Disnaker Berkelit, Soal Ukuran Gurame Bantuan PKP

28/01/2012 0 Comments

Sertifikasi benih tak jamin pihak ketiga tak ‘bermain’

Ukuran benih ikan Gurame yang diterima kelompok dari Program Padat Karya Produktif (PKP) diduga telah menyalahi spesifikasi. Foto diambil Jum’at (13/1). Apakah benar benih ikan tersebut sudah sesuai dengan spek dan surat keterangan sertifikasi?. Foto : Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),- Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Banjar membantah pernyataan kelompok peternak ikan Waringin Jaya di Kel. Muktisari, Kec. Langensari, Kota Banjar, jika bantuan benih ikan gurame dan pakan program PKP tidak sesuai speksifikasi.

Seperti diberitakan HR edisi 260 (18-25 Januari 2012), kelompok peternak ikan Waringin Jaya di Kel. Muktisari, Kec. Langensari, Kota Banjar, sangat kecewa saat bantuan datang ternyata ukurannya tidak sesuai dengan spek yang diminta.

Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinsosnaker, Wasino, mengatakan bahwa benih ikan gurame yang diberikan Kementerian Tenaga Kerja, melalui program Padat Karya Produktif Disnaker Kota Banjar, yang diterima pada bulan Desember 2011 sudah sesuai dengan spesifikasi, yaitu berukuran 3-5 cm.

“Pengadaan benih ikan gurame sudah memenuhi persyaratan, yaitu sesuai dengan ukuran 3-5 cm dengan jumlah 9015, bahkan oleh pihak ketiga dilebihkan. Selain itu juga, benih ikan gurame tersebut merupakan hasil seleksi dan sudah bersertifikat. Berita serah terima juga ada,” ujar Wasino, Selasa (24/1).

Wasino menjelaskan, saat penyerahan benih ikan disaksikan oleh anggota kelompok peternak ikan Waringin Jaya, Dinsosnaker, pihak ketiga, dan orang teknis. Pihaknya juga sudah memerintahkan ke kelompok penerima bantuan agar benih ikan tersebut dicek dan diukur.

Maksudnya, jika memang benih ikan tidak sesuai dengan spesifikasi, kelompok tersebut bisa menolak waktu itu juga. Disnaker langsung menolak dan mengembalikan benih ikan itu ke pihak ketiga, jika memang terbukti tidak sesuai dengan spesifikasi.

“Seharusnya waktu itu juga, kelompok peternak ikan komplain manakala tidak sesuai dengan spek. Itu hak mereka untuk menolak. Dan kami pun langsung memerintahkan ke pihak ketiga untuk membawa benih ikan itu kembali. Tapi kenyataannya mereka (kelompok peternak ikan.red) waktu itu juga tidak ada yang komplain satu pun,” ucapnya.

Wasino menambahkan, satu minggu setelah pengiriman benih ikan, Disnaker melakukan monitoring ke kelompok peternak ikan Waringin Jaya. Hasil monitoring ternyata benih ikan gurame sehat, dan tidak ada yang komplain.

Menyikapi hal tersebut, pihaknya langsung klarifikasi dan cross cek ke lapangan. Disnaker melakukan pertemuan dengan kelompok peternak ikan Waringin Jaya di aula Kelurahan Muktisari dengan dihadiri Lurah Muktisari, Jum’at (20/1).

“Hasil dari pertemuan tidak ada satu pun anggota kelompok peternak ikan Waringin Jaya yang komplain, termasuk ketua kelompok,” kata Wasino.

Sementara itu, pada pemberitaan HR sebelumnya, bahwa kelompok meminta benih ikan Gurame ukuran 3-5 cm sebanyak 10 ribu ekor, berikut pakan sesuai ukuran ikan dan berkualitas, yakni produk bermerk, serta pada kemasan tercantum komposisi kandungan pakan. Tapi kenyataannya, benih ikan diterima kelompok hanya sebesar ukuran  kukuan (1-2 cm).

Ditambah lagi, pakan yang tak mengikuti ukuran ikan tersebut, ternyata bukan produksi pakan bermerk yang diinginkan petani. Karung pakan yang polos tak bermerk itu, semakin lengkap keraguan akan kualitasnya, sebab tidak tercantum komposisi kandungan yang ada dalam pakan.

“Terus terang kami kecewa. Saat bantuan datang ternyata ukurannya tidak sesuai dengan spek yang diminta,” tutur Rianto, pekan lalu, sambil memperlihatkan benih ikan tersebut pada HR.

Hal senada diungkapkan Hojin, Ketua Kelompok Waringin Jaya. Dia mengaku tidak berani menolak ketika bantuan datang tidak sesuai permintaan. Selain dirinya tidak memahami secara pasti apa yang dimaksud dengan benih ikan ukuran 3-5 cm, pihaknya juga berpikir bahwa kelompok sudah untung bisa mendapatkan bantuan.

“Sekarang saya paham dengan ukuran 3-5 cm itu. Dan memang pakan yang kami terima tidak sesuai, karena benih ikannya terlalu kecil. Jadi untuk pakan terpaksa kelompok beli lagi. Pakan bantuan digunakan untuk benih ikan Lele hasil pembelian kelompok. Tapi malah mati Lelenya juga,” ungkap Hojin. (adi)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply