Benahi Dulu Data UMKM Kota Banjar

22/03/2012 0 Comments

Oleh : Dede Tito Ismanto

 

Dede Tito Ismanto

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu daerah, tidak terkecuali di Kota Banjar. Sebagai gambaran UMKM sering dijadikan pahlawan ketika terjadi gejolak/krisis ekonomi melanda suatu daerah. Katakanlah Tahun 2009 – 2010, saat dunia dihebohkan oleh resesi ekonomi yang bermula dari ‘krisis mortgage’ di Amerika, Indonesia terkena imbasnya. Krisis keuangan yang bermula dari ‘batuknya’ pasar saham di Negeri Uncle Sam, dalam waktu cepat menggoyang ekonomi dunia. Bursa saham rontok. Bursa Efek Indonesia, BEI-pun melakukan suspend perdagangan setelah menyaksikan terjungkalnya harga saham hingga menurunkan point Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 10%. Sektor Perbankan lagi-lagi menjadi korban. Sektor yang menjadi penyalur, perantara serta receiver dana pembangunan ini ikut terpuruk bersama sektor lainnya seperti pertanian, pertambangan, perindustrian dan telekomunikasi. Bagaimana dengan UMKM? Sektor ini, khususnya Mikro dan usaha Kecil kembali mendemonstrasikan eksistensinya. Usaha Kecil dan Mikro mampu bertahan hidup dan nyaris tak terpengaruh oleh dampak krisis ekonomi dunia. Termasuk ketika nilai rupiah (Rp) anjlok ke posisi Rp. 11.000/ USD 1

Sebegitu pentingnya peran UMKM dalam perekonomian nasional ataupun daerah, tentunya kita berharap setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun tepat sasaran dan berkelanjutan. Berbicara tepat sasaran, sudah pasti kita membutuhkan data yang akurat. Permasalahan yang selama ini dirasakan adalah kurangnya ketersediaan data. Kota Banjar adalah kota kecil yang terdiri sari 16 desa dan 8 kelurahan, artinya sangat dimungkinkan kita mempunyai data UMKM by name by address baik itu yang formal atau pun non formal tapi kenapa ketersediaan data tersebut masih dianggap belum penting?

Padahal apabila kita melihat target yang ada di misi kedua dalam RPJMD Kota Banjar, jelas sekali pelaku utamanya adalah UMKM. Untuk mencapai laju pertumbuhan ekonomi (LPE) yang ditetapkan misalnya, sudah barang tentu UMKM yang ada di Kota Banjar harus berkembang skala bisnisnya, yang tadinya berskala mikro harus bertransformasi menjadi skala kecil atau bahkan menengah kemudian tumbuh menjadi perusahaan besar. Dengan begitu LPE yang diharapkan pun dengan sendirinya akan tercapai. Berbicara penyerapan tenaga kerja, lagi-lagi UMKM yang berkembang akan berkorelasi positif dengan penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ada beberapa kriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan Pengertian dan kriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Kriteria kelompok Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan dengan asset tidak lebih dari 50 juta dan omzet maksimal 300 juta. Kriteria kelompok usaha kecil memiliki asset antara 50 juta – 500 juta dengan omzet 300 juta – 2,5 milyar, sedangkan yang masuk kriteria kelompok usaha menengah memiliki asset antara 500 juta – 10 milyar dengan omzet 2,5 milyar – 50 milyar per tahun.

Beberapa alasan kenapa UMKM di Kota Banjar perlu disurvey atau disensus? Pertama, kebutuhan akan ketersediaan data yang akurat untuk dasar perencanaan yang tepat sasaran. Dengan adanya data tersebut tentunya kita bisa mengidentifikasi masalah-masalah yang menyebabkan kenapa usahanya tidak berkembang, apakah itu kendalanya permodalan atau jaringan pemasaran yang sempit atau bisa juga suply bahan baku yang terhambat dan masih banyak lagi. Adalah kewajiban pemerintah kota untuk memfasilitasi berbagai kebutuhan yang diperlukan para pelaku UMKM untuk meningkatkan segala sesuatunya, mulai dari peningkatan kapasitas SDM, manajerial bisnis, pemasaran, intermediasi perbankan dan lain-lain.
Kedua, data tersebut sangat berguna untuk penentuan target kinerja yang lebih realistis. Kalau kita lihat target-target kinerja dinas teknis sekarang ini rasanya kurang greget, belum lagi tufoksi yang masih tumpang tindih. Contohnya, di bidang perindustrian masih ada kegiatan pameran yang seharusnya cukup di bidang perdagangan saja karena memang tufoksinya memfasilitasi pengembangan pemasaran. Bidang perindustrian harusnya lebih fokus ke peningkatan skala produksi. Cukup satu saja karena tugasnya memang berat, bagaimana menstransformasikan skala usaha dari mikro menjadi kecil dan menengah. Urusan permodalan ada bidang koperasi yang akan menangani. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!