Akibat Paceklik Modal, Kue Noga Rita Kehilangan Pesanan

20/10/2011 0 Comments

Kue noga Cina yang telah dikemas siap dikirim ke sejumlah toko kue di Kota Banjar. Meski pangsa pasarnya sudah jelas, namun masalah permodalan menjadi kendala utama untuk pengembangan pemasaran. Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Akibat terkendala masalah permodalan, usaha home industry yang memproduksi makanan olahan jenis kue noga Cina yang dijalani Rita (46), warga Lingkungan Banjarkolot, Kelurahan Banjar, Kota Banjar, maka permintaan pesanan dari dalam dan luar kota tidak dapat terpenuhi.

Selama ini, dalam memasarkan kue hasil produksinya Rita baru bisa memenuhi permintaan dari beberapa toko saja, dan menjual secara keliling dari rumah ke rumah. Sedangkan, permintaan yang jumlahnya banyak tidak dapat terlayani.

Bahkan, akibat terlalu lama tidak bisa memenuhi permintaan pasar, salah satu toko kue yang ada di Banjar membatalkan pemesanannya. Hal itu tentu saja membuat Rita merasa kehilangan satu peluang untuk memasarkan kue produksinya.

“Kalau masalah pemasaran saya tidak menemui kesulitan, karena sudah banyak permintaan dari toko-toko kue, baik yang ada di Banjar, Banjarsari, Ciamis, bahkan permintaan dari Hotel Pasific di Pangandaran, sebab waktu itu noga Cina yang saya buat ini pernah dibeli oleh pemilik hotel tersebut untuk dijual di hotelnya, dan kemarin-kemarin minta dikirim lagi,” jelasnya, Sabtu (15/10).

Lebih lanjut Rita menuturkan, selama ini modal yang digunakan dalam usahanya sangat terbatas, sehingga tidak mungkin bisa memenuhi semua permintaan konsumennya. Sedangkan, hasil dari jualan pun tidak mampu dijadikan sebagai tambahan modal untuk usahanya tersebut.

Pasalnya, biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya hanya mengandalkan dari penghasilan jualan noga. Selain itu, modal usaha yang didapat pun hasil pinjaman dari beberapa teman. Bahkan tidak jarang Rita pinjam uang untuk modal ke Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa) yang pembayarannya dilakukan mingguan.

Dia mengakui, pernah mencoba mengajukan pinjaman permodalan ke kelurahan, namun hal itu tidak membuahkan hasil. Sementara, jika mengajukan pinjaman permodalan ke pihak perbankan, diakuinya tidak memungkinkan, karena Rita tidak mempunyai jaminan apa pun.

“Suami kerjanya serabutan, penghasilannya tidak bisa diandalkan untuk memenuhi biaya makan dan kebutuhan sekolah kedua anak saya. Jadi penghasilan dari usaha ini digunakan untuk makan sehari-hari, bekal dan ongkos anak ke sekolah, serta untuk bayar rumah kontrakan,” tutur Rita, yang mengaku meski tinggal di rumah kontrakan, tapi dia dan suaminya merupakan penduduk asli warga Banjar.

Rita mengaku bingung bagaimana caranya agar usaha yang dijalaninya bisa berkembang. Karena, meski pangsa pasar sudah ada, namun jika modal tidak ada tetap saja usahanya tidak akan bisa berkembang.

Selain memproduksi noga Cina, dia juga memproduksi jenis kue lainnya, seperti kue aci, nastar, kue salju, brownis kukus. Tapi, yang jadi andalannya adalah kue noga Cina, sedangkan pembuatan jenis kue lainnya biasanya dilakukan menjelang Idul Fitri.

Kemudian, kendala lain yang dihadapinya yaitu mengenai legalitas produksi, karena usahanya itu belum dilengkapi oleh nomor PIRT dari Dinas Kesehatan dan label halal yang dicantumkan pada kemasan.

“Ya memang belum punya, lantaran saya tidak tahu harus bagaimana caranya jika ingin dapat nomor PIRT dan label halal itu,” ujarnya.

\Rita menambahkan, mengenai harga, satu bungkus noga Cina isi 20 biji dijual seharga Rp.10.000, dan isi 10 biji dijual seharga Rp.5.000. Karena Rita selalu mengutamakan rasa, sehingga konsumen pun menyukai rasa khas dari noga Cina buatannya. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply