Mempertanyakan kembali Visibilitas Banjar Agropolitan

29/02/2012 0 Comments

 Oleh :Rachmat, S.Si M.Si  (Tim Litbang HR)

Rachmat, S.Si MSi

Dalam RPJMD Kota Banjar 2009-2013 dengan jelas disebutkan bahwa pengembangan agropolitan menggambarkan perencanaan yang berbasis area pertanian. Agropolitan berupaya membangun masyarakat dari dalam dengan basis pertanian. Sektor pertanian tersebut dapat dikembangkan lebih luas di masa depan, dan menjadi basis ekonomi kota yang kuat. Kegiatan perekonomian Kota Banjar juga berpeluang dikembangkan lebih luas ke bidang bisnis berbasis pertanian (agrobisnis), seperti agroindustri, jasa-jasa pertanian, agrowisata, serta koleksi dan distribusi produk-produk pertanian. Pertanyaannya kemudian sejauhmana visibilitas Banjar Agropolitan?

Pertanian: sektor basis Kota Banjar?

Menurut hasil analisa Bappeda Kota Banjar dalam buku “PDRB Kota Banjar 2005-2009”, sektor pertanian tidak bisa dijadikan sebagai sektor basis Kota Banjar. Karena kemampuan sektor pertanian di Kota Banjar tidak memiliki keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Priangan Timur.Sebagian besar kemampuan sektor ekonomi di Kota Banjar memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan rata-rata di wilayah Priangan Timur, kecuali sektor pertanian. Analisa serupa juga pernah dilakukan oleh Tato Kusmanto (Pascasarjana MB-IPB). Berdasarkan hasil penelitiannya, sektor pertanian tidak dapat dijadikan sebagai sektor basis bagi Kota Banjar, karena menunjukkan kelemahan secara produktivitas dan laju pertumbuhan, baik secara propinsi maupun nasional. Sektor pertanian tidak memiliki keunggulan produktivitas dengan daerah lain. Sektor pertanian merupakan lapangan usaha yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap lahan, sementara itu Kota Banjar memiliki luas wilayah yang relatif tidak lebih luas dari rata-rata wilayah lain. Keduanya menitikberatkan pada sektor perdagangan sebagai basis bagi Kota Banjar, bukan sektor pertanian.

Analisa tersebut memang tidak berlebihan. Sektor perdagangan memang lebih dominan dibanding sektor pertanian. Berdasarkan data selama kurun waktu 2007-2010, terlihat bahwa  sektor perdagangan mendominasi perekonomian di Kota Banjar. Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya (termasuk sektor pertanian) dan persentasenya terus mengalami peningkatan (Tabel 1). Begitu pula dengan kontribusinya terhadap serapan tenaga kerja terus mengalami peningkatan.  Sementara  itu sektor pertanian, meskipun lebih besar serapan tenaga kerjanya pada awalnya, namun persentasenya terus menurun (Tabel 2).

 Tabel 1. Persentase PDRB Menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Kota Banjar tahun 2007-2010

No Lapangan Pekerjaan Utama 2007 2008 2009 2010
1 Pertanian      17.86       17.43     17.24     17.16
2 Industri Pengolahan       12.05       11.90     11.76     11.64
3 Perdagangan      32.18       32.06     33.73     34.47
4 Jasa      16.33       17.18     16.17     16.12
5 Lain-Lain      21.58       21.43     21.10     20.61
Jumlah      100.00      100.00    100.00     100.00

 Tabel 2. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama di Kota Banjar tahun 2007-2010

No Lapangan Pekerjaan Utama 20071) 20082) 20093) 20104)
1 Pertanian      23.57       21.13     20.06     19.16
2 Industri Pengolahan       14.29       17.15     16.77     17.56
3 Perdagangan      21.54       27.09     26.35     27.41
4 Jasa      17.87       14.89     18.20     18.64
5 Lain-Lain      22.73       19.74     18.62     17.23
Jumlah      100.00      100.00    100.00     100.00

Sumber: 1)  Suseda Jawa Barat, 2007 (diolah)

               2)   Data Keadaan Angkatan Kerja Jawa Barat, 2008 (diolah)

               3)   Data Keadaan Angkatan Kerja Jawa Barat, 2009 (diolah)

               4)   Data Keadaan Angkatan Kerja Jawa Barat, 2010 (diolah)

Di awal-awal Kota Banjar berdiri, Walikota Banjar tidak berkomitmen untuk menjadikan sektor pertanian sebagai basis Kota. Karena menurutnya Banjar tidak mungkin hidup dari pertanian, sebab tidak memiliki sawah yang cukup luas. Banjar hanya dapat hidup dan berkembang dari sektor perdagangan dan jasa. Walikota mengatakan:

“…apa pun yang terjadi, kami tetap harus mengembalikan pamor Banjar sebagai kota jasa, transit, dan perdagangan. Sebab, hanya itulah yang dapat dilakukan oleh Kota Banjar agar tetap dapat hidup dan berkembang….”( Kompas, 22 April 2004)

 (Bersambung……)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply