Bantuan Benih Ikan Gurame Program PKP Diduga tidak Sesuai Speksifikasi

19/01/2012 0 Comments

Ukuran benih ikan Gurame dan pakan ikan yang diterima kelompok dari Program Padat Karya Produktif (PKP) diduga telah menyalahi spesifikasi. Foto : Eva Latifah/HR.

Langensari, (harapanrakyat.com),- Bantuan benih ikan gurame dari Program Padat Karya Produktif (PKP) diduga telah menyalahi speksifikasi yang telah ditetapkan dalam rapat antara pihak kelompok dan Dinsosnakertrans Kota Banjar.

Hal itu dikatakan Riyanto, Penasehat, Kelompok peternak ikan Waringin Jaya di Kel. Muktisari, Kec. Langensari, Kota Banjar pada HR  Jum’at (13/1).

Bantuan benih ikan Gurame berikut pakan yang diberikan Kementerian Tenaga Kerja, melalui program Padat Karya Produktif Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Banjar, yang diterima pada bulan Desember 2011, tidak sesuai dengan permintaan kelompok.

Bahkan, disinyalir telah terjadi penyimpangan speksifikasi dalam pengadaan barang dan jasa tersebut. Dan pihak Dinsosnakertrans pun, diduga membiarkan hal itu terjadi.
Lantaran, menurut keterangan kelompok penerima bantuan, pihak ketiga saat menyerahkan barang disertai oleh pihak Dinsosnakertrans.

Sebelumnya, kelompok meminta benih ikan Gurame ukuran 3-5 (3 sampai 5 centimeter) sebanyak 10 ribu ekor, berikut pakan sesuai ukuran ikan dan berkualitas, yakni produk bermerk, serta pada kemasan tercantum komposisi kandungan pakan. Namun pada kenyataannya, benih ikan diterima kelompok hanya sebesar ukuran  kukuan (1-2 cm).

Ditambah lagi, pakan yang tak mengikuti ukuran ikan tersebut, ternyata bukan produksi pakan bermerk yang diinginkan petani. Karung pakan yang polos tak bermerk itu, semakin lengkap keraguan akan kualitasnya, sebab tidak tercantum komposisi kandungan yang ada dalam pakan.

“Terus terang kami kecewa. Saat bantuan datang ternyata ukurannya tidak sesuai dengan spek yang diminta,” tutur Rianto, sambil memperlihatkan benih ikan tersebut pada HR.

Lebih lanjut Rianto mengatakan, kelompok Waringin Jaya merupakan kelompok petani ikan pemula. Sehingga, saat musyawarah dirinya meminta benih ikan berukuran 3-5, karena ukuran tersebut tidak terlalu rentan resiko kematiannya.

Berbeda dengan benih ikan ukuran kukuan. Dalam cuaca seperti sekarang ini, beresiko mengalami mortalitas tinggi. “Kalau mortalitas tinggi berarti rentan pula terhadap kegagalan,” tegas Rianto.

Tidak hanya itu, Rianto pun mempertanyakan rapat musyawarah yang ditujukan bagi penetapan speksifikasi. “Pada kenyataannya diganti, lalu apa gunanya musyawarah untuk mencapai kesepakatan antara keinginan kelompok dengan dinas,” tanyanya.

Hal senada diungkapkan Hojin, Ketua Kelompok Waringin Jaya. Dia mengaku tidak berani menolak ketika bantuan datang tidak sesuai permintaan. Selain dirinya tidak memahami secara pasti apa yang dimaksud dengan benih ikan ukuran 3-5, pihaknya juga berpikir bahwa kelompok sudah untung bisa mendapatkan bantuan.

“Sekarang saya paham dengan ukuran 3-5 itu. Dan memang pakan yang kami terima tidak sesuai, karena benih ikannya terlalu kecil. Jadi untuk pakan terpaksa kelompok beli lagi. Pakan bantuan digunakan untuk benih ikan Lele hasil pembelian kelompok. Tapi malah mati Lelenya juga,” ungkap Hojin.

Sementara itu, ketika HR mencoba untuk mengkonfirmasikan permasalahan tersebut kepada Bidang Tenaga Kerja Dinsosnakertrans Kota Banjar, sebagai pelaksana program, namun pejabat berwenang sedang tugas dinas ke Batam. Begitu pula saat HR mencoba menghubungi melalui telepon selularnya, tapi hingga berita ini diturunkan belum juga mendapat jawaban.

Sementara itu, pejabat terkait lainnya yang berwenang memberikan penjelasan, juga belum bisa ditemui HR, karena menurut beberapa stafnya mereka sedang tidak di tempat. (Eva)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply