Batasi Waralaba Asing

23/12/2011 0 Comments

Dalam tahun 2010 waralaba di Indonesia berjumlah 1500 unit usaha dan sebagian besar berupa makanan dan minuman. Dari data Asosiasi Franchise Indonesia, total omset waralaba tahun 2010 mencapai Rp.114,6 triliun. Sektor dengan kontribusi besar terhadap omset waralaba adalah makanan dan minuman. Tahun 2010, omset waralaba adalah makanan dan minuman Rp.42,6 triliun.

Dalam konteks makro, fenomena itu bisa dianggap menguntungkan Indonesia. Ada pemindahan kapital, semakin ramai aliran dana masuk ke Indonesia. Tetapi apakah hanya sampai disitu ? Bagaimana dengan dampak mikro dan sektor riilnya.

Melihat gejolak ekonomi di kawasan Eropa dan Amerika Serikat telah mempersempit ruang gerak pebisnis disana. Salah satunya adalah pebisnis waralaba. Pebisnis waralaba ini mulai melebarkan sayap ke sejumlah negara tetangga.

Dengan populasi 235 juta jiwa, menjadikan Indonesia pasar menarik. Hal itu ditambah dengan kondisi makro ekonomi yang stabil, pendapatan perkapita pun membaik. Bank Dunia mencatat, jumlah warga kelas menengah  di Indonesia bertambah 50 juta dalam tujuh tahun ini menjadi 134 juta jiwa tahun 2010. Sangat mengejutkan.

Pertumbuhan kelas menengah dengan pergeseran gaya hidup menjadi target tersendiri. Kelas menengah membutuhkan produk-produk baru yang berbeda. Simbol status kehidupan. Baru saja datang 16 waralaba Amerika Serikat datang ke Indonesia.

Sebelumnya, 30 waralaba Malaysia juga menjajaki pasar Indonesia. Sepanjang tahun 2011, sudah ada 152 waralaba. Arus waralaba asing ke Indonesia cukup deras. Tahun 2010, baru ada 70 waralaba asing. Namun tahun 2011, sudah menjadi 152 waralaba. Arus waralaba asing sudah masuk dari tahun 1970-an. Namun banyak yang gagal karena pendapatan per kapita masyarakat saat itu baru 568 dolar AS.

Ada beberapa catatan yang merisaukan. Pertama, mereka tidak mau menggandeng mitra lokal. Tidak mau memecah waralaba itu dalam bentuk outlet yang dapat dikerjakan oleh pengusaha kecil dan menengah. Kedua, kebanyakan waralaba asing bergerak dalam perdagangan makanan dan minuman serta usaha ritel kebutuhan rumah tangga. Padahal usaha semacam itu banyak digeluti pengusaha lokal.

Dengan kekuatan modal, mereka dengan mudah, mereka menyingkirkan pengusaha-pengusaha lokal. Apalagi, beban bunga bank yang harus mereka tanggung di negaranya lebih kecil. Bunga bank di Indonesia relatif tinggi.

Oleh karena itu, pemerintah harus selektif. Jangan sampai demi mengejar kepentingan ekonomi makro, aspek mikro justru terabaikan. Sudah saatnya pemerintah meninjau kembali seluruh aturan terkait perizinan waralaba asing.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply