Kekerasan di Sekitar Kita

22/03/2012 0 Comments

Akhir-akhir ini kekerasan berupa pembunuhan semakin meningkat. Kenyataan menunjukan, perbuatan menghilangkan nyawa orang lain itu dilakukan tanpa pandang usia, tempat dan waktu.

Pembunuhan yang dilakukan TA tukang becak, terhadap mantan istrinya Yuyun dilakukan dihadapan anak kandungnya Taufik, Jum’at 2 Maret yang lalu di Lingkungan Lembur Balong, Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman Kota Banjar, menggegerkan warga kota. Kejadian yang sama juga terjadi di daerah itu, Hendi Supriadi alias Ade Keling dibunuh dengan tusukan pisau di daerah yang sama, yang dilakukan oleh kelompok geng motor Minggu 4 Maret. Sampai berita ini ditulis si pelaku pembunuhan Ade Keling masih belum tertangkap polisi.

Minggu dini hari 18 Maret juga telah terjadi kepada 3 orang pemuda di Kecamatan Kalipucang Ciamis selatan, tiba-tiba diserang sekelompok pemuda dengan senjata tajam. Akibatnya dua pemuda yang diserang mengalami luka-luka sabetan senjata tajam, seorang lagi selamat berhasil melarikan diri dari serangan kelompok pembantai. Si kelompok pemuda pembantai berhasil lolos dari kejaran masyarakat, dan yang berhasil dijadikan barang bukti golok, samurai, dan parang yang diduga digunakan pelaku.

Menggambarkan betapa masyarakat di Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis, yang dikenal ramah, berjiwa sosial dan bersemangat gotong royong, kini tega berperilaku sadistis. Penyebab tindak pidana di atas beragam, mulai dari masalah sangat sepele hingga teramat kompleks.

Beberapa fakta diatas menunjukan betapa mahal keamanan di wilayah kita ini. Nyawa manusia sudah tidak ada nilainya. Seakan motto “bunuh dulu, urusan belakangan” menjadi suatu perilaku yang tumbuh subur di sini. Mengapa seseorang sudah sedemikian mudah melakukan kejahatan dengan kekerasan, khususnya pembunuhan?. Sesuatu pertanyaan yang tidak bisa dijawab, memuasakan oleh kriminologi. Berikut beberapa kemungkinannya.

Pembunuhan dan perilaku :

Perspektif klasikal telah mencoba menjelaskan, bahwa dalam masyarakat terdapat sejumlah orang yang merasa takut terhadap sanksi, baik sanksi sosial maupun hukum. Dalam keadaan frustasi, mereka tak segan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan dan kepentingan bermacam-macam.

Perilaku yang mengedepan “membunuh dulu, sedangkan akibatnya diperkirakan belakangan”, banyak ditemui dalam perspektif sosial. Ketegangan dan frustasi yang dialami seseorang yang tinggal atau hidup di daerah kumuh kelas bawah menyebabkan mereka mudah berperilaku menyimpang. Sebagaimana diketahui, nilai-nilai kelas bawah menekan pada kekerasan dan kekuatan yang mengakibatkan mereka sering berurusan dengan penegak hukum.

Perspektif lain mengacu pada proses sosial. Pada dasarnya, di masyarakat terdapat sejumlah orang yang tak punya kesempatan menikmati institusi konvensional, seperti sekolah, pekerjaan, dan keluarga. Mereka umumnya bereaksi keras, terhadap tekanan hidup sehari-hari.

Dalam mengekspresikan diri secara verbal, mereka berusaha menonjolkan diri agar dihormati orang lain. Cara yang ditempuh untuk mengejar penghargaan tersebut dapat menjurus pada ancaman fisik dan kekerasan. Ini termasuk perspektif psychological behaviourist, yang melihat tindakan kekerasan mungkin meningkatkan derajat/tingkat penggerak agresi. Perspektif lain dalam pendekatan kognitif yang melihat perkembangan sampai batas (titik) dimana mereka dapat memahami akibat dari tindakannya.

Pembunuh jenis ini tidak pernah berpikir dua kali, sebelum melukai bahkan membunuh korbannya. Tentu saja keseluruh uraian diatas tak berpengaruh terhadap mereka yang berasal dari kalangan atas atau terdidik. Kebanyakan dari mereka, apabila dikaitkan dengan tindak pidana pembunuhan, menjadi dalang yang tak terjun langsung ke lapangan. Disini kita harus berhati-hati untuk bisa mengungkapkan siapa berbain dibalik kasus-kasus pembunuhan yang hampir banyak terjadi di seluruh negeri ini.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply