PAHLAWAN

18/11/2011 Berita Terbaru
PAHLAWAN

Ada sebuah anekdot para pejuang tempo doeloe, ”Kalau mau jadi pahlawan, syaratnya bila musuh di barat, pasukan langsung menyerang musuh agar terjadi kontak fisik. Pejuang yang meninggal di medan operasi pasti disebut pahlawan. Bisa juga disebut pahlawan tak dikenal, kita jumpai di makam-makam pahlawan pasti ada yang tertulis pahlawan tak dikenal. Kalau mau jadi pejuang syaratnya, bila musuh di barat, pasukan pasukan menuju ke timur agar tidak terjadi kontak senjata. Tugasnya, memberikan kabar kepada penduduk untuk siap-siap mengungsi bila ada musuh. Dan bila dalam suatu operasi mendadak berhadapan dengan musuh, cepat-cepat mundur dan di saat musuh lengah baru menyerang dan segera mundur, pasukan semua selamat, nah itu akan disebut pejuang. Taktik itu disebut perang griliya“.

Gelar pahlawan di negeri ini banyak sekali, contoh guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa, TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di luar negeri disebut para pahlawan devisa, dan banyak lagi sebutan pahlawan-pahlawan lainnya. Itu di Indonesia .

Tahun ini, di Provinsi Jawa Barat & Banten, salah seorang pejuang kemerdekaan putra daerah di wilayah ini telah tiga kali diajukan untuk mendapat penghargaan dari Negara. Baru tahun ini diakui sebagai pahlawan, dia Syafrudin Prawiranegara. Riwayat Syafrudin Prawiranegara menjadi bukti betapa sejarah kerap dimanipulasi menurut selera penguasa.

Indonesia sekarang memiliki 126 pahlawan, pada tahun ini 7 pahlawan, salah satunya Syafrudin Prawiranegara dari Prov. Jabar & Banten yang diumumkan Negara pada “Hari Pahlawan 10 November”. Berpuluh tahun pemimpinan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) itu di cap “hitam” oleh rezim masa lalu. Pemberian gelar pahlawan nasional kepada Syafrudin Prawiranegara mudah-mudahan merupakan bagian dari ikhtiar meluruskan sejarah.

Mantan Prersiden Soeharto dan Abdurachman Wahid masih belum lolos untuk menyandang gelar pahlawan nasional. Pertanyaan yang menggelitik saat merayakan Hari Pahlawan 10 November adalah mengapa kita butuh pahlawan? Salah satu jawabannya adalah pahlawan inspirasi bagi kita semua ketika sendi-sendi kehidupan semakin kropos.

Suasana bathin itulah yang dirasakan bersama sejak kita memasuki era Reformasi 1998. Bagi sebagian kita orang, pahlawan kita saat ini para atlet SEA Games yang penyelenggaraannya kini sedang berlangsung. Mereka menyandang beban membangkitkan kembali prestasi olah raga kita yang terpuruk di ajang SEA Games sejak tahun 1999 setahun setelah Reformasi.

Beban para atlet semakin berat karena dana SEA Games dikorupsi sehingga persiapan penyelenggaraan mengundang tanda tanya. Kira-kira apa yang bakal terjadi andai mereka gagal? Kemungkinan besar kita tentu kecewa, dan bukankah kita sudah berulang kali dikecewakan oleh para “pahlawan” selama era Reformasi ?

Kita mengira si A pemimpin yang mengayomi, ternyata ia cuma memperkaya diri. Kita menyangka si B punya nurani, tetapi belakangan ketahuan ia ternyata tak punya hati. Kita mengharapkan kedatangan Satrio Piningit atau Ratu Adil. Namun yang kita sambut hanya pemimpin yang merasa bak raja dengan menggenggam kekuasaan seumur hidup.

Kita menyambut kehadiran Presiden, mentri, gubernur, bupati, wali kota yang istimewa. Kita tak menyadari mereka cuma manusia biasa saja, yang Nampak amat menonjol karena di zaman “duit” yang bicara, engga punya duit mimpi kali yee..

Dan, jika belajar dari Syafrudin Prawiranegara atau para pendiri republik, kita butuh kepemimpinan kharismatis. Sayangnya kharisma merupakan bakat yang hanya dipunyai pemimpin besar macam Martin Luther King, Wiston Churli, Nelson Mandela, Soekarno, Yasir Arafat.

Di negeri ini, pemimpin kharismatik adalah the founding fathers pasca kemerdekaan. Mereka mempunyai Kharisma. Bagaikan sumber air bening yang tak habis-habisnya. Kita butuh kepemimpinan sekarang ini, bukan kepahlawanan. Kita butuh keteladanan, bukan kepahlawanan. Apakah asumsi ini berlebihan? Rasanya tidak karena kita memang tak lagi punya panutan.

Tak ada lagi pemimpin yang bisa dijadikan sebagai panutan untuk hal-hal yang bersifat keseharian. Tak ada pemimpin bergagasan besar yang sanggup melahirkan kebangkitan serta kedaulatan. Kalau anti pahlawan kita rasanya tak akan kekurangan. Mereka ibaratnya mati satu tumbuh seribu dan akan menggiring kita tersesat masuk ke hutan.

Maaf, di negari ini memang nyaris tak ada lagi pahlawan. Kita sangat ngeri atas perlawanan para koruptor yang anti pahlawan perlahan-lahan terbebas dari jerat hukuman. Selama era Reformasi kian terasa negeri ini semakin berantakan. Kenapa kini Ibu Pertiwi membisu ?***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles