“Wereng Makan Kambing & Gelang”

13/10/2011 0 Comments

Memang menjadi petani itu harus siap mental, dan pada umumnya petani sawah begitu mulai menggarap lahan pesawahannya harus siap rugi. Umumnya petani atau buruh tani di negeri ini, mengolah lahan pesawahannya dengan cara konvensional atau tradisional, yang penting bila saat waktu turun ke sawahan pada musim hujan lahan harus digarap. Tidak berani diterlantarkan, tidak punya modal ngutang pun jadi urusan bagaimana nanti.

Informasi yang kita catat, dua sampai lima kali menanam, dan terus gagal panen telah meruntuhkan rasa percaya diri petani di sentra-sentra produksi beras di Jawa. Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas hama wereng batang coklat dalam dua tahun terakhir ini. Upaya itu mulai dari penyemprotan pestisida, mengganti benih varietas unggul, hingga menunda musim tanam satu dua bulan.

Semua anjuran PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) pertanian telah diikuti, hasilnya setali tiga uang. Di sentra yang lain, PPL bahkan sampai tidak berani datang dan memberi saran kepada petani karena putus asa dan hilang akal.

Jadinya petani miskin gelap mata. Mereka sudah tidak mampu berpikir rasional lagi. Langkah-langkah ekstrem memberantas wereng dilakukan, sekalipun tidak lazim dan membahayakan keselamatan jiwa dan lingkungan.

Kabar burung pun berhembus ke sana kemari. Sebagian petani termakan. Begitu ada kabar  wereng bisa mati disemprot autan, obat nyamuk, petani melakukannya. Lain waktu mereka mengusir wereng dengan bahan bakar solar. Segala cara yang dilakukan petani hanya bermuara pada satu keinginan, bagaimana caranya mereka bisa panen.

Wereng itu jahat. Dia datang dan meluluhlantahkan tanaman padi petani saat bulir pada muncul. Pada saat lebih dari 75% biaya produksi petani dikeluarkan. Bagi petani, wereng setara dengan teroris dan koruptor. Binatang kecil itu telah menghancurkan hidup mereka. Mengakibatkan mereka berutang ke sana kemari, menjual harta benda untuk mengulang modal tanam dan kembali mengulang kegagalan.

Di kalangan petani, jamak terdengar istilah wereng “makan” kambing, gelang, dan banyak lagi harta benda lain yang terpaksa dijual untuk modal tanam, lalu habis untuk pesta wereng. Yang membikin hati petani tercabik-cabik, ditengah lelah kalah perang dengan wereng, pemerintah pusat dan daerah seperti tidak peduli. Para pejabat justru sibuk bicara soal surplus produksi beras.

Makin kesal lagi petani, ketika para penjabat itu tidak menjenguk mereka sedang kesusahan, tetapi justru datang ke desa tetangga dan melakukan panen padi di sepetak lahan yang kebetulan tidak terserang wereng. Sementara di sekelilingnya ludes. Petani merasa sendiri.

Sekalipun pemerintah absen saat petani kesusahan, pemerintah tahun 2011 memutuskan mengganti biaya gagal panen Rp.3,7 juta per-hektar. Dana dialokasikan Rp.370 miliar untuk 100 ribu hektar areal tanam padi yang puso. Jangankan tahu prosedur mendapatkannya, informasi soal penggantian biaya gagal panen pun tidak sampai ke telinga petani. Namun, tak ada pilihan. Hidup harus terus berjalan. Kita menyaksikan harga beras terus naik.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!