Ritual Nyangku, Tradisi Menghormati “Leluhur”

29/02/2012 0 Comments

Iring-iringan pembawa pusaka, saat disambut seni gembyung, sebelum tiba di nusa Gede. Foto : DIcky Haryanto Adjid/HR.

Panjalu, (harapanrakyat.com),- Ribuan orang tumpah ruah menghadiri prosesi Nyangku, Senin, (27 Mulud 1432 H/ 20 Februari 2012 M, di alun-alun Kec. Panjalu. Mulai dari sesepuh, keturunan Raja Panjalu R. H. Atong Cakradinata, R. Edi Hernawan Cakradinata, warga asli Panjalu dari Cirebon, Majalengka, Bandung, Bogor, dan Jakarta, pada event itu semuanya berkumpul.

Dalam acaa tersebut, Bupati Ciamis H. Engkon Komara, Kepala Dinas, Camat, Muspida, dan Wagub Jabar, H. Dede Yusuf, menyempatkan hadir mengikuti tradisi nyangku, yang sudah berjalan selama ratusan tahun tersebut.

Prosesi Nyangku disaksikan ribuan orang, diiringi shalawatan yang menggema. Ditambah dengan tepak gembyung serta helaran, membuat tradisi ini melebur secara hikmat. Acara dimulai pada pukul 09.30 pagi, menjadi fenomena budaya yang unik.

Ribuan pasang mata tak henti mengikuti prosesi mulai dari Aleutan rombongan  yang bergerak pelan menuju Situ Lengkong. Dilanjutkan iring-iringan para tokoh dan pembawa pusaka menyebrangi situ menuju Nusa Gede untuk melaksanakan tawasulan di makam Hariang Kancana. Di dermaga Nusa Gede, rombongan kembali disambut seni gembyung yang sejak pagi tak henti melantunkan shalawat.

Selepas itu, lalampahan dilanjutkan menuju alun-alun Panjalu untuk melaksanakan ritual pencucian pusaka, warisan para leluhur. Sebelum dicuci, seluruh pusaka dibariskan di atas tempat khusus.

Kemudian balutan kain pusaka dibuka satu persatu, oleh R.H. Atong Cakradinata, sesepuh dan keturunan dari kerajaan Panjalu. Adapun risalah  riwayatnya dituturkan  oleh R. Edi Hernawan Cakradinata. Kemudian benda  pusaka yang terdiri dari Pedang, Kujang, dan Gentra dicuci di atas menara bambu oleh petugas siraman.

Tak ayal, ribuan pasang mata terfokus pada jalannya prosesi pencucian itu. Dan itulah puncak Nyangku yang sangat ditungu-tungu oleh banyak khalayak. Acara itu juga menjadi berkah bagi ratusan  pedagang yang mengais rizki di sekitar Alun-alun Panjalu dan Situ Lengkong.

“Prosesi Nyangku artinya membersihkan benda-benda pusaka warisan leluhur atau ngumbah jimat  sekaligus sebagai penghormatan terhadap leluhur-leluhur Panjalu. Sebenarnya sebelum prosesi utama hari ini, sebelumnya dilakukan prosesi juga seperti pengajian dan pengambilan air dari 9 mata air,” ungkap Mumu, seniman Ciomas, Kepada HR, Via telepon Selulernya.

Mamat, Staff/ pegawai Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) kab. Ciamis, Minggu lalu, mengatakan, pihaknya mengeluarkan 500 undangan. 200 undangan untuk birokrat, dan 300 undangan untuk warga Panjalu. (dk/hendaya)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply