memecahkan masalah soal kekurangan air pertanian di kawasan Langensari Kota Banjar dan Lakbok Selatan, “ tandasnya.

Percepatan pembangunan bendung Matenggeng, kata Kusnadi, tentunya untuk mendukung program pertanian Pemprov Jabar sebagai provinsi yang berkategori aman ketersedian pangan.

“Jika program pertanian di Jawa Barat ingin maju, ya seluruh fasilitas infrastruktur pengairannya harus mendukung. Sebab, hanya omong kosong apabila program peningkatan produksi pertanian akan berhasil, jika tidak dibarengi dengan sarana pendukung pengairan yang memadai,“ ujarnya.

Kusnadi pun menyatakan, kondisi kekurangan air untuk areal pertanian di wilayah Lakbok Selatan akan diperparah lagi apabila instalasi milik PDAM sudah berjalan.

“Karena intstalasi PDAM yang dibangun di Padaherang mengambil airnya dari Bendung Manganti. Makanya, apabila tidak mau terjadi krisis air untuk pertanian di wilayah Lakbok Selatan, solusinya harus segera mambangun Bendung Matenggeng dan penambahan waduk di beberapa titik di kawasan pertanian, “ paparnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Mitra Cai Lakbok Selatan, Ayo, mengatakan, meski di musim penghujan pun,  Bendung Manganti hanya mampu mengairi areal pesawahan seluas 4020 hektar yang tersebar di wilayah Lakbok Selatan. Sementara jumlah lahan pesawahan di Lakbok Selatan mencapai 6000 hektar. Karena dalam beberapa tahun terakhir ada areal pesawahan baru.

“Dalam kondisi musim tanam pun, ketersediaan air dari Bendungan Manganti  masih kurang mencukupi, karena melebihi daya tampung yang dimiliki Bendung Manganti,” katanya, kepada HR, Senin( 26/09).

Menurut Ayo, debit air di Bendung Manganti per detiknya hanya 6 m3. Sementara yang harus dibutuhkan sekarang itu per detiknya 7,5 m3. Berarti kurang 1,5 m3.

“Rumusnya, kalau dalam satu hektar sawah itu membutuhkan 1,5 liter air per detiknya. Sementara untuk 1000 hektar dibutuhkan 1,5 m3 per detik. Dengan begitu, jika dihitung untuk 6000 hektar, berarti membutuhkan 7,5 m3 per detiknya, “jelasnya.

Belum lagi, lanjut Ayo, masalah infrastruktur irigasi yang sudah rusak, serta terjadinya pendangkalan saluran air karena jarangnya dilakukan pengerukan. Akibatnya pasokan tidak sampai ke wilayah paling ujung, seperti ke Kec. Padaherang.

“Kerusakan saluran air justru kebanyakan terjadi di sekitar hulu, atau di  km 3 dari Bendung Manganti atau wilayah HM 1 sampai HM 30, letaknya sekitar Manganti hingga Bantarlowa Mangunjaya,” tambahnya.

Meski pun sudah dilakukan peninggian irigasi 500 cm di wilayah itu, kata Ayo, namun ia meyakini masih belum bisa menjamin volume air akan stabil hingga area pesawahan paling ujung. (Bgj/Amlus)

About author

Related articles

1 Comment

  1. dede anwar November 26, at 13:07

    Pemangunan Waduk ataupun bendungan sealayaknya diikuti dengan pembangunan atau penanaman pohon didaerah hulu sehingga ketersediaan atau debit air bisa stabil.. jangan untuk PROYEK aja coba pembangunan itu berkelanjutan padahal daerah hulu jika di lakukan reboisasi dengan tanaman unggul seperti perkebunan pala salah satu contohnya , trimakasih

    Reply

Leave a Reply