“Ssst Ada Perempuan, Ini Untuk Laki-Laki“

15/09/2011 0 Comments

Lebaran 1432 H, aku mendapat hadiah tiket pesawat Jakarta-Bali untuk pergi dan pulang. Tidak hanya itu, juga diberi I kamar hotel berkelas dan uang saku untuk satu minggu. Hadiah itu datang seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri, dari seorang sahabat karib dan bisa aku pakai setelah lebaran hari keempat.

Tapi akhirnya liburan ke Bali, gagal karena anak, menantu, dan cucu ingin ikut. Yang berakibat ongkos dan biaya bertambah. Keputusannya gagal pergi berlibur berdua bersama istri di Pulau Dewata itu, untuk menghibur diri keluar kebijakan untuk bersilaturahmi kepada keluarga di Bandung bersama keluarga sampai dua mobil beriringan.

Agar tiket pesawat dan fasilitas hotel di Bali tidak hangus, dengan menebalkan muka aku menelpon sahabatku yang baik itu. Aku bilang tak jadi ke Bali karena ada urusan keluarga yang mendadak ke Bandung, ini bagaimana tiket pesawat, fasilitas hotel, dan uang sangunya apakah bisa dikembalikan lagi sama anda sahabatku.

Jawaban via telepon dari sahabatku di Jakarta, itu urusan kamu yang penting dia sudah memberikan pada aku dengan ikhlas. Begitu ucap sahabatku, hanya kamu tak akan melihat pipi, susu, dan paha turis bule yang indah terlihat oleh mata. Sambil tertawa sahabatku itu, tidak hanya bule sekarang ini yang lebih hot adalah turis lokal yang ikut-ikutan seperti bule bahkan menemani si bule, katanya sambil tertawa lagi. Tentu saja aku pun ikut tertawa, itu nasib yang ditimpahkan Allah swt agar mataku bersih, timpalku menjawab gurauan sahabatku yang baik. Temanku menjawab lagi Subhhanallah Maha Suci Allah. Sudah berikan saja pada orang lain yang memerlukannya, kata sahabatku.

Keputusan ke Bandung sudah final, aku dan keluarga Sabtu (3/11) berangkat dalam keadaan arus balik yang padat. Jalan untuk ke Bandung di pertigaan Sindangkasih Cikokeng Ciamis. Ada rambu-rambu lalu-lintas yang menyebutkan lewat jalur Malangbong macet total, di arahkan lewat Garut yang keadaan lalu-lintas padat merayap. Terpaksa aku dan keluarga mengambil jurusan Garut, diperjalanan aku menelpon teman-temanku di Bandung mengabarkan aku ingin bersiliraturahim dengan mereka setelah bertemu keluarga, Alhamdulillah teman-teman di Bandung menawarkan aku untuk tidur di Lembang mereka menyediakan sebuah villa di Villa Putih di jalan raya Tangkuban Perahu gratis lagi untuk tiga malam. Subhannallah Maha Suci Allah, begitu baik Engkau kepadaku.

Berangkat dari Banjar pkl. 09 sampai di Lembang pkl 18.00. Beberapa temanku sudah menunggu setelah aku istirahat setelah sholat Isya. Beberapa teman dari Bandung pun datang untuk bersilaturahmi dan ngobrol sampai larut malam untuk kangen-kangenan. Minggu pagi, aku jalan-jalan untuk menghirup udara pagi yang segar di daerah kaki Gunung Tangkuban Perahu.

Sungguh keadaan yang menyenangkan, aku mencoba keluar dari areal villa putih, dibelakangnya kira-kira berjarak 200 meter agak ke atas ada beberapa rumah penduduk. Salah satu bangunan disitu nampak asri meskipun sederhana bersih dekat kebun sayuran, aku mencoba menghampirinya. Senyum mereka begitu lepas dari seorang pak tua yang santun, tawa ceria anak-anak kecil pun tetap terdengar mereka sedang bermain di kebun sayuran.

Aku mengucapkan Assalamualaikum, Abah ada tamu ucap seorang lelaki setengah baya lewat kesitu itu sebutan pak tua oleh warga sekitar. Abah pun membalas wasalamualiqum, sambutan berupa pelukan dan dibarengi ucapan silahkan masuk (mangga kalebeut-bhs Sunda) terdengar berulang-ulang seolah-olah aku kerabat dekatnya yang selalu dinanti bertandang. Sungguh…aku jadi betul-betul menyadari memang benar bahwa kebahagiaan tak selalu diukur dengan materi. Padahal kenal pun belum, aku ingin tahu soalnya rumah itu sederhana tapi asri. Dan penghuninya juga menampakan orang soleh.

Sekilas aku dengar Abah memperkenalkan aku kepada keluarganya itu sebelum akhirnya menarik tanganku menemui seorang wanita tua yang duduk bersandar di sudut ruangan. Wanita itu segera tersenyum menyadari akan keberadaan aku. Aku berpikir ini pasti istrinya Abah, dengan sebutan ambu, kulitnya kuning wajah bersih usianya 75 tahun dan abah 82 tahun. Begitu akunya.

Dan Ya Allah…., ternyata beliau (ambu) buta….. Pantas saja beliau tidak berdiri, tetap duduk bersandar di sudut ruangan. Dia pasti di masa mudanya cantik, dari wajahnya terlihat seolah tak pernah ada beban atau masalah apa pun dalam hidupnya. Beliau betel-betul seperti bayi. Aku diam dihadapnya, tak tahu harus berbuat apa, hingga takala aku lihat abah duduk dan mencium keningnya, akupun hanya mengikuti saja dari belakang. Dan sambil ku pegang tangannya, ternyata ambu menyebut namaku. Akupun kaget kok dia tahu nama dari siapa?

Dia balas memegang erat tanganku, lama sekali hingga kurasa dingin tanganya menjalari tanganku. Lalu dia meraba-raba wajahku dengan kedua tangannya. Mungkin untuk mempermudah dirinya membayangkan rupaku. Kemudian diletakan tangan kananya di dadaku, dan lalu dia mendoakanku. Seolah saat itu tak ada yang lebih penting baginya kecuali aku.

Lelaki asing yang baru dikenalnya beberapa menit lalu. Ia masih saja berdoa dengan satu kalimat sederhana. Ya, ia berdoa dengan satu kalimat saja. Satu kalimat doa yang tak pernah akan aku lupa. Apalagi takala kemudian diiringinya doa tersebut dengan linangan air mata. Sungguh buatku terpena, lemas tak mampu bahkan untuk mengangkat tanganku mengaminkan doanya…

“Semoga Allah takkan pernah tega menyengsarakanmu, anakku…” Doa itu terus di ulangnya berkali-kali dengan cucuran air mata… “Ya Allah, sampai kapanpun, dimanapun, jangan pernah tega untuk menyengsarakan hidupnya…” Katanya lagi dengan air mata yang membasahi wajah tuanya. Membuatku tak kuasa membendung luapan air mata dan akupun ikut larut dengan keadaan di sudut ruang rumah asri yang bersih itu.

“Ya Allah.. kabulkan doanya”. Teriakku dalam hati. Jangan pernah tega menyengsarakan aku sekarang, nanti, dan selamanya. Disini dan disana. Di dunia ini ataupun hari setelahnya. Ya Allah, dan maaf aku yang tak mengerti bagaimana berdoa pada-Mu. Maafkan aku yang jika untuk keselamatan diriku sendiri harus ada orang lain yang memohonkan dengan linangan air matanya. Sesuatu yang bahkan tak ku ingat pernahku lakukan “.

“Dan terimakasih Ya Allah… Kau perkenalkan aku pada wanita sholeha ini yang berdoa untukku ribuan kali lebih baik dariku”. Terimakasih pula telah Kau bawa aku ke rumah ini. Rumah yang ku yakini di mata malaikat-malaikat Mu lebih indah dari rumah bermarmer mewah namun penghuninya tak pandai mensyukuri nikmat-Mu. Terimakasih Ya Allah untuk sebuah pelajaran berharga “.

Tak terasa matahari sudah berada di atas kepala, aku bergegas pamit untuk pulang ke Villa Putih takut keluargaku mencari aku, karena tak tahu akan tersesat di rumah mungil dan asri. Tapi setelah aku pamit ada ajakan dari abah, sebaiknya sebelum pergi kita sholat dhuhur berjemaah di mushola yang ada di rumahnya. Aku pun segera khomat untuk terus sholat berjemaah dengan orang tua sholeh dan sholeha. Tak lupa selama aku bertamu disuguhi secangkir teh hangat manis dan panganan kecil yang terasa nikmat.

Ternyata keluarga sudah menanti, karena akan pergi ke sebuah hotel Green Paradis di jalan Tangkuban Perahu kira-kira lima menit perjalanan dari villa putih turun ke arah Lembang. Sebuah hotel baru dua minggu dibuka dengan bangunan megah dengan dipenuhi patung-patung ala romawi kuno, disitu bisa mandi air panas. Karena tidak jadi ke Ciater.

Setelah itu baru bersiraturrahmi ke keluargaku di Bandung. Bagaimana nasib dari dua tiket pesawat ke Bali dan fasilitas hotal untuk sepekan. Ceritanya begini, ditempat keluargaku itu tanpa disengaja aku ngobrol dengan saudara sepupuku, aku berbicara dengan suami saudara sepupuku. Setelah ngalor-ngidul ngobrol suami saudara sepupuku berbicara padaku bahwa mereka besok akan ke Jakarta dan akan terus ke Bali untuk honimun karena baru tiga bulan lalu menikah. Suami saudaraku itu jebolan ITB orang Batak dan bekerja di Brunai Darussalam di perminyakan dan istrinya bekerja di perhotelan disana.

Kataku kebetulan, sini mendekat ssst ada perempuan ini untuk laki-laki. Kataku, diapun mematuhi perintahku. Kamu sudah dapat tiket pesawat apa belum mau ke Bali, besok di Jakarta baru akan awak beli maklumlah orang Batak. Jangan beli aku punya dua tiket pesawat ke Bali dan fasilitas menginap sepekan. Bah macam apa pula abang ini, dikira bercanda. Aah kau Batak macam apa pula kau tak percaya sama aku baah, ini apa aku lihatkan dua tikat pesawat dan fasilitas menginap selama sepekan. Benar juga rupanya Bang, tapi kamu jaga mata mu di Bali. Memang kenapa Bang? Kau jangan sakiti hati adikku istrimu.

Matamu jangan sibuk melihat pipi, susu, paha bule dan non bule baik lokal sekalipun bergelimang di pantai Sanur. Waah macam apa pula Abang ini, engga dong Bang aku dapatkan istriku dengan susah payah perjuangannya. Oke kalau begitu, ini aku berikan tiket ini dan fasilitasnya, ikhlas, terimakasih Bang. Bila Abang beri aku, aku juga akan kasih sama Abang biar sama-sama enak soalnya aku untuk berlibur ke Bali ini diberi biaya dari perusahaanku di Brunai. Macam apa pula aku dapat gratis dari Abang, ini aku kasih abang $.700 USD, kalau Abang menerima kekecilan Abang juga harus ikhlas ucapnya.

Alhamdulillah ucapku dalam hati, ”Benar doa Ambu,” Semoga Allah takkan pernah tega menyengsarakanmu “Betul rupanya selama tiga hari di Lembang dan tak terlewatan belanja dan makan di sana, malah pulang dapat uang lebih. Makanya aku berdoa untuk semuanya.” Semoga Allah takkan pernah tega menyengsarakan kita semua. Amien ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply