Kapal Berpenumpang Imigran Arab Tenggelam Di Majingklak

Sejumlah Mayat Imigran korban karamnya kapal di Majingklak

Polisi Akan Telusuri Masuknya Imigran Gelap

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Kapal kayu tangkapan ikan jenis 10-25 gross ton (GT) tenggelam di Perairan Palawangan Pantai Selatan, tepatnya di Desa Majingklak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Selasa (1/11). Diketahui penumpang kapal naas tersebut mengangkut sebanyak 70 imigran gelap yang akan menyebrang dari Cilacap menuju pulau Chrismas, Australia.

Dari informasi yang dihimpun HR, 70 imigran gelap itu tercatat sebagai warga negara tiga negara Arab, Iran, Afghanistan dan Pakistan. Akibat dari peristiwa itu, sedikitnya 7 imigran tewas, terdiri dari lima perempuan dewasa dan dua balita perempuan. Lima dari tujuh imigran tewas diantaranya Fahelel (29), Fariya (3), Sagumel (2), Farung (32), dan Vahdeyeh (12).

Adapun jumlah korban yang bisa diselamatkan hingga pukul 17.00 WIB mencapai 49 orang, termasuk tiga anak buah kapal (ABK). Sedangkan 14 penumpang lainnya dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian petugas SAR gabungan dari TNI, Polri, Polair dan Balawista Pangandaran.

Sementara dari 49 orang yang selamat, sebanyak 12 orang diantaranya dirawat di Puskesmas Pangandaran, 2 orang dirujuk ke RSUD Ciamis. Sedangkan sisanya diamankan di Pos Polair Pangandaran, Markas Pos Angkatan Laut dan Mapolsek Pangandaran.

Selain itu, Pos Polair Pangandaran juga sudah memeriksa 8 imigran berikut 3 ABK, termasuk salah satu diantaranya mengaku betindak sebagai nahkoda kapal.

Ketiga ABK Warga Negara Indonesia (WNI) yang masih diamankan di Pos Polair Pangandaran yakni Nico Demos, (22), Herman, (35), dan Arifin, (33). Selain di Pos Polair, sedikitnya 12 imigran lain juga terlihat diamankan di Markas Pos Angkatan Laut Pangandaran dan sisanya di Mapolsek Pangandaran.

Dari hasil pemeriksaan polisi, dari 56 penumpang yang ditemukan, termasuk 7 orang yang tewas, diketahui 45 orang berasal dari Iran, 5 orang dari Pakistan, 3 orang berasal dari Afganistan dan 3 orang lagi merupakan ABK yang berasal dari Indonesia.  Sementara 14 orang yang dinyatakan hilang belum diketahui kewarganegaraannya.

“Sampai saat ini (pukul 17.00 Wib), jumlah imigran tewas tercatat 7 orang dan imigran yang diselamatkan ada 49 orang. Selain itu, kami juga mengamankan tiga ABK. Sementara 14 imigran lain yang diduga tewas masih dilakukan pencarian di sekitar lokasi,” ujar Anggota Polisi Perairan (Polair) Pangandaran Briptu Erus Ruswa, Selasa (11/1).

Menurut Erus, kapal yang digunakan merupakan kapal kayu penangkap ikan dengan bobot melebihi 10 GT atau sekitar 25 GT. “Karena ditumpangi lebih dari 50 orang, saat diterjang arus kapal tidak kuat sehingga tenggelam. Selain itu kapal juga diduga mengalami bocor. Saat ini posisi kapal tenggelam berada di dasar laut dan akan dilakukan evakuasi ke Pantai Timur Pangandaran,” terangnya.

Kanit Pos Polair Pangandaran, Aiptu Rusli menambahkan, sekalipun belum melihat dokumen para imigran secara lengkap, namun sudah bisa dipastikan imigran asal tiga negara itu merupakan imigran gelap. “Kalau bukan imigran gelap, tidak mungkin mengunakan perahu kayu tangkapan ikan,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang ABK kapal Nico Demos mengaku, dia bersama dua rekannya dibayar Rp 3 juta per orang jika berhasil membawa imigran gelap asal Afghanistan, Iran dan Pakistan dari Cilacap sampai menuju Australia.

“Pesanan membawa kapal imigran ke Australia berasal dari seorang perempuan bernama Asri, yang mengaku orang Cilacap, Jawa Tengah. Kami dibayar Rp3 juta per orang, jika berhasil mengantarkan mereka ke Australia,” katanya.

Nico melanjutkan, dia belum pernah bertemu dengan Asri. Saat mendapat telepon dari Asri, dia langsung datang dari Kupang, NTT. Menurutnya, Asri menelpon dia pada Kamis (27/10). Setelah mendapat telpon, dia bersama rekannya langsung menuju Pangandaran lalu menuju Cilacap, setelah sebelumnya sempat bermalam di wilayah Banjarsari, Ciamis.

“Saat kita sampai di Cilacap, langsung diminta membawa kapal besar dengan tujuan Australia. Namun, sebelum berangkat, datang empat kapal tongkang membawa kawanan turis dengan bahasa berbeda-beda. Keempat kapal kecil itu memindahkan para turis ke dalam kapal besar yang tenggelam,” ungkapnya.

ABK lain, Arifin menceritakan, kapal tenggelam terjadi saat kapal yang berlabuh sekitar 1 jam dari perairan Majingklak, menuju Samudera Indonesia. Tiba-tiba saat melaju sekitar satu jam, bagian bawah kapal mengalami bocor. Melihat keadaan tersebut, haluan kapal segera dirubah, yaitu berbalik arah ke tempat semula berlabuh.

“Setelah saya berkoordinasi dengan ABK lain Herman, arah kapal segera diputar ke arah semula. Namun, belum sampai di darat, kapal keburu tenggelam,” kisahnya.

Menurut Arifin, penyebab kapal bocor diduga akibat kelebihan muatan dan kondisi kapal yang telah tua, saat itu juga gelombang cukup deras. “Saya tidak menghitung berapa jumlah imigran yang kita bawa. Sebelum naik kapal motor, para imigran itu diangkut menggunakan empat perahu kecil semacan skoci,” ujarnya.

Sementara itu sejumlah imigran yang diselamatkan di Pos Polair Pangandaran, beberapa kali terlihat tegang diantara mereka berkomunikasi mengunakan bahasa Timur Tengah. Bahkan, beberapa wartawan yang khendak berkomunikasi pun kesulitan karena kondisi para imigran sedang emosi. Sesekali mereka meminta para juru kamera pergi dengan melontarkan teriakan dalam Bahasa Inggris.

Kapolres Ciamis, AKBP Agus Santoso, mengatakan, saat ini pihaknya sudah berkomunikasi dengan petugas Imigrasi. Pihaknya masih menunggu petugas imigrasi yang datang ke lokasi, selain fokus melakukan penyelamatan korban. “Kondisi kapal yang digunakan selain bukan peruntukanya, kapasitas juga terlalu berlebihan. Kapal itu merupakan kapal kayu tangkapan ikan 10-25 GT. Kita  saat ini masih menahan mereka tersebar di Pos Polair dan Mapolsek Pangandaran,” katanya, kepada HR, Selasa (1/11).

Pihaknya, lanjut Kapolres, masih menyelidiki penyebab kecelakaan akibat bocornya kapal yang membawa imigran gelap tersebut serta masih meminta keterangan ABK kapal untuk mengetahui siapa yang menyuruh dan membiayai untuk membawa imigran gelap  tersebut.

Agus menambahkan pihaknya pun telah melakukan koordinasi dengan Pemkab Ciamis dan masih menuggu koordinasi dengan  International Organisaion Migrasion (IOM) untuk penanganan selanjutnya. (Bgj/es)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply