“G U R U“

14/10/2011 0 Comments

Kejadian yang memilukan telah menimpa seorang guru honer SD Negeri Regol XIII atau SDN Kiansantang di Garut Jawa Barat, namanya Vini Noviani (33) tengah berperkara kasus dituding melakukan penganiayaan terhadap pengusaha properti H. Ee Syamsudin (54) lelaki berbadan kekar. Ceritanya sih, ibu guru itu menunggak cicilan rumah. Rupanya ibu Vini belum ada duit untuk mencicil rumahnya. Terjadilah keributan Vini didorong sampai jatuh, lalu membalas melemparkan pasir mendarat di wajah Pak H. Ee Syamsudin. Itulah yang disebut penganiayaan, dan ibu Vini sampai mendekam di Lembaga Pemasyarakat (Lapas) kelas IIB Garut. Kejadian ini jadi heboh ke mana-mana dan mengundang simpati masyarakat, rekan guru dan anak didik, bahkan Bupati Garut dan Gubernur Prov. Jabar juga ikut bersimpati.

Setelah menjadi heboh H. Ee Syamsudin mencabut perkaranya, dan Pengadilan Negeri Garut yang menyidangkan kasus Vini dalam persidangan kedua. Vini jadi tahanan kota tidak mendekam di lapas. Kejadian ini sungguh menyebalkan dan mengundang masyarakat tersenyum sinis terhadap lembaga hukum di negeri ini.

Bercerita seorang guru, besar andilnya di sebuah negara. Pertahanan terakhir kokoh berdirinya suatu negara, sesungguhnya berada di tangan guru. Karena tak akan maju suatu negara jika tak punya sumber daya manusia (SDM) yang andal. SDM yang andal ada karena ada guru, ada polisi, ada pengusaha, ada jaksa, ada hakim, dan ada bupati maupun gubernur dll. Karena jasa guru, yaakan.

Bila kita mengingat lagi sejarah tragedi yang melanda Jepang akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki? Hal pertama yang ditanya Kaisar Jepang, adalah masih adakah guru tersisa. Jepang mencoba bangkit dengan menumpukan harapan kepada guru. Hasilnya, Jepang menjadi raksasa industri dunia meski sebelumnya porak-poranda. Bagaimana dengan Indonesia ?

Nasib guru di negeri ini sangat memprihatikan, iyaalah seperti ibu Vini cuma jadi guru honorer dan banyak lagi yang lainnya. Memang tidak gampang menjadi guru PNS di negeri ini, salah satunya seleksi penerimaan guru di sini terkesan sembrono hanya melihat nilai akademisnya. Yang lebih seru bila ingin jadi PNS di mana saja, jangan harap bisa diterima bila tidak ada ikatan maaf yah KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) bawa amplopnya tidur atawa berdiri. Kalau amplopnya tidur jangan harap bisa diterima jadi PNS. Maaf yaa, yang pasti keterima yang bawa amplopnya bisa berdiri, soalnya kenapa kalau amplopnya tidur isinya sedikit, tapi kalau amplopnya berdiri pasti besar isinya. Gitu lhoo !

Padahal seorang yang cerdas secara akademik belum tentu bisa mentransformasikan ilmunya kepada anak didik. Apalagi mereka yang jadi guru PNS karena proses tidak benar. Makanya para guru honorer, amit-amit jangan mau bernasib seperti ibu Vini. Oleh karena itu, jadilah guru yang cerdas akademik dan pintar mentransformasikan ilmunya. Seperti mereka ini lebih mudah dijadikan guru profesional dan menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Setelah itu, sejahterakanlah guru yang benar-benar profesional. Akan tercipta SDM berkualitas tidak pakai KKN segala, untuk itu mari kita posisikan profesi guru yang benar-benar guru. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply