Dimana dan Kemana Mencari Batik Khas Banjar

28/01/2012 0 Comments

Tak diragukan lagi, pesona peragawati “dadakan” yang diperagakan ibu-ibu dalam memperagakan busana batik khas Kota Banjar, saat launching perdana di Aula Setda Kota Banjar, Selasa (10/1). Foto : Eva Latifah/HR.

Oleh : Bachtiar Hamara.

Motif batik khas Banjar, dulu rencana digelar perdana pada peringatan hari jadi Kota Banjar ke-8, 21 Februari 2011. Akibat terkendala dana dan beberapa hal yang belum maksimal. Maka kegiatan tersebut baru bisa dilaksanakan, Selasa (10/1/2012) digelar launching perdana batik khas kota Banjar di aula Setda. Batik yang ditetapkan sebagai khas kota Banjar bermotif rambatan daun tarum dan ebeg (kuda lumping). Suatu pertanyaan apakah batik khas kota Banjar ini akan terus lestari atau akan mati suri,ini sebuah tantangan !

Batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO dengan dimasukan kedalam daftar representatif sebagai budaya tak-benda warisan manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) UNESCO mengakui batik Indonesia bersama dengan 111 nominasi mata budaya dari 35 negara, dan yang diakui dan dimasukan dalam daftar respresentatif sebanyak 76 mata budaya.

UNESCO mengakui bahwa batik Indonesia mempunyai teknik dan simbol budaya yang menjadi identitas rakyat Indonesia, mulai dari lahir sampai meninggal, bayi digendong dengan kain batik bercorak simbol yang membawa keberuntungan. Dan yang meninggal ditutup dengan kain batik.

Pakaian dengan corak batik sehari-hari dipakai secara rutin dalam kegiatan bisnis dan akademis, sementara itu berbagai corak lainnya dipakai dalam acara pernikahan, kehamilan, juga dalam wayang. Kebutuhan non sandang dan berbagai penampilan kesenian. Kain batik bahkan memainkan peran utama dalam ritual tertentu.

Berbagai corak batik Indonesia menandakan beberapa pengaruh dari luar mulai dari kaligrafi Arab, burung phoenix dari Cina, bunga cherry dari Jepang sampai burung merak dari India atau Persia. Tradisi membantik diturunkan dari generasi ke generasi, batik terkait dengan identitas budaya rakyat Indonesia dan melalui berbagai arti simbol dari warna dan corak mengekspresikan kreativitas dan spiritual rakyat Indonesia.

UNESCO memasukan batik Indonesia ke dalam Representative List karena telah memenuhi kriteria, antara lain kaya dengan simbol-simbol dan filosofi kehidupan rakyat Indonesia, memberi kontribusi bagi terpeliharanya warisan budaya tak benda pada saat ini dan di masa mendatang.

Selanjutnya seluruh komponen masyarakat bersama pemerintah melakukan langkah-langkah secara berkesinambungan  untuk perlindungan termasuk peningkatan kesadaran dan pengembangan kapasitas termasuk aktivitas pendidikan dan pelatihan. Pemerintah telah memasukan batik Indonesia ke dalam daftar Mata Budaya Indonesia.

Merujuk dari pemikiran diatas, Dekranasda kota Banjar dan Pemkot Banjar harus bergerak aktif menghidupkan batik khas kota Banjar dan terus mengadakan pelatihan membantik kepada masyarakat. Hal tersebut bila dilakukan akan menambah keterampilan dan wawasan masyarakat mengenai perbatikan, selain itu akan juga berdampak menyerap tenaga kerja berarti akan mengurangi pengangguran.

Melatih ibu-ibu rumah tangga dalam mengisi waktu luang, atau anak-anak muda yang berminat. Sebagai pionir bisa ibu-ibu PKK para pengajar Paud dan organisasi wanita lainnya, bisa juga mengajak seniman-seniman lukis, bila perlu mendatangkan dari luar daerah. Untuk mengembang motivasi dan inovasi corak batik khas Banjar yang ada hanya baru rambatan daun tarum dan ebeg.

Pada masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang di tanah air kita, motif batik di Ciamis tempo doeloe motif batik koemelian adalah ciri batik tulis khas Ciamisan. Bahkan di Banjar pada tahun 1950-an terkenal dengan motif batik burung merak batik tulis burung merak harganya cukup mahal. Menurut cerita dari zaman penjajahan dan penduduk Jepang, di wilayah Ciamis dan Banjar, juga batik tulis burung phonix dari China, bunga cherry dari Jepang, yang dipakai encim-encim keturunan Tionghoa dan kelompok feodal sebagai tanda kalangan ningrat. Bila saja jenis motif batik-batik khas Banjar memodifikasi corak batik-batik burung phonix, cherry, burung merak atau kaligrafi Arab tak jelek rasanya.

Setelah batik khas kota Banjar di launching, terus kemana konsumen harus mencari batik khas Banjar, di outlet atau di toko dan butik mana batik khas Kota Banjar bisa dibeli? Jadi Dekranasda dan Pemkot Banjar, harus cepat mengajak pihak swasta untuk mengembangkan batik khas Banjar bisa dijual yang dapat menghasilkan profit menguntungkan.

Dalam dunia bisnis yang penuh kecanggihan, kekhasan atau keunikan produk, yang penulis maksud menjadi hal mutlak dilakukan. Coca-cola misalnya mampu menjaga kelanggengan pelanggan dengan menghasilkan Coca-Cola dengan kadar gula rendah. Kentucky Fried Chicken (KFC) menjaga kegairahan publik dengan mengganti minyak gorengnya lebih ramah lingkungan. Di Indonesia KFC terus menjaga kualitas produk dengan sangat ketat dengan bumbu dan minyak paten. Ahli cicip KFC Indonesia juga dikerahkan untuk selalu mencobai rasa ayam goreng tersebut.

Kembali ke batik khas Banjar, Dekranasda dan Pemkot Banjar harus berani mengajak stakeholder untuk duduk satu meja berdiskusi mencari solusi agar batik khas Banjar bisa dikenal secara nasional, karena Banjar kota baru yang barusia 9 tahun. Cari pemecahannya agar batik khas Banjar dikenal seperti Batik Tasikan, Batik Ciamisan, Batik Cirebonan. Ini semua adalah tanggungjawab semua urang Banjar, tapi harus diawali oleh pihak terkait masalah perbatikan dan Pemkot Banjar.

Khususnya terkait dengan Batik Indonesia, ditetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Indonesia. Hal tersebut harus disebarluaskan, agar Batik Indonesia dapat menjadi ikon nasional yang membanggakan bangsa. Selain itu tentu diharapkan secara ekonomi dapat juga memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi rakyat karena semua rakyat Indonesia memakai pakaian batik. Hal ini tentunya agar dapat memberi keuntungan bagi para pengrajin dan produsen batik.

Untuk itu semua pihak berusaha menjadikan batik Indonesia menjadikan ikon budaya Indonesia yang dikenal diseluruh dunia. Untuk mencapai itu perlu promosi secara terus menerus baik melalui pagelaran budaya, pameran, workshop dan bentuk promosi lainnya.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!