Hujan Turun, Petani Palawija Olah Tanah

12/11/2011 0 Comments

Para petani palawija di Dusun Karangmukti, Desa/Kec. Langensari, Kota Banjar, serempak memulai mengolah lahan garapannya. Foto: Eva Latifah/HR

Kacang tanah, pilihan utama di awal musim penghujan

 Musim penghujan yang dinanti petani akhirnya datang juga. Petani palawija di Dusun Karangmukti, Desa/Kec. Langensari, Kota Banjar, kini mereka mulai mengolah lahan garapannya. Dan kacang tanah menjadi pilihan utamanya.

Eva Latifah

Siang itu, Sabtu (29/10), sebagian petani yang menggarap lahan milik AURI terlihat sedang menanam benih kacang tanah. Sambil ngahariring lagu-lagu berbahasa Jawa, petani perempuan tampak asyik memasukan satu persatu biji benih kacang tanah pada lubang sedalam 5 centimeter yang dibuat oleh petani lainnya.

Sedangkan, sebagian petani pria tengah sibuk mencangkul dan sebagian lagi membersihkan rumput-rumput liar, serta memanen singkong yang sebelumnya tumbuh di atas lahan garapan mereka.

Eso (41), salah seorang petani mengatakan, ketika musim hujan tiba, para petani penggarap lahan palawija di tempat tersebut selalu kompak dalam melakukan pengolahan lahan, mulai dari babad rumput sampai menanam.

Pada musim hujan pertama seperti saat ini, kata Eso, lahan palawija lebih bagus ditanami jenis tanaman kacang tanah. Selain hasilnya memuaskan, tanaman ini sudah bisa dipanen dalam jangka waktu 65-100 hari.

“Kalau untuk dikonsumsi biasanya dalam jangka waktu 65 hari juga sudah dipanen, sehingga kacang tanah jika direbus akan terasa manis. Tapi kalau untuk dijadikan benih lagi, itu harus dipanen saat tanaman berusia 100 hari,” jelasnya.

Pertumbuhan tanaman kacang tanah dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, ketinggian tempat, penyinaran dan tekstur tanah. Benih yang mereka gunakan berasal dari tanaman sehat, artinya bebas hama dan penyakit, kualitas bijinya baik, serta mempunyai hasil tinggi.

Untuk itu, maka dalam proses pengolahan tanah, terlebih dahulu harus membersihkan lahan. Kemudian, baru dicangkul/dibajak sedalam 20-30 centimeter, lalu membuat petakan dan saluran drainase dengan jarak 3-4 meter, serta bedengan dengan jarak tanam 40×10 centimeter.

“Semuanya kami lakukan secara serempak dan saling membantu satu sama lainnya, jadi bisa cepat beres. Petani di sini mulai mengolah lahan garapannya sejak dua hari lalu, karena kami yakin sekarang sudah masuk musim penghujan,” kata Eso.

Di tempat yang sama, Anah (62), petani lainnya, menuturkan, agar tanaman kacang tanah dapat tumbuh subur, biasanya pupuk yang digunakan adalah urea dan pupuk organik. Untuk pupuk organik diberikan pada saat tanam sebagai penutup lubang tanam.  Sedangkan urea diberikan saat tanaman berumur 30 hari.

“Kalau penyiangan dilakukan minimal dua kali selama pertumbuhan tanaman, yaitu pada waktu tanaman berumur 21 hari dan 40 hari. Untuk pengairannya dilakukan pagi dan sore,” tutur Anah, sambil tangannya sibuk memasukan biji benih kacang tanah ke dalam lubang.

Mengenai pendapatan dari hasil panen kacang tanah, menurut Eso maupun Anah bahwa hasil yang bisa didapat hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja. Kacang tanah biasanya dibeli oleh pedagang bakul yang ada di wilayah Langensari dan Lakbok. Namun, mereka enggan menyebutkan secara rinci berapa penghasilan pastinya dari penjualan tersebut.

Selepas panen kacang tanah, lahan garapan mereka akan diganti dengan tanaman palawija lainnya, seperti jagung, kacang kedelai, dan ubi jalar. Pasalnya, jika ditanami kembali dengan kacang tanah, maka hasil yang diperoleh nantinya menjadi kurang bagus. Hal itu tentu dapat mempengaruhi terhadap harga jual. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!