Hutan Jadikan Lumbung Pangan

27/10/2011 0 Comments

Sejak tahun 1998-2010, sektor kehutanan memasok pangan dari areal seluas 16 juta hektar atau 6,3 juta hektar per-tahun. Pola tumpangsari di sela pohon ini mampu menghasilkan 9,4 juta ton pertahun, mulai dari padi, jagung, sampai kedelai.

Apa kata dunia kalau negeri pemilik hutan seluas 136 juta hektar ini masih ada rakyat yang kelaparan atau mendapat jatah beras raskin berkutu dan bau apek?. Rasanya tidak masuk akal kalau memang demikian. Negeri tropis dengan keunggulan komparatif tanaman tumbuh lebih cepat empat kali dibandingkan dengan tanaman di negara sub-tropis ini semestinya mampu menyediakan bahan pangan sesuai kebutuhan 237 juta jiwa rakyat. Namun fokus pembangunan  yang kurang memperhatikan pertanian membuat kita justru harus mengimpor beras. Suatu ironi negeri agraris. Sudah saatnya kita menaruh perhatian serius kepada petani hutan. Mereka juga lumbung pangan Indonesia. Sayang, subsidi pertanian yang dikelola Kementerian Pertanian  selama ini boleh dibilang belum menyentuh petani hutan. Mereka harus membeli sarana produksi pertanian sesuai harga pasar.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencadangkan 200.000 hektar hutan untuk mencetak sawah baru. Langkah ini untuk mendukung target surplus beras dan gula tahun 2014. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menegaskan, hanya akan memberi lahan itu kepada perusahaan-perusahaan milik negara yang serius mengembangkan pertanian pangan.

Dia tidak ingin, pengalaman Proyek Lahan Gambut (PLG) 1juta hektar di Kalimantan Tengah  untuk persawahan yang gagal karena lahan tidak ideal untuk pertanian terulang. Proyek itu kini menjadi kisah kelam karena hutan terlanjur gundul. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya tidak melepas kawasan hutan yang memang dialokasikan untuk menjadi sentra pangan.

Masih ada 35,4 juta hektar lahan tergradasi yang pada bagian yang cocok bisa dipakai untuk pertanian pangan. Produksi pangan juga tetap bisa didapat dari pola tumpangsari dalam hutan tanaman rakyat (HTR), hutan tanaman industri (HTI), dan hutan rakyat. Kemenhut kini mewajibkan investor kehutanan agar turut menanam tanaman pangan di sela konsesi mereka. Masyarakat juga sudah bertani palawija di sela pepohonan mereka sejak lama. Bahkan, ada yang berternak sapi dan kambing untuk menambah penghasilan.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!