Sepenggal Cerita Kemisikinan di Parunglesang

29/02/2012 0 Comments

Kemiskinan merupakan masalah global. Seperti dialami keluarga Ajat Sudrajat (61), dan istrinya Neni (59), warga RT 01 RW 10, Ling. Parunglesang, Kel/Kec. Banjar, Kota Banjar, yang hidup di bawah garis kemiskinan. Saat ditemui HR di rumah gubuknya berukuran sekitar 3 x 6 meter, mereka mengaku, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sangat lah sulit. Sakit yang diderita Ajat membuat kondisi perekonomian keluarganya semakin merosot, karena Ajat sudah tidak mampu lagi bekerja. Semasa sehat, Ajat sendiri hanya bekerja sebagai penarik becak yang penghasilannya tidak menentu. Poto diambil Minggu (19/2). Foto : Eva Latifah/HR.

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.

Eva Latifah

Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global.

Seperti yang dialami keluarga Ajat Sudrajat (61), dan istrinya Neni (59), warga RT 01 RW 10, Lingkungan Parunglesang, Kel/Kec. Banjar, Kota Banjar, yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Saat ditemui HR di rumah gubuknya yang berukuran sekitar 3 x 6 meter, Minggu (19/2), mereka mengaku, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sangat lah sulit.

Menurut Neni, sakit yang diderita suaminya membuat kondisi perekonomian keluarganya semakin merosot, karena Ajat sudah tidak mampu lagi bekerja. Semasa sehat, Ajat sendiri hanya bekerja sebagai penarik becak yang penghasilannya tidak menentu.

Pasangan suami istri (pasutri) tersebut dikaruniai tiga orang anak, satu orang perempuan dan dua orang laki-laki. Dua diantaranya sudah berumah tangga, namun kehidupannya pun tidak jauh berbeda dengan orang tuanya. Sedangkan anak bungsunya, Triharyono (30), masih tinggal serumah dengan Ajat dan Neni.

Untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, kini Ajat dan istrinya hanya mengandalkan penghasilan Triharyono yang bekerja sebagai penarik becak, sebab anak bungsunya lah yang menjadi tulang punggung keluarga sejak Ajat mulai sering sakit-sakitan.

Penghasilan anaknya dari menarik becak memang tidak pasti, apalagi dijaman seperti sekarang ini, yang mana masyarakat sudah banyak memiliki kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, sehingga kondisi tersebut menjadi semakin sulitnya untuk mendapatkan penumpang.

Bila dirata-ratakan, dalam sehari penghasilan Triharyono hanya Rp.10.000 saja, bahkan terkadang tidak sepeser pun dia bisa membawa uang saat pulang ke rumah. Selain untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari keluarganya, Triharyono pun harus membayar setoran becak sebesar Rp.3.000 per hari.

Jika anaknya tidak mendapatkan uang, terkadang Neni mendapat bantuan beras dari saudaranya. “Dikasih beras ada sekilo atau lebih. Tapi kalau keseringan kan malu,” ujar Neni.

Bagi mereka, bisa makan sehari dua kali saja itu sudah untung. Sedangkan untuk lauk pauknya, Neni mencari lalapan ke kebun yang ada di pinggiran Sungai Citanduy, seperti daun singkong, daun tangkil (melinjo), atau daun pepaya. Itu pun terlebih dahulu meminta kepada si pemilik kebun.

Sementara bagi Triharyono, bukan tidak mau mencari kerja ke luar kota seperti yang dilakukan teman-temannya. Namun, dia tidak tega jika harus meninggalkan kedua orang tuanya yang sering sakit-sakitan, terutama Ajat, bapaknya.

Himpitan ekonomi yang dirasakan keluarga Ajat tidak serta-merta membuat mereka putus asa dalam menjalaninya. Mereka percaya, Tuhan akan selalu memberikan rejeki selama hamba-Nya selalu berdoa dan mau berusaha.

Rumah yang berdiri di atas tanah seluas 5 bata warisan dari orang tua Ajat memang jauh dari kata rumah sehat. Kerusakan terlihat di beberapa bagian rumahnya. Bukan tidak ingin membetulkan kerusakan-kerusakan tersebut, untuk makan sehari-hari saja terkadang tidak mencukupi, terlebih di saat harga beras mahal seperti sekarang yang mencapai kisaran Rp.7.000-Rp.8.000 perkilo.

Namun, mereka juga mengaku pernah mendapatkan bantuan untuk merehab rumah dari program padat karya, yaitu berupa semen dua sak, bilik bambu tiga lembar dan pasir empat roda atau kurang lebih satu kubik. Bantuan yang diterima itu belum bisa menjadikan rumahnya sebagai rumah sehat.

“Jangankan memperbaiki rumah, buat makan juga susah. Meski ada beras raskin dari pemerintah yang harganya murah, tapi tidak mencukupi untuk makan selama satu bulan, karena dapat jatah 5 kilo. Kalau orang mampu sudah tidak memikirkan masalah kebutuhan pokok, yaitu makan, tapi mikirnya buat membeli kebutuhan barang-barang yang lain,” kata Triharyono.

Mereka berharap, diusia Kota Banjar 9 tahun ini, pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib warga miskin sepertinya, hal itu supaya kehidupan perekonomian warga miskin dapat meningkat.

Sementara itu, Ketua RT 01 RW 10, Dede Setiawan, membenarkan apa yang dialami keluarga Ajat. Menurut Dede, berdasarkan hasil survey dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Banjar, bahwa jumlah warga miskin terbanyak di wilayah Kelurahan Banjar berada di lingkungannya, dan salah satunya adalah keluarga Ajat.

Dari jumlah sebanyak 66 Kepala Keluarga (KK), hanya terdapat 2 KK saja yang dikategorikan tergolong mampu. “Rata-rata warga di sini bekerja sebagai buruh serabutan, ada tukang becak, buruh bangunan dan buruh nyetak bata merah. Jadi jika dipersentasekan itu 99% tidak mampu, termasuk juga saya sebagai Ketua RT-nya,” tutur Dede.

Bahkan, lanjut dia, ketika ada petugas Polisi Saba Bumi (PSB) dari Polresta Banjar melakukan kunjungan ke rumahnya untuk menanyakan mengenai keamanan dan ketertiban di lingkungan RT 01, Dede menjelaskan, bahwa selama ini di lingkungannya aman, tidak pernah terjadi ada keributan ataupun kemalingan.

“Saya jelaskan lingkungan kami aman dan tertib, karena apa yang mau diambil oleh maling, warganya juga kebanyakan orang tidak mampu semua,” ujarnya.

Dede menambahkan, di tahun 2012 ini berharap lingkungannya bisa mendapatkan kembali bantuan fasilitas umum dari pemerintah berupa sarana mandi, cuci, kakus (MCK) yang representatif/sehat, lantarana masih banyak warga yang belum menerapkan pola hidup sehat akibat faktor ekonomi. Serta, bantuan modal usaha untuk meningkatkan kehidupan perekonomian masyarakat miskin. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply