Petani di Banjarsari Sulit Pupuk Bersubsidi

13/01/2012 0 Comments

Banjarsari, (harapanrakyat.com),- Sejumlah petani di Kec. Banjarsari, Kab. Ciamus, mengaku sulit mendapatkan pupuk bersubsidi jenis urea dan TS untuk tanaman padinya yang kini sudah berumur 15-20 hari. Mereka menduga, kelangkaan terjadi akibat terlambatnya pasokan pupuk.

Para petani menyayangkan terjadinya kelangkaan pupuk tersebut disaat petani sangat membutuhkan untuk memupuk tanaman padinya. Kejadian ini membuat harga pupuk di pasaran menjadi tinggi, khususnya urea.

Ahmad (48), seorang petani, mengatakan, sudah lima hari dirinya menunggu kiriman pupuk dari salah satu pedagang pupuk langganannya. Namun, hingga kini belum juga datang.

Padahal, dia dan sejumlah petani lainnya di Banjarsari sangat membutuhkan. Bahkan, Ahmad harus menyimpan uang terlebih dahulu supaya dirinya bisa kebagian jatah pupuk.

“Lima hari yang lalu saya menyimpan uang kepada pedagang untuk membeli pupuk. Kalau tidak menyimpan dulu uang, bisa jadi saya tidak kebagian jatah,” kata Ahmad, Senin (9/1).

Hal serupa juga dirasakan Ato (56), salah seorang petani di Desa Ciherang, Kec. Banjarsari. Menurut dia, kelangkaan pupuk bersubsidi itu membuat dirinya harus mengurangi pemberian pupuk pada tanaman padinya. Meskipun Ato tahu, bahwa dengan pengurangan dosis pemberian pupuk akan mempengaruhi terhadap kualitas padi yang dihasilkan.

Ditengah kesulitannya mendapatkan pupuk kimia, Ato mencoba mensiasatinya dengan melakukan pemberian pupuk organik pada tanaman padinya. Pupuk organik didapat dari kotoran ayam ternaknya.

Sementara itu, Ade (47), salah satu pemilik toko penjual pupuk di Banjarsari membenarkan, bahwa memang sudah seminggu ini pasokan pupuk telat datang. Kalau pun ada, Ato mengaku hanya dikasih jatah pupuk urea dan TS 5 bal saja, atau sekitar 250 kilogram.

Padahal, lanjutAde, kebutuhan pupuk di Banjarsari sangat besar, mengingat luas lahan padi di Kec. Banjarsari mencapai sekitar 3140 hektare. Jumlah alokasi pupuk dalam satu hektare mencapai 250 kilogra.

“Jadi bisa hitung sendiri, 250 kilogram x 3140  hektare, sehingga jumlah pupuk yang harus ada sekitar 785.000 perkilogram. Harga per 1 bal, atau 50 kilogram sebesar Rp.97.000. Padahal sebelumnya hanya Rp.87.000. Untuk harga eceran perkilogramnya Rp 2500. Sementara pupuk jenis TS harga per 1 balnya mencapai Rp.148.000, dan harga ecerannya perkilo mencapai Rp.3.000,” tutur Ato. (Amlus)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!