Narkoba Dalam Peradaban

08/03/2012 0 Comments

Penggunaan narkotika dan zat adiktif di Indonesia semakin mengkhawatirkan dan menimbulkan kengerian ketika pemakainya meluas ke kalangan pilot, polisi, artis, sosialita dan pelajar tak kurang 4 juta warga negeri ini menjadi pemakai barang haram ini. Sindikat narkoba asal Iran kini berada di halaman rumah kita. Awal tahun ini Kepolisian Negara RI nyaris menyergap jaringan narkoba internasional asal Iran-Belanda-Somalia yang menggunakan kapal kargo untuk memasok ribuan kilogram sabu, salah satu jenis metamfetamin.

Kapal tersebut sempat menurunkan sekoci di perairan pantai Ujung Genteng 80 km dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Namun akhirnya kapal diterjang ombak dan tenggelam. Polri berhasil mengungkap sebagian jaringan. Sebelumnya, polisi juga menangkap lima pelaku yang sudah menunggu kiriman sabu dari kapal itu. Ada warga Thailand dan selebihnya warga Iran. Kasus ini dikembangkan setelah polisi melakukan penyergapan di Mangga Dua Jakarta. “Mereka sudah masuk ke tanah air. Jadi, tak mudah bagi polisi melawan sendirian. Diperlukan kerjasama semua pihak,” kata Kepala Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution baru-baru ini.

Terlepas dari tanggapan pada tesis Samuel Huntington tentang Clash of Civilzation (1996), benturan terjadi pada setiap pergerakan zaman dan mengubah sejarah sosial masyarakat. Meski kerap diabaikan, perkembangan obat-obatan terlarang dan psikotropika berada dalam setiap pergerakan itu. Sabu jenis obat terlarang yang sangat popular beberapa tahun terakhir ini, seperti dijelaskan psikiater dr. Al Bachri Hussein, mantan Direktur Rumah Sakit Ketergantungan Obat (BSKO) Cibubur, adalah Kristal metamfetamin.

Situs Foundation of  Drug Free World menjelaskan, metamfetamin adalah salah satu stimulant tipe amfetamin (ATS), ditemukan tahun 1887 di Jerman, dan berkembang di Jepang tahun 1919. Dalam perang dunia ke II digunakan untuk membuat serdadu terus terjaga. Dosis tinggi diberikan kepada para pilot Kamikaze. Pelanggaran terjadi setelah perang dalam bentuk injeksi yang beradar di masyarakat luas.

Amfetamin didistribusikan pada serdadu Amerika dalam perang dunia ke II untuk melawan kelelahan, meningkatkan ketahanan tubuh, dan kepercayaan diri. Setelah perang, dokter menggunakan amfetamin sebagai obat untuk melawan depresi.

Perlawanan Budaya :

Menarik dicermati penggunaan ganja, LSD, dan mariyuana di kelompokan dr. Al Bachri sebagai bersifat halusinogenik yang berkelindan dengan sejarah dan kebudayaan modern Amerika Serikat. Penggunaan psikotropika yang menimbulkan pengalaman psychedelic, termasuk perubahan persepsi seperti halusinasi dan sinestesia, itu dimulai di Pantai Barat AS oleh kaum hippies tahun 1960-an. Generasi hippies adalah penerus kaum bohemian yang sudah ada sejak lama. Para tokohnya termasuk penulis dan fisuf terkemuka, seperti William Blake Thoreau, dan Henry David.

Kaum hippies menolak kemampanan, arogansi peradaban (Barat), dan Perang Vietnam. Slogan yang terkenal, “make love, not war”. Kemunculannya bersamaan dengan gerakan hak-hak sipil dan gerakan kirfi baru. Fenomena itu merambah ke berbagai belahan dunia, memasuki seluruh aspek kehidupan, mulai dari fashion ,music, jenis makanan, minuman, hingga spiritualitas. Gerakan yang lebih dimotivasi secara politik termasuk gerakan kembali ke alam, usaha ekonomi koperasi, energi alternatif, kebebasan pers, dan pertanian organik.

Psikotropika dan obat-obatan terlarang mewarnai perubahan besar pada akhir perang dingin terkait kerentanan manusia, politik global, dan imperatif ekonomi. Milenium baru juga menoreh sejarah baru. Dalam Our Posthuman Future (2002), Francis Fukuyama mengungkapkan, kemajuan bioteknologi menciptakan obat-obatan terkait kerja otak yang mempengaruhi kepribadian. Sejarah baru manusia adalah perjuangan untuk merawat kemanusian yang hakiki. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply