90 Hektar Lahan Pertanian Waringinsari tak Tersentuh Program Pemerintah

30/12/2011 0 Comments

Bantuan pemerintah bak layaknya polisi seperti di film India

petani di areal pertanian blok Trisna, Desa Waringinsari, Kec. Langensari, kesulitan saat mobilisasi hasil pertanian mereka, dikarenakan akses jalan yang masih tanah merah acapkali menjadi hambatan disaat musim penghujan. Foto : Deni Supendi/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Areal pertanian seluas hampir 90 hektar di kawasan bantaran sungai Citanduy, di Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, jarang tersentuh program pemerintah. Namun, aktifitas sektor pertanian di kawasan tersebut tergolong cukup tinggi.

Sementara, program pemerintah yang digulirkan kepada petani di wilayah itu, menurut salah seorang petani setempat, Waluyo, selalu datang belakangan. Bahkan, mereka meng-deskrispsikan bak polisi India yang datang terlambat, setelah penjahat dilumpuhkan oleh seorang jagoan (peran protagonis.red). Akibatnya, program tersebut tidak dapat direalisasikan oleh petani.

“Bantuan pemerintah datang setelah petani menanam lebih dulu. Misalnya seperti bantuan benih jagung dan kedelai. Dan kalau pun datang sudah diluar masa tanam, belum lagi benih yang diberikan selalu ada yang sudah kadaluarsa untuk ditanam,” ungkapnya kepada HR, disela-sela perjalanan menyusuri lahan pertanian sempadan sungai Citanduy, Senin (26/12).

Meski begitu, mereka tak pernah patah arang, hal itu kata Waluyo, karena masyarakat setempat memang sehari-harinya bermata pencaharian sebagai petani. “Kami hidup dari hasil menjual hasil pertanian, seperti kacang panjang, pepaya, kedelai dan jagung. Kebutuhan hidup terpenuhi dari bertani,” akunya.

Faktanya, pantauan HR di areal seluas 90 hektar itu, petani setempat sibuk dengan berbagai aktivitas pertanian. Mulai dari yang sedang memanen kacang panjang, pepaya, cabe rawit dan tanaman lainnya.

Dalam memenuhi kebutuhan lainnya, petani setempat memelihara ternak. Kebanyakan, mereka memelihara jenis kambing etawa dan kambing pedaging. Akan tetapi, uniknya, tambah Waluyo, ternak kambing etawa mereka tidak mereka peras susunya.

“Selain tak jelas harga susunya, kami tak ada waktu untuk memeras kambing secara rutin. Karena memang sibuk berladang setiap hari,” tandasnya.

Pengakuan itu membuat tim HR terkejut, betapa tidak, hampir disetiap rumah terlihat kambing etawa betina yang siap berproduksi susu. Sementara, pihak Dinas Pertanian Kota Banjar, telah menggelontorkan anggaran yang besar untuk program susu kambing etawa.

Ternak kambing etawa diwilayahnya, diakui Waluyo, sudah dilakukan sejak dulu, sebelum pihak Distan menggembor-gemborkan program pemanfaatan susu kambing etawa.

Anehnya, mereka malah lebih memilih menjual bibit kambing etawa betina. Selain harga yang cukup menjanjikan, dan perawatannya pun tak seribet bila memeras susu kambing.

“Satu ekor bibit kambing etawa betina kami jual dikisaran harga satu juta dua ratus hingga satu juta empat ratus. Biasanya, di pertengahan dan akhir tahun selalu banyak yang mencari bibit kambing etawa,” ucapnya sambil tersenyum penuh arti.

Pada musim seperti itu, lanjut Waluyo, para petani sering menyebutnya sebagai bulan-bulan untuk dapat mendapatkan pendapatan yang lebih besar. “Kalau orang sini bilang, saatnya bongkar celengan,” ungkapnya lagi.

Waluyo mengaku bangga, karena para petani yang ada di Desa Waringinsari bisa lebih mandiri, dan tidak tergantung terhadap program pemerintah. Dia mengutarakan, bahwa saat ini, 90 hektar lahan milik petani sudah habis digarap, dan ditanami oleh petani.

Di tempat terpisah, Ketua Asosiasi Petani Pepaya Indonesia (APPI), Asep Sutari, mengungkapkan kebanggaannya, atas tingginya produktifitas dan semangat para petani di Desa Waringinsari.

Untuk itu, Asep berharap para petani terus menjaga dan menunjukkan semangat produktifitas, agar di kemudian hari mampu menjadikan Kec. Langensari sebagai pusat pertanian Kota Banjar.

“Tentunya, mudah-mudahan di kemudian hari, hal itu akan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan para petani di sini. Saat ini saja, kebutuhan hidup sehari-hari bisa tercukupi dari hasil pertanian,” ucapnya.

Asep menambahkan, masyarakat/ petani tidak harus selalu bergantung kepada pemerintah, apalagi dalam hal bercocok tanam. Soalnya, mayoritas warga di wilayah itu, sudah secara turun-temurun merupakan keluarga petani.

“Mereka lebih tahu apa yang harus mereka kerjakan, dan apa yang mereka butuhkan untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari,” ungkapnya.

Soal program Pemerintah yang sering tidak terealisasi, Asep mengungkapkan, bahwa program yang digulirkan pemerintah selalu datang terlambat. Contohnya, bantuan bibit kedelai, dan beberapa prgoram lainnya.

Bahkan, menurut informasi yang berhasil dihimpun HR, menyebutkan, program penanaman tembakau yang pernah dicanangkan pemerintah untuk petani di kawasan Desa Waringinsari, hingga kini hanya menyisakan tanda tanya.

Sumber HR dikawasan areal pertanian itu menyebutkan, bahwa program tembakau masih menyisakan trauma bagi para petani. Bagaimana tidak, hasil pertanian tembakau yang telah dipanen hingga detik ini masih ada yang belum dibeli oleh sang tengkulak.

“Ada petani tembakau hasil panennya sebanyak dua kwintal hingga kini masih belum dibeli. Padahal dia selalu berharap ada yang membeli hasil panennya, meski memang konon waktu itu setiap petani diberi uang stimulant sebesar empat ratus ribu rupiah,” ungkapnya mengenang. (deni)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply