Tak Semudah Membalikan Tangan, Menjadikan Publik Raja di Sebuah Kota

29/02/2012 0 Comments

Diskusi Secangkir Kopi Panas : Bagian ke – 5 (habis)

Oleh : Adi Karyanto & Eva Latifah.

Dari Redaksi :
Dalam lima minggu ini, Koran HR (Harapan Rakyat) menyelenggarakan beberapa diskusi informal yang melibatkan para pemangku kepentingan di kota Banjar. Acara digelar sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Banjar ke-9. Ada mimpi, ada harapan, ada cita-cita. Semua dirajut dalam diskusi informal yang bertajuk “Secangkir Kopi Panas”.
Yang menarik, diskusi tersebut dipenuhi dengan gagasan-gagasan kaum muda Kota Banjar dan banyaknya sambutan dari para pembaca HR yang budiman, lewat SMS dan e-mail masuk ke meja redaksi dari berbagai penjuru kota. Tidak hanya dalam edisi cetak HR, datang juga pembaca lewat edisi digital www.harapanrakyat.com. Untuk itu, Pimpinan Umum HR menugas Pemred HR Subakti Hamara dan jajaran redaksi dan salah satu tim litbang HR Asep Mulyana S.IP.MA., untuk mengkaji SMS dan e-mail yang masuk ke meja redaksi.
Sambutan dari sidang pembaca yang budiman, yang mencengangkan anak-anak muda itu bukan berasal dari komunitas pekerja sosial (social worker) atau aktivis LSM. Mereka adalah anak-anak muda yang baru akan menaiki tangga birokrasi. Mereka berasal dari eselon 4 dan 3 di Sekretariat Daerah (Setda) Kota Banjar, membuka baju birokrasinya mengeluarkan ide-idenya meskipun hanya sebuah mimpi (Visi).
Mimpi, harapan, dan cita-cita anak-anak muda dirajut oleh surat kabar urang Banjar jeung Ciamis HR (Harapan Rakyat) setiap Rabu, dalam sebuah obrolan ringan tapi bermutu. Pertanyaan-pertanyaan kritis, konstruktif meluncur dari anak-anak muda ini.
Berbagai soal mengemuka, mulai peningkatan daya beli masyarakat, laju pertumbuhan ekonomi kota, manajemen kewirausahaan birokrasi, peningkatan tabungan investasi, pengelolaan pertumbuhan penduduk, hingga gagasan untuk membangun wisata kota.
Pertanyaan-pertanyaan orisinil dari anak muda ini meluncur lugas melampaui sekat-sekat dan ewuh-pakewuh dalam birokrasi kita. Gagasan-gagasan mereka yang orisinil, kemudian dirumuskan secara cerdas sebagai jawaban atas pertanyaan kritis yang mereka rumuskan sendiri. Dan dikemas redaksi HR untuk disuguhkan kepada sidang pembaca yang budiman.
Kehadiran mereka seakan mengusir pesimisme kita akan kaum muda. Dewasa ini, kemunculan koruptor-koruptor berusia muda telah mencoreng wajah kaum muda. Kaum muda yang dulu lekat dengan citra sebagai agen perubahan sosial, dinamisme, dan kritisme, seketika hancur dengan kemunculan kasus Gayus Tambunan dan Nazarudin.
Belakangan bahkan muncul fenomena PNS muda yang memiliki rekening gendut. Rekening gendut tentu saja identik dengan kecurigaan bahwa regenerasi koruptor telah terjadi ketika PNS-PNS berusia muda memiliki rekening dengan jumlah saldo yang mencurigakan. “Yang Muda Yang Korupsi” menjadi anekdot akhir-akhir ini untuk menggambarkan fenomena korupsi di kalangan kaum muda kita.
Namun demikia, pesimisme kaum muda itu mulai tergerus di Kota Banjar. Seperti diuraikan diatas, kehadiran kaum muda yang kreatif dan kaya gagasan dalam birokrasi Pemkot Banjar merupakan fenomena baru yang membangun optimisme warga Kota Banjar harus mampu menciptakan iklim dan budaya kerja yang egaliter dan berbasis kinerja.
Upaya ini penting, karena kaum muda yang kreatif dan kaya gagasan adalah motor bagi perubahan sosial. Pimpinan Umum HR, mengutip seperti apa yang dikatakan Bung Karno Presiden pertama di Republik ini. “Berikan Aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncang dunia”.
Peserta diskusi informal masih tetap bertahan 7 orang, H. Agus Nugraha, S.Sos. M.Si., Asno Sutarno, SP.MP., H. Basir, SP.MP., Ery K Wardana, ST., Rahmat Barkah, SE., Dede Tito Ismanto, ST.MT., Wawan Setiawan, SH. M.Si., Subakti Hamara Pemimpin Redaksi HR dan staf redaksi.

***

Sepak terjang peserta diskusi Secangkir Kopi Panas tidak kenal lelah dalam mencari pemikiran-pemikiran dan ide-ide baru, walaupun hanya mimpi/dreaming, tiada lain hanya untuk berdiskusi dan bercerita secara global tentang konsep-konsep perencanaan awal, tengah, sejalan dengan suatu keadaan bahwa akan berakhirnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) pada tahun 2013 nanti.
Seiring dengan akan berakhirnya masa jabatan Walikota, maka para peserta diskusi Secangkir Kopi Panas selalu diarahkan (dengan moderator) seorang pemilik koran lokal yang berwawasan global, dibantu Pemimpin Redaksinya, sehingga akhirnya mampu mengatur jalannya diskusi yang sangat luar biasa, walaupun terdapat beberapa konflik pemikiran-pemikiran.
Namun pada akhirnya semua sadar, bahwa inilah karakteristik peserta yang rata-rata mempunyai kompetensi sangat berbeda antara satu sama lainnya, akan tetapi mampu menyajikan konsep-konsep sangat luar biasa, karena didasari oleh sesuatu yang sama, yaitu “Lihatlah cinta Banjar di dadanya.”
Kemudian, peserta Secangkir Kopi Panas dengan tidur yang lelap, kami semua sadar, ketika terbangun dari tidurnya bahwa diskusi yang kita lalui bersama telah memasuki bagian ke-5.
Semua perjalanan tersebut dapat memberikan suatu analisa-analisa ke arah prospek pembangunan Kota Banjar kedepan. Intinya, bagaiman mewujudkan Banjar sebagai kota yang tak pernah tidur, serta menjadikan Kota Banjar menjadi magnet, modal, sosial dan perilaku sebagai pemicu laju pertumbuhan ekonomi, juga mempunyai konsep atau inovasi managemen perkotaan. Itu semua ternyata harapan-harapan dari seluruh pemangku kepentingan pembangunan yang ada di Kota Banjar sendiri.
Tetap konsistennya diskusi ini dalam menata konfigurasi, peserta Secangkir Kopi Panas agar tetap konsisten terhadap analisa-analisanya.

***

Perjalanan diskusi kami diakhiri dengan ucapan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan ijin-Nya segala urusan di bumi ini bisa dilalui dengan penuh upaya, kebersamaan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, sehingga diskusi kami bersamaan dengan hari jadi Pemerintah Kota Banjar pada usianya ke-9 tahun.
Dalam usia yang masih sangat muda ini, tatanan pemerintah kota telah menghantarkan pada program yang dijadikan acuan. Prosesi pembangunan berkelanjutan dengan momen pembangunan IPM, infrastruktur perkotaan dan pemerintahan, serta memacu Produk Domestik Bruto (PDB) Kota Banjar, tiada lain suatu kesungguhan pemerintah dan komitmen kepala daerah dalam menghantarkan cita-cita masyarakat Kota Banjar menuju kesejahteraan.
Pelaksanaan ke arah tujuan sejahtera tidak mudah dicapai, banyak tantangan dan hambatan. Tetapi itu bisa terlewati bila ada sisi komitmen lain yang perlu bersama-sama menopang terhadap proses pelaksanaan, yaitu komitmen pelaku dunia usaha sebagai bagian kemitraan untuk berkiprah dalam menggerakan kerangka pembangunan, memacu laju pertumbuhan ekonomi (LPE), serta dukungan masyarakat sebagai prestasi masyarakat dalam mewujudkan kemandirian Kota Banjar kedepan.
Hal-hal tadi perlu adanya perilaku dan sikap yang lebih profesional, dan mindset dari kita semua guna mendukung ke tatanan good governance, dimana betul-betul mengintegrasikan pilar-pilar yang menopang pada tujuan tadi, yaitu pemerintah dengan birokrasinya yang dapat menghantarkan cita-cita masyarakatnya.
Keterlibatan sektor swasta sebagai dukungan terhadap roda-roda usaha, serta kemandirian masyarakat yang lebih utama. Dari ketiga pilar itu lah mestinya tujuan kemandirian Kota Banjar akan menghantarkan masyarakatnya pada kesejahteraan.
Akan tetapi, perjalanan yang masih dini ini perlu kita pahami bersama, karena masih jauh dari semestinya. Langkah-langkah gambaran tadi membawa ilustrasi kita pada hal-hal yang belum puas dirasakan publik, dan masih lemahnya penopang pilar-pilar tadi.
Padahal, perjalanan 9 tahun ini telah banyak merubah wajah daerah, yang tadinya masih serba ketergantungan pada pemerintah kabupaten sebagai induknya, sekarang telah nyata dirasakan kita semua, mulai dari segi infrastruktur jalan, pekantoran, maupun infrastruktur yang menunjang untuk terciptanya kebersihan lingkungan di Kota Banjar, salah satunya telah tersedianya tempat pengolahan sampah berbasis 3 R.
Selain itu, telah terjalinnya koordinasi antara pemerintah kota dengan pihak Perum Perhutani dan Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWSC), dalam rangka memelihara serta menjaga kebersihan di sekitar bantaran Sungai Citanduy dan Gunung Babakan, tepatnya di sepanjang lintasan Jl. Siliwangi.
Artinya, resume diskusi kami menyimpulkan, tidak semudah membalikan tangan menjadikan publik raja di sebuah kota, akan tetapi kita masih merasakan lemahnya daya saing, masih kurangnya keterlibatan sektor swasta dan kerativitas, inovatif dalam membaca peluang, serta rendahnya partisipasi masyarakat. Selain itu, paradigma berfikir kita harus berubah untuk menuju cita-cita tadi.

***

Sejak adanya Undang Undang Nomor 27 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Banjar di Provinsi Jawa Barat, dan diresmikan tanggal 21 Februari 2003 silam, merupakan buah hasil perjuangan yang tak kenal lelah dari segenap elemen masyarakatnya, dengan motor penggerak Forum Peningkatan Status Kota Banjar (FPSKB).
Berpatokan pada tanggal 21 Februari 2003 itu lah akhirnya dijadikan momentum bagi Hari Jadi Kota Banjar. Tidak terasa, tanggal 21 Februari 2012 sekarang ini, Kota Banjar sebagai daerah otonom yang mandiri sudah menginjak usia 9 tahun. Sungguh suatu hal yang sangat menggembirakan dan layak untuk diapresiasi oleh segenap elemen masyarakat Kota Banjar.
Dalam hal ini, kami dari skuad diskusi Secangkir Kopi Panas telah beberapa kali mendiskusikan berbagai peluang yang dapat diwujudkan untuk memajukan, serta meramaikan kehidupan di Kota Banjar tercinta ini.
Apabila kita menyimak, merenung, menganalisis dari beberapa hal dan ihwal tersebut di atas, pada akhirnya kami sangat mafhum bahwa beban tugas yang diemban oleh Walikota Banjar dalam memimpin daerahnya memang sangat berat adanya.
Dimulai dari modal dasar Banjar ketika awal memisahkan diri dari kabupaten induknya, yaitu Kabupaten Ciamis, dengan keadaan yang memang sebegitu adanya, kemudian dilakukan suatu proses pembangunan yang menyeluruh dan terintegrasi dengan dukungan dari seluruh masyarakatnya. Sehingga, sampailah Kota Banjar kita tercinta ini seperti sekarang.
Seperti kata pepatah “Tak ada gading yang tak retak atau No boddy perfect,” juga menurut keterangan bahwa “Manusia itu tidak ada yang sempurna,” sudah tentu di dalam proses pembangunan sampai sekarang, untuk kota ini masih terdapat banyak kekurangan yang harus kita perbaiki bersama.
Jadi dalam hal ini, marilah kita semua bahu-membahu untuk lebih memajukan dan mengembangkan kota kita ini supaya lebih optimal perkembangannya, sehingga nilai perekonomian masyarakatnya pun semakin meningkat.
Beberapa hal yang seyogyanya kita kaji bersama mengenai peluang dan tantangannya, seperti konsennya pada visi dan misi kota, kebijakan publik/regulasi penunjangnya, beberapa titik perbatasan yang harus difush perkembangannya, masalah lingkungan hidup, keberadaan ruang publik/open space.
Kemudian, pemunculan growth pole atau ground ekonomi baru, keberadaan kehutanannya, pertamanan dengan persampahannya, perdagangan dan jasa, pariwisata dan budaya, peluang investasi dan Sumber Daya Alam (SDA). ******

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply