Mansyur Sempat Berpelukan Sebelum Istrinya Tewas

11/11/2011 0 Comments

Sejumlah Jajaran pejabat dari Pemkab Ciamis meninjau korban tenggelamnya kapal yang memuat imigran dari Arab.

Kisah Korban Kapal Tenggelam di Perairan Majingklak

Sesampai di Bandara di Indonesia dia ditemui seorang warga Indonesia yang menjanjikan bisa membawa keluarganya ke Australia. Setiap orang dari kami dikenakan biaya sebesar 3.000 – 5.000 dolar Amerika. Setelah negosiasi disepakati, kami disediakan bus untuk membawa kami ke salah satu kawasan di Indonesia yang paling dekat dengan Australia yaitu ke sini (perairan Majingklak, Kalipucang). Mustofa, (40) seorang imigran asal Teheran

Subagja Hamara

Mansyur, (46), salah seorang penumpang kapal tenggelam di Perairan Palawangan Pantai Selatan, tepatnya di Desa Majingklak, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Selasa (1/11), tampaknya tak percaya dirinya masih hidup. Dia bersama 70 penumpang kapal lainnya harus merasakan bagaimana terombang ambing di tengah laut ketika kapal yang ditumpanginya akhirnya tenggelam ke dasar laut. Sungguh dramatis. Antara hidup dan mati yang dia pertaruhkan saat itu.

Ketika ditemui HR, Selasa (11/1), di Puskesmas Pangandaran, Mansyur terlihat shok. Dia tak mengucapkan sapatah katapun ketika disapa. Sorot matanya terlihat kosong, meskipun sesekali tangannya bergerak. Dia terus melamun meski suasana di ruangan Puskesmas begitu ramai oleh aktivitas para medis dan pengunjung yang ingin melihat korban kapal tenggelam.

Mansyur merupakan salah satu imigran asal Iran yang selamat dan harus menjalani perawatan. Dari 14 imigran yang sempat dirawat di Puskesmas, dua diantaranya Sayedh, (50) dan Ali (35) akhirnya dirujuk ke RSU Ciamis. Sayedh diketahui mengalami luka-luka serius pada bagian kepala dan Ali mengalami patah tulang pada tangan kirinya.

Sementara Mansyur, merupakan korban yang mengalami luka tidak begitu parah. Ditubuhnya hanya terdapat beberapa luka gores akibat terkena patahan kayu perahu. Menurut salah seorang tenaga medis Puskesmas, kesedihan Mansyur bukan dilatarbelakangi luka yang dialaminya, dia mengaku belum bisa merelakan kepergian istrinya Fahelel, yang tewas dihadapan matanya sendiri.

Salah seorang warga Pangandaran yang fasih bahasa arab dan pernah berkomunikasi dengan Mansyur, menceritakan, hampir mirip dengan cerita Film Titanic, Mansyur dan istrinya, sempat berpelukan saat detik-detik perahu akan tenggelam. Tapi, tiba-tiba perahu terbalik dan tenggelam, keduanya terpisahkan di tengah laut lepas. Tangan Mansyur berhasil meraih salah satu batang kayu yang ada di dekatnya. Sementara istrinya hilang ditelan ayunan gelombang.

“Saya berusaha mencari istri saya ditengah ayunan gelombang,” kata warga Pangandaran itu menirukan perkataan Mansyur,

Tapi, lanjut dia, bertapa kagetnya Mansyur saat menemukan istrinya sudah dalam keadaan terbujur kaku. “ Dia sangat terpukul dengan kematian istrinya,” ujarnya.

Kesedihan dan trauma juga dialami pasangan suami istri Aziz bin Reza (34) dan Razia Karimi (24). Tujuan keduanya datang ke Australia mencari penghidupan baru berakhir tragis di Perairan Majingklak.

“Kita tidak tahu mau bagaimana. Kami sekarang pasrah saja, tidak tahu harus kembali ke negara asal atau seperti apa. Kami akan pasrah saja,” katanya, yang dibantu oleh salah seorang warga Pangandaran untuk menerjemahkan bahasa arab ke bahasa Indonesia, saat HR melakukan wawancara.

Sementara Mustofa, (40) seorang imigran asal Teheran yang datang bersama Ali (24) mengatakan, tujuan perjalanan mereka yaitu Pulau Christmas di Australia. Mereka berharap, di pulau tujuan yang sudah banyak di huni penduduk asal Timur Tengah itu, bisa mendapat kehidupan lebih baik.

“Kami dari Iran ke Indonesia menggunakan pesawat carteran dan singgah di Malasyia. Dari Malasyia, kami menggunakan pesawat Air Asia dan mendarat di Bandara Soekarno Hatta,” ujarnya.

Setelah itu, lanjut dia, sesampai di Bandara di Indonesia dia ditemui seorang warga Indonesia yang menjanjikan bisa membawa keluarganya ke Australia. “Setiap orang dari kami dikenakan biaya sebesar 3.000 – 5.000 dolar Amerika. Setelah negosiasi disepakati, kami disediakan bus untuk membawa kami ke salah satu kawasan di Indonesia yang paling dekat dengan Australia yaitu ke sini (perairan Majingklak, Kalipucang),” jelasnya.

Mustofa menambahkan, dari kawasan itu dia disuruh naik perahu kecil ke menuju kapal yang sudah berada di tengah laut. Mustopa menyebutkan, menurut orang yang mengantar dengan menaiki perahu itu dia bisa sampai di Pulau Christmas, Australia.

“Kami saat itu percaya saja, namun saat satujam perjalanan kami menyadari kapal mulai bermasalah. Kapal, tiba-tiba seperti terhenti dan para ABK, tampak panik,” kisahnya.

Dia menambahkan, setelah kapal terhenti para nahkoda mencoba berbalik arah ke tempat semula berlabuh. Namun, belum sempat sampai ke daratan kapal tiba-tiba miring, kemudian tenggelam.

“Setelah kapal tenggelam, kami terapung dilaut lepas terombang-ambing gelombang sekitar dua jam. Kami selamat setelah menjelang siang, datang perahu nelayan ke arah kapal dan menolong kami semua,” pungkasnya. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply