Bantuan Unggas Disnakertrans Abaikan Surat Peringatan Bebas Flu Burung

30/12/2011 0 Comments

Bangunan kandang untuk peternakan ayam Arab petelur yang diberikan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi melalui Disnaker Kota Banjar di Desa Balokang. Pemprov. Jabar menargetkan hingga tahun 2014 Jabar bebas flu burung. Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Tahun 2012 mendatang, Dinas Pertanian (Distan) Kota Banjar tidak memprogramkan untuk pemeliharaan ternak unggas. Karena, berdasarkan surat peringatan dari Pemprov. Jawa Barat, bahwa hingga tahun 2014 Jawa Barat harus bebas flu burung.

Meski tahun 2012 Distan tidak memprogramkan untuk ternak unggas, namun pihaknya akan merekomendasikan apabila ada masyarakat/kelompok peternak unggas yang menggunakan teknologi intensif, bukan skala rumah tangga.

Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan Distan Kota Banjar, Ir.Ngadimin, mengatakan, Kota Banjar belum dinyatakan daerah bebas flu burung, maka setiap dinas yang mempunyai program bantuan berupa ternak unggas, sebelumnya harus berkoordinasi dengan Distan.

Sehingga, pihaknya bisa memberikan masukan kepada dinas bersangkutan, misalnya Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Banjar, yang pernah melaksanakan program bantuan untuk peternakan, khususnya unggas, baik ayam maupun itik.

Dikatakan Ngadimin, jangan sampai kasus flu burung yang terjadi di wilayah Desa Balokang sekitar awal 2011 lalu, terulang lagi. Ada kemungkinan, kasus tersebut berasal dari hewan unggas yang didatangkan dari luar.

“Kalau sebelumnya berkoordinasi, tentu kami akan memberitahu harus ke daerah mana membeli unggas yang aman flu burung. Karena, pembelian unggas dalam jumlah besar biasanya didatangkan dari daerah lain, yang sudah terjadi wabah flu burung. Dari  wilayah Banjar tidak mungkin terjangkit flu burung, lantaran selama ini kasus tersebut tidak pernah ditemukan disini,” tuturnya, Selasa (27/12).

Lanjut dia, selain memberitahukan dari daerah mana yang bebas flu burung, Distan juga akan memberikan pemahaman secara teknis kepada kelompok ternak unggas mengenai cara pemeliharaan hewan yang baik.

Pihaknya mengaku tidak dilibatkan dalam program bantuan ternak unggas Disnakertrans beberapa waktu lalu. Tapi, ketika ada masalah di lapangan, maka Distan yang harus menanggulangi. Yakni, dengan melakukan penyemprotan kandang, dan pemeriksaan terhadap bangkai hewan untuk memastikan penyebab kematian.

Namun, saat menanyakan kepada Disnakertrans, kata Ngadimin, bahwa unggas yang terjangkit flu burung bukan berasal dari bantuannya, karena hewan unggas yang diperiksa petugas Distan adalah milik masyarakat, bukan kelompok.

“Sebab katanya, kejadian matinya hewan unggas milik kelompok sudah lebih dulu, jadi tidak bersamaan. Tapi ada kemungkinan hal itu terjadi akibat tertular dari hewan unggas milik kelompok, dan waktu kami tanya ke Kepala Desa Balokang, bahwa hewan unggas yang mati itu merupakan bantuan, namun tidak menyebutkan bantuan dari mana,” ungkapnya.

Untuk itu Ngadimin menegaskan, bahwa setiap dinas harus berkoordinasi dalam melaksanakan program. Lantaran, setiap program di satu instansi pasti selalu berkaitan dengan instansi lainnya.

Di tempat terpisah, Kepala Desa Balokang, H. Sukirman, membenarkan, bahwa unggas berupa itik milik kelompok peternak  yang  mati akibat flu burung beberapa waktu lalu merupakan bantuan dari Disnakertrans.

Bahkan, kata dia, di akhir tahun ini Desa Balokang kembali mendapatkan bantuan ternak unggas berupa jenis ayam Arab petelur. Bantuan tersebut diberikan kepada kelompok peternak.

Disnakertrans Bantah tak Koordinasi Dengan Distan

Menanggapi adanya anggapan bahwa Disnakertrans tidak melakukan koordinasi dengan pihak Distan dalam melaksanakan program bantuan ternak unggas, Sekretaris Disnakertrans Kota Banjar, Saefudin, mengaku, koordinasi dilakukan sejak awal, yaitu pada waktu identifikasi lokasi.

“Setiap program yang bersangkutan dengan dinas lain, kami selalu melibatkan dinas terkait untuk teknisnya. Seperti halnya dalam masalah program padat karya produktif berupa pemberian bantuan itik dan ayam arab kepada para kelompok peternak. Di setiap desa kan ada petugas PPL dari Dinas Pertanian,” ujarnya.

Bahkan, kata Saefudin, pihaknya bisa membuktikan dengan data nama petugas dari pertanian, berikut dengan besaran honor yang diterima petugas tersebut.

Saefudin menambahkan, pihaknya juga sependapat dengan apa yang disampaian pihak Distan, bahwa memang sebuah program tidak akan berhasil apabila tidak melibatkan dinas terkait lainnya. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!