Pasar Batulawang Terus Didera Sepi

15/09/2011 Berita Banjar
Pasar Batulawang Terus Didera Sepi

Penyebab menurunnya aktifitas perekonomian di Pasar Batulawang adalah kurangnya fasilitas sarana dan prasarana pendukung pasar, sehingga para pedagang harus bongkar, pasang dan angkut barang dagangan. Foto : Deni Supendi/HR.

Perencanaan kurang matang & hanya kejar anggaran proyek menyeruak

Deni Supendi

Sedikitnya 7 pedagang di Pasar Batulawang, Desa Batulawang, Kec. Pataruman masih tetap bertahan. Meski pasar tradisional tersebut terus mengalami sepi, bahkan sudah lebih dari satu tahun, keberadaannya seolah tanpa aktifitas perkonomian yang berarti.

Kondisi itu memunculkan sejumlah pertanyaan bagi berbagai pihak, kenapa aset pemerintah yang dibangun dengan biaya besar itu, seolah dibiarkan terbengkalai dan belum memberikan pengaruh yang berarti bagi kehidupan ekonomi warga.

Dari jumlah dua puluh empat los/ kios, yang masih bertahan hanya sekitar 4 sampai 7 pedagang saja. Para pedagang tersebut mengandalkan Hari Selasa dan Sabtu untuk menjual dagangan dan berharap mendapatlan tambahan penghasilan.

Tidak hanya itu, berbagai upaya juga sudah dilakukan oleh pemerintah Desa Batulawang dan Pemerintah Kota Banjar, untuk menghidupkan pasar. Salahsatunya dengan menggaet pengusaha Toserba Pajajaran, untuk menyuplai kebutuhan masyarakat di wilayah itu.

Sekretaris Desa Batulawang, Syarif, ketika ditemui HR, Senin (12/9), mengatakan, bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai upaya agar aktifitas di pasar Batulawang dapat hidup. Namun, Syarif menyayangkan upaya itu tidak membuahkan hasil.

Ketika ditanya mengenai penyebab matinya aktifitas perekonomian di pasar Batulawang, Syarif menjelaskan, bahwa yang menyebabkannya adalah kurangnya fasilitas sarana dan prasarana pendukung pasar.

Selain itu, harga-harga kebutuhan pokok yang dipatok para pedagang tidak jauh berbeda dengan harga di warung.

“Ini yang mungkin menyebabkan warga tidak mau berbelanja di pasar Batulawang. Dan bisa jadi kurangnya pembeli/ konsumen tersebut berimbas terhadap minat pedagang untuk berjualan di pasar,” tukasnya.

Meski kondisinya begitu, belum ada upaya nyata lainnya yang bisa menghidupkan aktifitas pasar Batulawang. Akibatnya, aset bangunan bernilai ratusan juta tersebut seolah terbengkalai. Belum lagi, target menghidupkan perekonomian dan perdagangan di wilayah sekitar pasar belum juga tercapai hingga saat ini.

Di tempat terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar, Heri Safari, Selasa (13/9), mengutarakan, bahwa ada suatu hal yang perlu diluruskan di balik pembangunan pasar itu.

Menurut Heri, yang perlu diluruskan adalah soal kordinasi birokrasi antar personal yang terlibat dalam perencanaan pembangunan. Kedua, niatan awal pembangunan, tidak hanya untuk mendapatkan anggaran proyek, melainkan betul-betul untuk membangun dan mensejahterakan masyarakatnya.

Selain itu, upaya lainnya adalah mematangkan perencanaan dengan menganalisis serta menginventarisir segala sesuatu yang beruhubungan dengan sebelum pembangunan dan sesudah pembangunan pasar usai, baik dari segi positif ataupun negatif.

Heri mengaku, dari awalnya, pembangunan dan pengembangan pasar Batulawang memang kurang matang. Selain itu, dalam perencanaannya, Heri juga tidak pernah dilibatkan, kecuali setelah Pasar Batulawang didera masalah.

Untuk itu, Heri menegaskan, salah satu solusi yang bisa mengembalikan kehidupan dan akitifitas perekonomian di pasar adalah dengan melakukan promosi secara besar-besaran. Atau dengan menggelar berbagai acara, seperti pasara malam dan keramaian lainnya.

“Meski biaya untuk promosi yang harus dikeluarkan bakal membengkak,” katanya. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles