“Setelah-Lebaran Harusnya Siiih”

10/09/2011 0 Comments

Alhamdulillah, perjuangan umat Islam yang sesungguhnya adalah setelah lebaran. Setelah sebulan beribadah di bulan Ramadhan, dampaknya harus tercermin dalam sebelas bulan yang akan datang. Ungkapan seorang khatib setelah shalat Idul Fitri.

Ungkapan tersebut sederhana, tetapi perlu menjadi bahan refleksi. Pesan utamanya, ibadah kita (puasa, tarawih, tadarus, dan itikaf) tak akan berarti jika hanya menjadi seremoni keagamaan saat Ramadhan. Seperti kata Rasul, banyak orang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga. Akankah kita termasuk golongan tersebut?

Setelah Lebaran, ibadah puasa sejatinya bermakna dalam konteks kebangsaan dan kemanusian. Secara khusus, puasa menjadi amal yang bisa membangun kesadaran anti korupsi karena di dalam puasa tersimpan kesadaran tentang paham yang mempraktekan kesederhanaan (Askestime) dan kepedulian terhadap orang lain.

Maraknya korupsi di negeri ini tak lain karena hampir semua orang berlomba-lomba  memberhalakan harta dan kekuasaan sehingga kekuatan hidup yang melekat pada kebangsaan  dan kemanusiannya tumpul. Secara kasatmata, kita menyaksikan elite di Republik ini mengalami krisis askestisme dan kepedulian kepada rakyat kecil. Dalam konteks pemberantasan korupsi, selain memerlukan KPK, kita juga memerlukan kesadaran internal setiap warga negara. Kesadaran menahan diri dari godaan harta dan kekuasaan yang didapat dari korupsi.

KH. Hasyim Asy’ari mengingatkan kita semua, jika kita benar-benar umat Rasulullah SAW, tak sepantasnya kita makan dari harta yang haram (hasil korupsi). Andai puasa Ramadhan dapat membangun habitus (merupakan hasil pembelajaran lewat pengalaman, dan pendidikan masyarakat dalam arti yang luas) anti korupsi, kita mempunyai harapan untuk mewujudkan negeri yang makmur dan secara pelan-pelan dapat mengentaskan rakyat miskin.

Soal lain adalah mengenai relasi sosial. Kecurigaan dan kebencian terhadap golongan lain masih masif (sangat besar). Angka kekerasan atas nama agama justru setiap tahun meningkat. Merujuk monitoring Moderate Muslim Society, kalang yang paling sering menjadi korban kekerasan adalah Ahmadiyah.

Ramadhan sejatinya dapat meredam setiap umat agar tidak menggunakan egoisme dan fanatisme keagamaan untuk tindak kejahatan dan intoleransi. Puasa telah melatih diri setiap muslim agar menahan diri dari amarah. Sebab itu, puasa semestinya dapat mendorong tumbuhnya gerakan anti kekerasan (ahimsa). Rasulullah SAW bersabda, ”Seorang muslim yang kuat bukan karena ototnya, melainkan karena ia dapat menahan amarah“.

Sangat mulia jika setiap warga mampu mengukuhkan “gotong royong“ setelah Lebaran. Jika itu terwujud, ke-Islaman kita dapat memperkuat ke-Indonesian dan kemanusian. Maka Idul Fitri 1432 H ini sungguh kesempatan yang luar biasa bagi kaum Muslim dan anak bangsa Indonesia. Kaum Muslim Indonesia, seperti diteladankan para ulama yang terlibat dalam perjuangan dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, dapat kembali pada fitrahnya ; menjadi jalan-jalan mengalirnya berkah Allah SWT kepada seluruh bangsa Indonesia. Selamat kembali ke Fitrah.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!