Menjaga Mutu, Merawat Pelanggan

13/01/2012 0 Comments

Oleh : Bachtiar Hamara

Apa formula paling manjur untuk bisa bersaing sehat dalam berusaha?. Kita melihat banyak pedagang di sektor tradisional yang tak siap bersaing dalam melakukan usahanya. Ada sebagian dari pedagang tradisional yang menolak bersaing, dengan pedagang modern. Seolah-olah usaha yang bernuansa modern itu akan membunuh usaha tradisional. Misalnya PKL yang namanya bukan lagi pedagang kaki lima, tapi lebih  bagus untuk berkreativitas dalam mengembangkan usaha yaitu Pedagang Kreatif Lapangan. Kenapa harus takut dengan tumbuhnya mall, toserba, atau supermarket ?

Ketakutan para PKL di beberapa daerah dengan muncul usaha dagang modern, banyak dimanfaatkan oleh saudagar-saudagar tertentu untuk melindungi usahanya. Karena tidak siap bersaing dengan model-model usaha modern. Kasihan bagi pedagang kecil, yang terprovokasi oleh pihak yang tak jelas kiprahnya dalam meningkatkan usaha-usaha kecil. Dimanfaatkan untuk pencitraan pribadi/kelompok maupun kepentingan politik.

Perusahaan retail atau perdagangan eceran adalah suatu kegiatan menjual barang dan jasa konsumen akhir (Alma, 2005). Di Indonesia perusahaan retail yang dikenal hanya beberapa, seperti Specialty Store, Departemant Store, Shoping Center dan Rental Store, Flea Market, dan Hypermarket. Hypermarket adalah suatu toko eceran khusus dalam melakukan penjualan barang-barang yang mempunyai merek-merek terkenal dengan suatu rabat kepada para pembeli. Hypermarket adalah suatu toko besar berlokasi di luar kota atau batas kota, barang yang dijual terdiri dari 40 % nonfood dan 60 % food.

Di penghujung tahun 2011 saya mengajak Kepala Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Banjar H. Agus Nugraha S.Sos, M.Si, ngobrol-ngobrol di Banaran 9 Coffee & Tea di kawasan perbatasan Jabar-Jateng tempatnya tenang suasananya enak untuk berdiskusi. Di penghujung tahun lalu di Kota Banjar dan Ciamis sedang ngetren isu yang tidak setuju dan setuju dengan dibangunnya mall. Media massa pun kerap memberitakan isu itu.

Saya bercerita dalam dunia ekonomi yang sudah mengglobalisasi di dunia, ekonomi yang tradisional pasti akan tersingkir lambat tapi pasti. Bagaimana kita mencari solusi untuk tetap eksis dalam zaman yang serba modern, tapi tidak meninggalkan gaya usaha ekonomi tradisional. Kuncinya harus siap bersaing dan sumber daya manusia (SDM) harus ditingkatkan. Jangan cuma protes dan marah-marah muluu… Akhirnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu pribadi/kelompok untuk pencitraan kepentingan politik, untuk meraih kekuasaan obyeknya masyarakat kecil. Seolah-olah mau memperjuangkan nasib orang kecil hanya di mulut doang. Bila sudah berhasil pencitraannya cerita lain lagi, yang kesil/miskin tetap saja. Tetapi yang diperlukan untuk meningkatkan ekonomi rakyat, harus memberi solusi bukan janji. Omong kosong bila cerita proyek akan dan apabila, itu maah kuno kalii…

Pemikiran Agus Nugraha, bahwa Bappeda Kota Banjar dalam melaksanakan program makronya diawali dengan menciptakan estetika sebuah kota, dan di titik-titik tertentu, seperti di kawasan perbatasan kota dibangun ground ekonomi, agar terjadi laju pertumbuhan ekonomi baru. Menurut Agus pelaku ekonomi harus berani bersaing dalam kehidupan modern sekarang ini, harus diawali mindset/perubahan pola pikir birokrasi dalam bekerja melayani publik. Begitu juga harus ada perubahan pola pikir masyarakat terutama dikalangan pemangku kepentingan (stakeholder), bersinergi dengan birokrasi. Itu solusinya, ucap Agus Nugraha.

Diakhir diskusi kecil informal itu, kami berdua mencoba mencari informasi siapa pemilik Banaran 9 Coffee & Tea. Setelah sedikit ngomong-ngomong dengan salah seorang pegawainya, terungkap kafe itu milik PTPN IX Warnasari berpusat di Semarang Jawa Tengah manajemennya langsung dikelola PTPN IX perusahaan perkebunan milik negara. Banaran 9 Coffee & Tea mempunyai karyawan sebanyak 18 orang dengan bayaran UMR (Upah Minimum Regional) Rp. 28 ribu perhari, standar Kabupaten Cilacap sama dengan UMR kota Banjar

Lokasi café resto Banaran 9 Coffee & Tea, di lintas jalur selatan pulau Jawa hanya 12 km dari pusat Kota Banjar, buka 24 jam dengan dua shift. Tamu yang singgah ke tempat itu yang melakukan  perjalanan dari Jakarta, Bandung menuju Yogyakarta dan sebaliknya. Tapi tidak itu saja, orang Banjar juga berdatangan ke tempat itu dari pejabat, pegawai dan pengusaha pada nongkrong di tempat itu. Kenapa di kota Banjar belum ada tempat seperti itu?.

Menurut informasi semua kebutuhan bahan baku untuk olahan makanan dibeli dari pasar Banjar, kecuali kopi, teh, dan sirup buah pala produk PTPN IX Semarang. Cemilan yang enak adalah tahu goreng dengan resep khusus Banaran, tahunya produk H. Oding dari Balokang Banjar. Tahu ini juga dijual di outlet-outlet Banaran di tempat lain di Jateng. Luar biasa kan! Memang dari dulu Banjar menjadi magnet center bagi wilayah Kabupaten Cilacap barat.

Ada kisah yang cukup menarik, untuk kita renungkan hal itu bisa diterapkan di Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar oleh pelaku-pelaku usaha. Apa formula paling manjur untuk menjaga kinerja perusahaan ritel? Pertanyaan ini diajukan seorang saudagar di Pasar Terong Makasar, Sulawesi selatan, kepada mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla, beberapa waktu lalu. Jusuf Kalla (JK) dikenal dekat dengan semua kalangan, termasuk pedagang kecil.

Jusuf, yang menjadi saudagar Bugis selama 40 tahun, menjawab rileks. “Jaga baik-baik langgananmu. Jadikan mereka raja, jangan pula belum apa-apa engkau sudah ingin untung besar. Lalu menaikkan harga komoditas sesuka hati”.

Saudagar pasar Terong itu mengangguk-angguk. Pedagang lainnya bertanya, apa yang mesti saya lakukan agar toko kelontong saya lebih ramai?. JK masih dengan gaya rileks. “Kalau tokomu seperti ini, engkau tidak ada bedanya dengan toko-toko lain di sekitar sini. Apabila ingin lebih laku, buatlah sesuatu agar tokomu mempunyai keunikan atau kekhasan. Misalnya, engkau menjual komoditas yang berkualitas tetapi harganya terjangkau masyarakat, dan tidak satu pun toko di sekitar sini punya barang itu”.

Atau begini, tambah JK, kalau engkau mampu menjangkau langsung ke produsen, engkau akan dapat membeli lebih murah. Ini akan membuat tokomu disukai masyarakat. Tokomu pasti ramai pembeli. Percakapan sederhana ini terkesan perbincangan “sehari-hari”, tetapi sebetulnya mengandung makna dalam.

JK, karena berhadapan dengan pedagang kecil dan dengan latar belakang pola pikir sederhana, menggunakan bahasa-bahasa ringkas agar mudah dipahami. JK tidak melontarkan teori-teori ekonomi yang mungkin membuat pedagang kecil itu malah tidak mengerti. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!