SDM Koptan Minim Pengalaman, Itik Bantuan Pemkab Mati

29/02/2012 0 Comments

Kandang itik milik Koptan Paku Alam IV, di Dusun Babakan Desa Cipaku dibuat asal-asalan. Sebagian besar itik mati, karena kondisi kandang dan cuaca dingin. Foto : Eji Darsono/HR.

Cipaku, (harapanrakyat.com),- Itik bantuan dari Pemkab. Ciamis yang diterima Kelompok Tani (Koptan) Ternak Paku Alam IV, Dusun Babakan Desa Cipaku, pada akhir tahun 2011, sebagian besar mati. Hal itu disebabkan, karena anggota Koptan/ para peternak itik dinilai belum memiliki pengalaman dalam merawat dan memelihara itik.

Petugas Penyuluh dari BP3K Kec. Cipaku, Ewo, (18/2), membenarkan, kurangnya pengalaman anggota Koptan Paku Alam IV, mengenai tata cara beternak/ budidaya itik membuat separuh itik, dari jumlah bantuan 250 ekor, mengalami mati.

Ewo mengaku, pihaknya sudah menghimbau agar anggota Koptan Paku Alam IV, mempelajari, mencari wawasan soal pemeliharaan itik kepada peternak yang lebih berpengalaman, sebelum mendapatkan bantuan itik.

Namun, Ewo menyayangkan, himbauan yang pihaknya berikan kepada anggota Koptan Paku Alam IV tidak diindahkan. Akibatnya, sebagian besar bantuan itik milik anggota Koptan tidak bisa diselamatkan.

Meski demikian, Ewo tetap berharap, anggota Koptan bisa semaksimal mungkin memelihara itik yang masih hidup. Dia juga menambahkan, agar kematian sebagian besar itik bantuan tersebut, menjadi pelajaran dan pengalaman berharga bagi anggota Koptan.

“Untuk itu, perlu ditingkatkan pemeliharaannya, baik dalam pemberian pakan ataupun keberadaan kandang. Kondisi kandang yang ada saat ini kurang maksimal, lantaran tidak disertai kandang tertutup, sebagai tempat itik beristirahat dan menghindari hawa dingin,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Bendahara Koptan Paku Alam IV, Abdullatif, Sabtu (18/2), di kediamannya, mengatakan, bantuan itik yang diterima kelompoknya berjumlah 250 ekor. Dari total jumlah tersebut, kata dia, jumlah itik yang saat ini masih hidup sekitar separuhnya.

Adullatif mengutarakan, kematian sebagian besar ternak itik yang ada di kelompoknya diakibatkan oleh cuaca/ iklim. Menurut dia, itik yang dipelihara anggota kelompok Paku Alam IV tidak mampu bertahan dalam cuaca dingin.

Sementara itu, Iding, peternak asal Desa Ciakar, menilai pemeliharaan yang dilakukan selama ini sudah cukup intensif. Diantaranya, sudah ditempatkan di kandang, dan diberi makan secara terus menerus.

Hanya saja, aspek-aspek teknis pemeliharan yang baik dan benar belum sepenuhnya diperhatikan, dan hal itulah yang mengakibatkan angka kematian itik terus  bertambah.

Menurut Iding, meski itik merupakan unggas air bukan berarti itik mampu hidup bertahan dalam suhu yang dingin/ rendah. Terlebih, pemeliharaan itik yang masih anak/ masa starter, perlu disimpan dalam kandang khusus, menggunakan alat yang bisa memberikan rasa hangat bagi anak itik.

Iding menambahkan, itik berumur 1-14 hari, tidak mampu bertahan dalam cuaca dingin. Soalnya, itik itu belum dilengkapi bulu yang sempurna, untuk menahan hawa dingin.

“Selain itu, pakan untuk itik juga harus mempunyai kandungan protein sekisar 19-21 persen. Untuk masa pertumbuhan/ grower, keberadan kandang harus hangat, dan bersih,” pungkasnya. (dji)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply