M a b u k

16/03/2012 Berita Terbaru
M a b u k

Akibat dari akumulasi kehidupan tak sedikit orang di negeri ini yang terjerumus, meminum minuman keras beralkohol meskipun akibatnya bisa mematikan. Minimal cacat mental dan fisik, meskipun demikian pencandu minuman memabukan ini banyak memikat orang untuk mencoba dan sampai kecanduan. Dengan mabuk bisa meningkatkan nyali untuk berbuat kekerasan dan nekat bahkan membunuh pun bisa dilakukan diantara sadar dan tidak.

Mabuk sekarang ini dilakukan tidak hanya dikalangan atas, menengah saja, sudah ngetren juga dikalangan bawah dari kota sampai ke desa. Mabuk di negeri ini tidak hanya meminum alkohol belaka, tapi di campur dengan bukan minuman yang memabukan tapi juga dioplos dengan racun serangga dan berbagai jenis lainnya obat-obatan kimia. Yang membikin teler lebih mantap, sampai mematikan. Di berbagai daerah mabuk dengan oplosan racun serangga dan obat keras, menimbulkan kematian berombongan.

Ada cerita lain soal mabuk ini. Warga Indian Sioux Oglala di Pine Ridge Amerika Serikat. Johnson tak sendiri. Puluhan pemuda yang menemaninya mabuk bergelimpangan di pinggiran jalan utama Pine Ridge setiap hari, tak peduli siang, tak juga malam. Mereka tidak bekerja, karena tidak ada lapangan pekerjaan di penampungan. Untuk mencari pekerjaan, mereka harus ke kota terdekat, Denver, di negara bagian Colorado yang berjarak 560 km.

Ini gambaran sebuah penampungan salah satu suku asli Amerika Serikat. Indian Sioux Ogalala di Pine Ridge. Disana 45 ribu orang Indian terlokalisasi di sebuah padang kering nan tandus serta minim fasilitas umum. Potret itu diceritakan Mark Vasina, Presiden Nebraska untuk perdamaian-organisasi nirlaba pembela hak-hak Indian di depan wartawan dua pekan lalu. “Kami lebih melihat pemandangan seperti itu,“ ujarnya.

Pine Ridge adalah penampungan Indian termiskin di Amerika Serikat. Jumlah pengangguran mencapai 80 persen dan sekitar 49 persen warga hidup di bawah garis kemiskinan. Pendapatan perorang hanya sekitar Rp. 1,2 juta perbulan atau Rp.14,4 juta pertahun. Jauh dari standar Amerika yang pendapatan perkapita menurut data pemerintah Rp. 400 juta pertahun. Di Pine Ridge, dalam satu rumah berkamar tiga, bisa hidup 17 orang anggota keluarga.

Menurut Vesina, para tetua Indian di Pine Ridge mulai percaya bahwa alkohol adalah penyebab utama penderitaan rakyat. Bayangkan saja, menurut survey Vasina, di penampungan beredar 13 ribu kaleng bir perhari, belum lagi jenis “air api” lainnya. Karena itu, tak mengherankan kalau hampir setengah dari populasi penampungan itu menderita kecanduan alkohol.

Tekanan kebutuhan dasar yang terus mendesak, kata Vasina, sementara pekerjaan tidak tersedia, menyebabkan penduduk Pine Ridge menjadi sangat frustasi. Alih-alih mencari jalan keluar, mereka mabuk pelarian dari kenyataan. “Derita ini harus kami akhiri,” ujar Yellow Bird Steele, seorang tetua suku Sioux Oglala, yang pada awal Februari lalu berjanji di depan rapat warga untuk tidak mabuk lagi.

Benar, Februari membawa angin baru bagi warga Indian di Pine Ridge. Mereka muak dengan semua derita akibat alkohol. Saking marahnya, rembuk warga pada akhir Januari lalu memutuskan menggugat para produsen minuman beralkohol di Amerika Serikat, yang mereka yakini sebagai biang kesengsaraan bagi orang Indian di penampungan. Akhirnya pada 10 Februari lalu, suku Sioux Oglala secara resmi menggugat 20 pihak sekaligus, termasuk perusahaan bir internasional serta pengecer kecil minuman beralkohol di Whiteclay kota kecil dekat penampungan Pine Ridge dengan besar tuntutan US$ 500 juta.

Gugatan diajukan ke pengadilan Lincoln Nebraska, diwakili oleh Tom White, penasihat hukum dari pihak Indian. Perusahaan raksasa pembuat bir yang mereka gugat antara lain Anheuser-Busch InBev Worl dwide, SAB Miller Coors LLC, dan Pabst Brewing Company.

Dalam gugatannya, menurut White, suku Sioux Oglala menuding pabrik-pabrik bir inilah yang menjadi biang kecanduan alkohol. Akibat kondisi itu, lahir kemiskinan dan penyakit yang tidak saja menyengsarakan orang dewasa, tapi juga bayi yang lahir dari ibu alkoholik. Uang ganti rugi yang hampir Rp 4,5 triliun bila gugatan mereka menang akan digunakan untuk mengganti ongkos kesehatan, layanan sosial, dan rehabilitasi anak-anak.

“Seperti orang tua Amerika dimana pun, kami akan melakukan apa pun yang sesuai dengan hukum untuk melindungi kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan anak-anak kami,” kata Presiden Kesukuan John Yellow Bird Steele kepada kantor berita Associated Press. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles