Analisis Pembuatan Sebuah Waduk

28/01/2012 0 Comments

Ketela goreng crispi : Setelah sajian secangkir kopi panas habis dibabak pertama, diganti dengan makanan berat Soto Ayam Panas dibabak kedua. Dilajut ke babak ketiga, kali ini masalah waduk/situ, saat ini kota Banjar telah punya situ Leutik. Tapi tidak hanya cukup satu embung tempat penyimpangan air, bila perlu di setiap wilayah Kecamatan di Kota Banjar harus memiliki penampungan. Nanti dulu jangan anda terburu-buru mencibirkan mimpi/visi ini. Ikuti dulu ceritanya. Diskusi informal ini, akan kita lakukan minimal sampai Hari Jadi Kota Banjar ke-9, 21 Februari nanti. Bila topik mimpi ini terus berkembang, tidak ada salahnya kegiatan ini terus berlanjut sebagai masukan untuk Pemkot Banjar. Pesertanya tak dilarang bertambah, karena yang ikut diskusi mewakili hak pribadi masing-masing. Boleh juga Kepala Bappeda, Kepala Dinas PU, Kepala DPKLH, Desperindagkop lebih jelas siapa saja yang merasa diri ingin memberi sumbangsih pemikiran untuk Kota Banjar. Tak salahkan bila orang mimpi ?.

Air merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan makhluk hidup di dunia. Namun, dalam satu tahun persediaan air di muka bumi ini berubah-ubah, pada musim hujan air sangat berlimpah kemungkinan terjadinya banjir apabila badan air penerima tidak mampu menampung air limpasan.

Namun, di satu sisi apabila musim kemarau datang air akan berkurang, sedangkan kebutuhan air terus meningkat (kebutuhan rumah tangga, pertanian, tenaga listrik, dll), sehingga akan berakibat terhadap bencana kekeringan.

Untuk itu lah perlu adanya suatu bangunan yang bisa menampung kelebihan air pada musim hujan yang akan digunakan pada musim kemarau, salah satunya adalah pembuatan waduk.

Waduk adalah suatu bangunan yang menampung kelebihan air pada musim penghujan dan menampung air resapan dari cathman area, sehingga tidak menimbulkan banjir pada musim hujan dan sebagai cadangan air pada musim kemarau.

Namun demikian, sebelum pelaksanaan pembangunan waduk tersebut, perlu adanya suatu kajian teknis dalam perencanaan yang dilihat dari segi fungsi, hidrologi, geohidrologi, dan kajian sosial ekonomi.

Secara fungsional waduk dibedakan menjadi dua macam, yaitu fungsi tunggal, yaitu yang digunakan untuk suatu manfaat, misalnya penggunaan irigasi, sumber air bersih, pembangkit listrik, dan fungsi ganda yaitu, digunakan untuk keperluan sekaligus secara bersama, misalnya pembangkit listrik dengan pemeliharaan ikan dalam keranjang terapung.

Kemudian, secara hidrologi dilihat dari siklus air itu sendiri, sehingga dapat menjadi kontinuitas debit air. Aspek yang sangat berpengaruh dalam kajian hidrologis diantaranya penghitungan curah hujan, perubahan tataguna lahan yang erat hubungannya dengan nilai koefisien pengaliran yang berpengaruh terhadap laju volume air larian.

Evaporasi (penguapan) yang erat hubungannya dengan jenis tanah, jenis permukaan, jenis vegetasi. Selanjutnya, Infiltrasi, yaitu perpindahan air dari atas ke dalam permukaan tanah, sedangkan daya infiltrasi adalah laju infiltrasi maksimum yang dimungkinkan ditentukan oleh kondisi permukaan, termasuk lapisan atas tanah. Dan, Perkolasi adalah gerakan air ke bawah dari zona tidak jenuh yang terletak di antara permukaan tanah sampai ke permukaan air tanah (zona jenuh).

Sedangkan aspek Geohidrologi merupakan kajian yang dilihat dari geologi air yang merupakan studi tentang interaksi antara system bantuan dengan air tanah. Aspek Geohidrologi banyak mengupas tentang lapisan aquiper, yaitu lapisan air di bawah tanah yang terletak pada lapisan bantuan dan lapisan pasir yang merupakan cadangan air bawah tanah.

Kajian sosial ekonomi merupakan kajian yang berhubungan dengan masyarakat sekitar lokasi yang akan dijadikan waduk. Aspek ini berhubungan dengan pembebasan lahan, peningkatan perekonomian, persepsi masyarakat, dan lainnya.

Ketiga kajian teknis tersebut pada intinya adalah pengaturan penggunaan lahan, penerapan dan tindakan teknis konservasi tanah, upaya mengendalikan banjir dengan cara menurunkan limpasan dan meningkatkan daya infiltrasi dan perkolasi.

Dengan demikian air hujan yang berpotensi mendatangkan limpasan permukaan dapat diturunkan dan sebagian besar mengisi lapisan aquifer di bawahnya sebagai cadangan air pada waktu kemarau.

Kajian teknis tersebut juga bisa dijadikan acuan dalam perencanaan pembuatan waduk untuk menentukan debit air pada musim hujan dan musim kemarau, lokasi waduk, luas waduk yang akan dibangun, rencana type broncaptering (bangunan sadap di area cathman area), dimensi saluran air dari broncaptering menuju waduk, yang erat hubungannya dengan spesifikasi teknis, rencana anggaran biaya.

Selain itu, dengan adanya beberapa kajian teknis dan kajian sosial ekonomi pada tahap perencanaan, diharapkan pembangunan waduk yang akan dilaksanakan bisa bermanfaat bagi sarana peningkatan ekonomi, serta salah satu penopang agropolitan.

Dan, diharapkan pelaksanaan pekerjaan waduk ini bisa berkelanjutan dan berfungsi secara berkesinambungan, sehingga manfaat pelaksanaan kegiatan bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat Kota Banjar.

Pada akhirnya, perlindungan dan pengelolaan lingkungan sumber daya alam merupakan faktor penting yang harus dilaksanakan oleh semua pihak, baik pemerintah, pihak swasta dan masyarakat itu sendiri.

Terjaganya daya tapung tampung dan daya dukung lingkungan merupakan harga mati dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan, sehingga kita bisa menjaga bumi ini sebagai titipan generasi kita di masa depan. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply