Dishutbun Agendakan Tanam 5000 Pohon di Bekas Banjir Cihaurbeuti

16/11/2011 0 Comments

Area bekas banjir bandang akan ditanami pohon oleh dishutbun. foto: Doc/HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Dinas Kehutanan dan Perkebunan (dishutbun) Kab. Ciamis berencana menanam 5000 pohon di bekas lokasi banjir bandang Padamulya, Cihaurbeti. Rencana tersebut akan dilakukan pada peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) pada tanggal 28 November 2011.

“Kami akan tanam 5000 pohon di lokasi bekas Banjir, pada peringatan HMPI tahun ini. Adapun Jenis pohon yang akan ditanam diantaranya Albasiah, Suren, Jati dan Mahoni,” ungkap Kepala Dishutbun Kab. Ciamis, Ir. Nurhastuty, kepada HR, Senin, (31/10) di ruang Kerjanya.

Penanaman pohon dalam momentum HMPI tersebut, tambah Nurhastuty, selain sejalan dengan program OBIT (One Billion Indonesian Trees), juga sejalan dengan program rehabilitasi sungai Ciharus pasca Banjir Bandang yang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy.

Nurhastuty mengungkapkan, berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, pada saat Banjir Bandang terjadi, terbukti pohon bisa menahan arus Banjir yang akan menimpa pemukiman penduduk.

“Makanya, gerakan Penanaman 5000 pohon di lokasi Banjir Bandang tersebut, salah satu upaya mensosialisasikan pentingnya menanam pohon. Karena, pohon mempunyai fungsi ekologis tinggi, selain fungsi sosial dan ekonomi,” katanya.

Dia mennambahkan, kegiatan penanam pohon yang dilakukan pihaknya selama ini, semata-mata untuk membangun kesadaran masyarakat, akan pentingnya menjaga ketahanan lingkungan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Galuh (Unigal), Ir. Sudrajat MP, menilai, langkah yang dilakukan Pemerintah, khususnya dalam hal penanaman pohon, sudah tepat.

“Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah upaya yang intensif di kawasan hulu sungai, karena berkaitan dengan upaya pencegahan erosi dan sedimentasi serta fungsi persediaan air,” katanya.

Masih menurut Sudrajat, jika kawasan hulu sungai tersebut terjaga, maka kualitas air akan ikut terjaga. “Rumus sederhananya, leuweungna rusak, caina beak, rakyatna balangsak. Jadi kalau kawasan hulu sungai, pohon dan hutannya tidak terjaga, maka bisa dipastikan berbagai gangguan alam akan terjadi,” pungkasnya. (dk)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!