Pencitraan

17/02/2012 0 Comments

Orang yang merasakan perlunya pencitraan diri di hadapan publik sesungguhnya adalah orang yang tahu bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan, bahkan memiliki banyak kesalahan dan dosa.

Semakin kuat kebutuhan akan pencitraan untuk seseorang, sesungguhnya semakin besar pula kekurangan, kesalahan dan dosa, yang tersimpan dalam pribadi orang itu. Pencitraan adalah pengelabuan psikososial sistematis atas kekurangan, kesalahan dan dosa seseorang. Melalui pencitraan, kekurangan, kesalahan, dan dosa disulap menjadi kelebihan, jasa dan kebaikan.

Kita mengetahui bahwa para pejabat pemerintah kita, terutama yang dipilih langsung oleh rakyat, dapat menduduki jabatan mereka karena pencitraan. Jadi sebenarnya sekarang kita dipimpin oleh orang-orang yang banyak kekurangan, kesalahan dan dosa yang lebih dikelabukan sehingga tidak nampak atau setidaknya tidak kentara lagi.

Ketika orang-orang yang memiliki banyak kekurangan, kesalahan dan dosa itu menjalankan jabatannya, tentulah rakyat berharap banyak. Salah satu yang paling penting sekaligus paling populer adalah harapan agar sang pejabat dapat memimpin pemberantasan korupsi. Setidaknya dalam lingkup wilayah kekuasaan sang pejabat.

Namun, di tengah keberadaan para pejabat pemerintah yang berhasil menduduki jabatan mereka karena pencitraan, sebenarnya harapan itu tidak realistis. Korupsi adalah sebuah gejala krisis psikososial-kultural dalam bangsa Indonesia. Jadi, harapan rakyat terhadap para pejabat pemerintah untuk memimpin pemberantasan korupsi jelas menggadaikan betapa para pejabat pemerintah itu adalah pribadi-pribadi yang luar biasa baiknya, luar biasa kelebihan-kelebihannya, dan luar biasa beraninya.

Mengubah suatu kebiasaan psikososial-kultural seperti korupsi di Indonesia, adalah suatu pekerjaan sangat luar biasa besar, sulit, sulit dan mengerikan. Pekerjaan seperti itu tidak bisa dilaksanakan oleh pemimpin atau penjabat pemerintah yang biasa-biasa saja, apalagi oleh pemimpin yang sesungguhnya memiliki banyak kekurangan, kesalahan dan dosa yang selama ini berkat pencitraan dapat dikelabukan dihadapan publik.

Di tengah kampanye bergelimang pencitraan, para calon pejabat pemerintah menebar banyak janji. Perilaku “banyak menebar janji” ini adalah salah satu ciri pribadi yang sesungguhnya  memiliki banyak kekurangan, kesalahan, dan dosa.

Perilaku itu sebenarnya adalah sebuah bentuk pengelabuan juga (dalam psikoanalisis, disebut mekanisme bertahan). Dalam genggaman para pejabat yang sebenarnya memiliki banyak kekurangan, kesalahan dan dosa, dapat ditebak bahwa janji-janji itu bakal tidak dapat dipenuhi. Apalagi janji-janji itu terkait dengan pelaksanaan pekerjaan luar biasa besar, sulit, dan mengerikan seperti pemberantasan korupsi.

Dengan demikian, begitu besar dosa pencitraan di hadapan rakyat Indonesia. Pencitraan menghadirkan ketidakjujuran dan ketidakbenaran, yang kemudian selalu berbuah kerentanan psikososial. Suatu bentuk kekecewaan mendalam di hati sanubari karena “citra-citra hebat” yang ternyata hanyalah ilusi-ilusi, itu secara sedikit demi sedikit, tetapi pasti rontok, hanya menyisakan wajah dan keadaan sebenarnya yang begitu banyak kekurangan, kesalahan, dan dosanya.

Kendati pencitraan begitu besar dosanya terhadap rakyat Indonesia, agaknya pencitraan masih akan menjadi andalan utama bagi orang-orang yang berambisi ingin jadi pemimpin-pejabat pemerintah dan melalui pemilihan langsung di negeri ini.

Sisi buruk sebuah pencitraan. 1. (satu). Pencitraan sesungguhnya adalah pengelabuan atas kekurangan, kesalahan, dan dosa, calon pejabat pemerintah atau calon pemimpin. 2 (dua). Pencitraan yang begitu kuat dan ekstrem justru secara tanpa sadar untuk menutupi kekurangan, kesalahan, dan dosa yang sesungguhnya juga sedemikan besar dan ekstrem. 3 (tiga). Pencitraan hampir selalu pada kemudian hari membuahkan kekecewaan mendalam.

Dengan memperhatikan ketiga peringatan itu, mungkin rakyat yang akan memilihnya akan dapat selangkah lebih maju dan lebih cerdas, manakala dalam memilih calon pemimpin dan pejabat pemerintah. Kendati demikian ilusi-ilusi pencitraan masih akan terus berjalan dalam menghadapi Pilkada, Pileg, dan Pilpres di tahun mendatang nanti. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply