Penantian Panjang Bagi Zamin dan Kamran

12/11/2011 0 Comments

Zamin saat menunjukkan luka bekas perlakuan kelompok Thaliban di negeri asalnya. Foto: Elis Suherli/HR

Khamran saat tiba di Hotel Larrisa Ciamis. Foto: Eli Suherli/HR

Manusia Perahu Asal Pakistan & Afganistan Yang Terdampar Di Laut Selatan Kab Ciamis Jawa Barat

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Sudah tiga tahun, ribuan warga Afganistan, Pakistan, dan Iran meninggalkan negerinya menunggu visa khusus ke Amerika Serikat dan ke Australia menjadi manusia perahu untuk mencari kehidupan yang aman dan lebih. Tak sedikit yang nekad menjadi imigran gelap/menjadi manusia perahu melintasi benua. Taliban menuduh mereka antek musuh.

***

Kamis malam (3/11) itu Zamin Husaein (26) imigran gelap asal Pakistan dan Kamran Haidar (17) asal Afganistan manusia perahu yang diterjang ombak besar dan membentur karang hingga perahunya hancur bersama rekan-rekan di perairan Palawangan, desa Majingklak, Kec Kalipucang Ciamis selatan di temui HR dan berhasil diwawancarai dengan bahasa Inggris meskipun tidak begitu fasih.

Zamin dan Kamran dua dari ribuan yang mendapatkan tekanan dari kelompok Taliban di negarinya. Zamin mengisahkan awal kepergiannya dari Pakistan karena di negerinya, sedang banyak terjadi konflik. Sehingga nekad meninggalkan negerinya untuk mencari kehidupan yang tenang dan aman pilihan benua Australia.

Alasan Zamin meninggalkan negerinya adanya tekanan paksa harus masuk menjadi kelompok Taliban, dia tidak tertarik untuk menjadi anggota Taliban. Pekerjaannya di Pakistan adalah seorang sopir truk, setelah truknya di bom Taliban dia merasa tidak aman. Untuk itu Zamin meninggalkan negerinya, meskipun dengan perasaan berat dan sedih harus berpisah dengan istri dan dua anak yang paling dicintai. Karena tidak ada pilihan untuk tetap tinggal di Pakistan. Nanti setelah berhasil hidup tanah harapan benua Australia, dia akan mengajak istri dan kedua anaknya di negeri barunya, sambil berlinang air matanya teringat pada keluarganya.

Keputusan saya sudah bulat, ucap Zamin. Saya tidak akan kembali lagi ke Pakistan, karena akan dibunuh oleh Taliban. Itu sebabnya saya meninggalkan negerinya, air matanya berlinang dan matanya sebab karena banyak menangis dalam perjalanan ke tanah harapan benua Australia. Dan kini terdampar di Pangandaran, tempat yang asing sekali bagi Zamin. Indonesia bukan tujuan saya, kata Zamin, sambil menyeka air matanya, pungkasnya.

Hal serupa dikatakan Kamran, dia terpaksa meninggalkan negerinya Afganistan dan keluarganya. Berarti saya harus tabah meskipun berat meninggalkan ibu dan bapaknya serta saudara-saudaranya, juga sekolahnya di negeri harapan benua Australia utamanya saya harus melanjutkan sekolah dan bekerja. Dan bila keadaan di Afganistan stabil kembali saya akan kembali, ucap Kamran untuk memboyong keluarganya, dia berbicara bahasa Inggris yang belum fasih dan selalu diselingi dengan bahasa Persia.

Zamin dan Kamran tak henti-henti mengucapkan Subhanallah[ Maha Suci Allah, ketika kejadian yang menimpa mereka dan juga teman-temannya. Merasa tersanjung dengan perlakuan baik orang Indonesia, yang telah menyelamatkan hidupnya dari kecelakaan akibat parahu (kapal motor) diterjang ombak hingga karam. Mempertegas kembali niatnya Zamin dan Kamran beserta teman-temannya yang lain, akan tetap Australia pilihan sebagai negeri barunya. Namun mereka sangat merasakan pertolongan yang tulus dari orang Indonesia.

Kami sangat berterimakasih, ucap Zamin dan Kamran, dengan ucapan bahasa Inggris yang terbata-bata menahan kesedihan. Kepada nelayan Pangandaran, bila tidak ada pertolongan, nasib kami akan lain ceritanya. Untuk itu kami mohon doa dari orang Pangandaran yang baik sekali, dan Allah yang akan membalas semua kebaikan ini. Sekali lagi kami ucapkan terimakasih, dalam bahasa Inggris yang tidak fasih saat berpisah dengan HR. (es/bh)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply