Kota Banjar Harus Berkompetitor Dengan Ciamis

01/12/2011 1 Comment

(Membangun Sarana Perkotaan)

Ruang terbuka hijau dan joging track di pinggir sungai Citanduy belakang RSUD Kota Banjar. Foto : Eva Latifah/HR.

Berarti pedagang di pasar tradisional dan PKL, harus siap bersaing bila ingin maju, bila saja kondisi pasar yang baru ini ditata dengan apik, bersih, dan tidak bau, PKL juga sama tertib tidak seenaknya pasti pembeli juga akan memilih ke pasar tradisional. Soalnya di pasar tradisional dalam bertransaksi bisa saling menawar harga, bila keperluan hidup sehari-hari pasti masyarakat akan memilih yang murah dengan jaminan tempat bersih yaitu tidak bau dan PKL-nya tertib

***

Gedung bioskop Pusaka yang berada di jantung kota Ciamis tamat sudah riwayatnya, dibongkar dan akan menjelma pusat perbelanjaan modern di tempat itu. Awalnya banyak protes kenapa gedung tua itu dibongkar, lahan itu milik pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memberi lampu hijau untuk pembangunan pusat perbelanjaan modern. Akhirnya warga Ciamis paham akan untung dan ruginya dengan pembangunan Mall Ciamis itu.

Beberapa tahun lalu Ciamis pun telah membangun sebuah kawasan yang disebut Islamic Center dan kini menjadi ruang publik yang apik sebelumnya adalah areal pesawahan non teknis. Di kawasan itu tinggal membangun taman kota dan ruang terbuka hijau, akan menghantarkan kota Ciamis yang dinamis. Taman Raflesia yang berada di pusat kota pada tahun 2012 akan ditata kembali. Otomatis Ciamis akan terwujud menjadi kota wisata di mana hotel-hotel berada di pusat kota.

Dengan berkembangnya Ciamis yang dinamis, tak akan lagi warga Ciamis berbelanja ke Tasikmalaya. Berarti sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) tak akan terserap ke Tasikmalaya, kita bisa saksikan dari 10 orang pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan di Tasikmalaya 5 orang adalah orang Ciamis dan Banjar.

Apabila Ciamis di Sindangkasih membangun taman kota dan ruang terbuka hijau, daerah tersebut akan maju pesat lebih meningkat dari sekarang, taman kota, ruang terbuka hijau dan hutan kota dibangun di Cikoneng dapat kita bayangkan kemajuan Ciamis. Itu di bagian barat, di utara di Baregbeg yang sudah ada kampus Unigal (Universitas Galuh) dikembang dengan ada taman kota, ruang terbuka hijau, di selatan jalan jalur lingkar selatan dibangun menjadi jalan alternatif masuk dan keluar kota Ciamis, dan di timur ada taman kota dan ruang terbuka hijau di Cijeungjing. Semuanya adalah sarana pelayanan publik. Jadilah Ciamis menjelma menjadi “Kota wisata”. Lengkap sudah dalam kurun waktu 15-20 tahun kedepan Ciamis akan lain ceritanya. Tidak lagi menyandang julukan “Kota Pensiunan” tapi kota termaju di jalur selatan Pulau Jawa.

Bahkan Ciamis tak mustahil, menjadi magnit center kota Banjar. Kenapa harus ke Tasikmalaya bila ingin refresing cukup ke Ciamis saja. Ini adalah sebuah tantangan untuk kota Banjar, harus siap-siap untuk berkompetitor dalam pembangunan pelayanan publik dengan Ciamis.

Banjar harus siap-siap :

Di kota Banjar pun ada lahan eks bioskop Kenanga juga milik Pemda Provinsi Jawa Barat, letaknya strategis di jantung kota. Kabarnya gedung tua yang kini menjadi sarang hantu itu, juga akan disulap menjadi mall, belum-belum pimpinan PKL di pasar Banjar sudah berteriak lantang karena posisinya berdekatan dengan lokasi pasar Banjar yang baru dibangun dengan menghabiskan biaya Rp.24 milyar. Bangunan modern itu statusnya masih pasar tradisional, belum apa-apa sebagian pedagang pasar Banjar sudah alergi dengan akan dibangunnya mall di tempat itu.

Alasannya dengan adanya dua toserba dan beberapa mini market, sebagaian pedagang pasar Banjar sudah gerah. Padahal jangan hanya berteriak gampang saja tidak setuju, Banjar ini sudah menjadi kota tentu saja sarana perkotaan harus tersedia seperti di kota-kota lain bila ingin maju. Tak sedikit sekarang urang Banjar yang hanya untuk refresing saja harus ke Tasikmalaya, Bandung, Jakarta dan ada juga yang ke Singapura .

Berarti pedagang di pasar tradisional dan PKL, harus siap bersaing bila ingin maju, bila saja kondisi pasar yang baru ini ditata dengan apik, bersih, dan tidak bau, PKL juga sama tertib tidak seenaknya pasti pembeli juga akan memilih ke pasar tradisional. Soalnya di pasar tradisional dalam bertransaksi bisa saling menawar harga, bila keperluan hidup sehari-hari pasti masyarakat akan memilih yang murah dengan jaminan tempat bersih yaitu tidak bau dan PKL-nya tertib. Rejeki tak akan kemana-mana, tapi bila masih berkesan jorok pembeli pun akan lari ke pasar modern tempatnya nyaman mahal sedikit tak apa sambil cuci mata dan refresing. Contoh Tasikmalaya mall berada di seluruh pojok kota, Pasar tradisional Cikurubuk tak kehilangan pembeli karena tertata cukup rapih dan harga lebih miring, dan harga kios di sana mahal sekali tidak kehilangan peminat untuk berjualan di sana.

Untuk itu Pemkot Banjar melalui Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kota Banjar, harus bisa mencari jalan keluar untuk menciptakan perkotaan yang baik. Kenapa membangun mall aja diprotes, lahan milik Provinsi Jabar dan tak harus mengeluarkan anggaran  Pemkot Banjar, karena biaya dari pihak ketiga pasti akan menambah PAD kota Banjar. Di mall lebih banyak yang hanya jalan-jalan ketimbang yang belanja harga juga tinggi, pasti masyarakat juga akan memilih lebih baik belanja mah ke pasar tradisional bisa nawar dan murah. Bahkan di pasar lebih banyak yang belanja dari pada yang hanya jalan-jalan, hal itu yang harus dipahami. Makanya penghuni pasar Banjar harus diajak studi banding, Ke Solo atau Surabaya biar wawasannya  terbuka. Jadi tidak mudah dikompori oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk tidak mau berkompetisi untuk meningkatkan kemajuan, karena ada pihak yang sudah merasa jadi saudagar di pasar Banjar.

Dalam usia 8 tahun kota Banjar terus membangun infrastruktur, pelayanan sosial, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Kini melangkah membangun taman kota, ruang terbuka hijau dan hutan kota terus digalakan untuk memperbaiki lingkungan hidup dan pelayanan publik. Hanya yang tersendat pembangunan mall, hotel, sarana hiburan malam yang representatif. Bila orang luar bilang Banjar itu sekarang masih menjadi kampung besar. Karena prasarana perkotaannya belum terwujud, masih jauh tertinggal dari Tasikmalaya dan sebentar lagi tertinggal oleh Ciamis. (bh)

About author

Related articles

1 Comment

  1. taofik muhammad December 17, at 16:14

    Butuh waktu panjang utk Banjar dan Ciamis bisa berkembang seperti Tasik. Tasik itu sudah terlalu jadi magnet seperti halnya Cirebon di Wilayah III. Kota Cirebon rame, tapi kota2 disekitar sepi sekali. Begitu juga di priatim. Tasikmalaya sudah terlalu maju, susah utk dikejar. Kenapa? Karena investor akan melirik Tasik dulu sebelum masuk ke Ciamis atau Banjar. Ini bisa terjadi karena sistem pemusatan. Kata2, priatim itu sebetulnya pembodohan. Sama kaya Wil. 3 Cirebon. Pembodohan. Hanya menguntungkan kota2 besarnya aja. Coba lihat daerah Sukabumi, Cianjur. Mereka tidak di satukan dalam ikatan tertentu. Alhasil, jarang tuh orang Cianjur yg harus belanja ke Sk. bumi. Karena di Cianjur juga fasilitas belanja sudah banyak.

    Reply

Leave a Reply