Pemuda dan Pahlawan

12/11/2011 0 Comments

Lemahnya kepemimpinan di Indonesia saat ini menjadikan penyebab berbagai krisis kebangsaan dan merosotnya solidaritas. Kepemimpinan demokratis yang memiliki kredibilitas publik, visioner dan cepat merespon berbagai masalah kini dibutuhkan. Selain itu, pemimpin berkarakter juga dibutuhkan untuk menyembuhkan krisis itu.

Rentang sejarah semakin jauh antara momen Kongres Pemuda  II, 28 Oktober 1928, dan hari ini. Sepanjang masa itu banyak peristiwa terjadi di negari ini. Namun ketika penanggalan dalam siklusnya membawa kita kembali pada tanggal bersejarah ini, selalu tergetarlah kita oleh apa yang dikumandangkan oleh para pemuda pada hari itu yakni Sumpah pemuda, yang tanggalnya masih kita ingat dengan baik, tetapi semangatnya masih harus setiap kali kita segarkan kembali.

Dalam sumpah tersebut, para pemuda dan pemudi Indonesia menyatakan bertumpah darah yang satu, yakni tanah Indonesia ; berbangsa yang satu, bangsa Indonesia dan berbahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia. Ketika memperingati Hari Sumpah Pemuda, mari kita segarkan kembali ingatan kita akan ketiga butir sumpah itu di atas dan bersama dengan itu kita juga berintrosepeksi tentang penghayatan kita terhadap tekad yang dikandung oleh sumpah yang bersejarah itu.

Tujuh belas tahun kemudian pemuda Indonesia, mempertahankan tumpah darahnya dari genggaman tangan kolonialis dan imprialisme yang terus ingin menguasai tumpah darah Indonesia. Semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia, bergelora di Surabaya. Arek-arek Surabaya terus berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini. Meletuslah peristiwa 10 November 1945, dengan semboyan “Merdeka atau Mati’ maka lahir Hari Pahlawan dari perjuangan keras Pemuda Indonesia.

Pertama yang segera terbayang, bisa saja bagaimana pemuda pada masa itu, dari berbagai wilayah Nusantara dari berbagai latar belakang budaya dan agama beragam, bertemu untuk membahas tidak saja jati diri entitas komunitas, tetapi juga masa depan bersama.

Masih berapa kuat komitmen kita pada sumpah itu. Pada masa itu, peneguhan akan jati diri masuk akal lebih mengemuka. Namun kini, pemaknaan akan jati diri itulah yang seharusnya lebih menonjol. Dalam arti, hakikat lahir dengan tekad di tanah Indonesia tentulah rasa memiliki dan mencintai, dengan tekad untuk membuatnya tanah yang jaya dan terhormat.

Sementara berbangsa yang satu, jelas mengamanatkan persatuan saudara sebangsa, tanpa diskriminasi karena latar belakang. Kalau dulu pemuda dari berbagai Yong, ditambah pengamat dari pemuda Tionghoa, begitu merasa bersatu, mengapa kini rasa kebangsaan tersebut acapkali kita pertanyakan ? Kita masih sering bertindak tidak mencerminkan persatuan kebangsaan seperti diperlihatkan oleh pemuda angkatan ’28 tersebut.

Dan justru komitmen pada semangat sumpah pemuda 1928 jadi sering kita pertanyakan, tantangan yang dihadapi oleh pemuda Indonesia pada abad ke 21 ini semakin berat. Tantangan bukan saja muncul dari kondisi di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri.

Ketika lapangan pekerjaan yang diburu oleh para pemuda masih sempit, pemuda ditantang untuk tidak lekas patah dan mengambil jalan pintas, tetapi justru bisa menemukan peluang baru, misalnya dengan mengembangkan kewirausahaan.

Tidak kalah mendasar, bagaimana di tengah kehidupan serba materialistis pragmatis sekarang ini para pemuda tetap bisa mengembangkan kepribadian luhur, teguh dalam pendirian dan memegang prinsip “berpikir baik, berkata-kata baik, dan berprilaku baik” demi kemajuan dan kesejahetraan rakyat Indonesia.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!