Nostalgia Cinta K.A.Uap Jurusan Cijulang-Banjar

29/03/2012 Headline
Nostalgia Cinta K.A.Uap Jurusan Cijulang-Banjar

       (Di Stasiun Padaherang) 

Makan itu tidak hanya soal rasa, tetapi juga ketentraman jiwa. Dengan makan, hati menjadi tenang. Apa lagi jika makan di tempat-tempat yang menjadi kenangan. Tidak hanya perut kenyang, hati tenang, tetapi juga pikiran menjadi nyaman karena bernotalgia ke masa lalu lewat hidangan yang disantap. Apalagi dapat pacar dan akhirnya menjadi pasangan suami istri.

Oleh : B. Hamara & Madlani

Nostalgia memang selalu menyenangkan. Bahkan ada yang bilang, kejadian paling buruk pun baru terasa keindahannya apabila sudah menjadi kenangan. Hal inilah yang membuat banyak orang terus memburu ingin mengunjungi tempat-tempat yang bisa membawa kenangan akan masa lalu.

Kereta api uap jurusan Banjar-Cijulang (Ciamis Selatan), menjadikan kenangan masa lalu. Hal tersebut terangkai dari pengalaman masa lalu Pak Muchtar (74) asli urang Banjar yang beristrikan urang Parigi. Pertemuan HR dan Pak Muchtar/istri, hanya suatu kebetulan pekan lalu Sabtu (24 Maret). Suami istri itu turun dari sebuah mobil pribadi buatan Jepang warna putih, di depan kantor HR menunggu bus ke jurusan Pangandara.

Sudah setengah jam Pak Muchtar dan istri menunggu bus jurusan Pangandaran, tak ada satu pun bus yang lewat. Cuaca Kota Banjar siang itu panas, meski pun hujan masih sering turun. Suami istri itu ikut berteduh, sabar menunggu bus yang lewat. Beberapa karyawan dan wartawan HR sedang asyiik ngobrol dan aku sedang berada di ruang kerja, salah seorang wartawan mempersilahkan Pak Muchtar dan istri untuk beristirahat di ruang tamu kantor.

Terdengar dari ruang kerja, suara tamu itu bertanya kepada wartawan HR. Bus jurusan Pangandaran lewat sini ya..?, terdengar jawaban dari wartawan HR, kalau sudah siang suka ada lewat ke sini apalagi hari libur Sabtu-Minggu ada yang lewat bus dari jurusan Bekasi-Pangandaran. Asal Bapak sabar menunggu.

Aku pun penasaran siapa gerangan, tamu yang numpang istirahat menunggu bus ke jurusan Pangandaran. Aku keluar dari ruang kerja menghampiri tamu itu, begitu aku menuju ruang tamu. Tamu yang numpang istirahat itu mengucapkan Asasalamualaiqum, aku pun menjawab wassalamualiqum. Wartawan yang menemani bicara sang tamu memperkenalkan aku, ini pimpinan umum HR. Pak Muchtar pun berucap, ini kantor Koran yaa.

Aku cuma mengatakan betul, lalu pak tua itu bercerita dia ingin naik bus untuk bernostalgia ke Pangandaran. Inginnya siih naik kereta api, sayang sekarang sudah tidak ada, ada kisah manis yang dialami Pak Muchtar dan istrinya. Kereta api (KA) Cijulang-Banjar yang menemukan mereka menjadi pasangan suami istri, bermula saat kereta api berhenti di stasiun Padaherang.

Muchtar muda hendak membeli nasi timbel dengan goreng bogo, sambel tempe dan rempeyek udang kecil (rebon) waktu akan mengambil goreng bogo besar tangan lelaki dan wanita muda itu bareng mengambil ikan yang sama. Muchtar muda kalah cepat mengambil ikan, yang terpegang malah tangan gadis cantik, aku Muchtar. Dia mengalah ikan bogo goreng itu lepas, ke tangan si gadis sambil malu-malu naik lagii ke gerbong K.A.

Tak lama Muchtar pun naik ke gerbong K.A. yang sama, mengikuti gadis itu dan memperkenal diri dua wanita teman si gadis itu berbisik-bisik. Karena tingkah Muchtar yang nyelonong boy, kenal juga tidak waktu bersalaman gadis itu menyebutkan namanya Iis dari Parigi yang sekolah di SMEP (Sekolang Menengah Pertama) di Banjar baru kelas I. Sedangkan Muchtar di SMPN Banjar kelas III, dari pertemuan itu berlanjut dengan cinta monyet.

Muchtar ke Cijulang karena ada liburan sekolah, mengunjungi familinya di sana. Pandang memandang antara Muchtar dan Iis, setiap pagi sebelum masuk sekolah karena SMPN dan SMEP sekolah berhadapan di jalan Pegadaian. Dengan cukup saling pandang waktu itu, hati  senang ucap Muchtar.

Waktu pun terus berlalu, keakraban Muchtar dan Iis semakin terjalin. Kisah itu mulai terjadi pada tahun 1958. Setahun kemudian, Muchtar muda setelah lulus SMPN Banjar melanjutkan sekolah ke SMA bagian B di Yogyakarta. Dua tahun kemudian Iis setamat dari SMEP Banjar, menyusul sekolah ke SMEA di tempat yang sama dengan Muchtar. Hubungan menjadi semakin akrab pulang kampung bila libur tiba sama-sama pulang kampung, dan keluarga Iis sudah menjemput di stasiun Banjar. Langsung ke Parigi dua hari kemudian Muchtar baru bertandang main ke tempat Iis, sekalian janjian waktu bila nanti kembali ke Yogyakarta.

Setelah menyelesaikan sekolah di SMA bagian B, Muchtar melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran UGM (Universitas Gadjah Mada). Iis juga setamat SMEA melanjutkan ke Fakultas Ekonomi UGM. Saat kuliah itulah Muchtar nekad menikahi Iis, biaya hidup suami istri saat itu dibantu mertua masing-masing. Aku Muchtar karena kami berdua sibuk berkonsentrasi untuk tepat waktu menyelesaikan kuliah, hanya istrinya yang kuliahnya molor dua tahun karena melahirkan. Pengakuan itu dibarengi senyum-senyum Iis sang istri.

Setelah menjadi dokter Muchtar bekerja di Dinas Kesehatan Semarang, dan Iis bekerja di Bank Koperasi Tani dan Nelayan (sekarang BRI.red) di Yogyakarta. Sekarang pernikahan Muchtar-Iis telah melewati pernikahan emas (50 tahun), pasangan tua ini mukim di Jakarta. Dalam sisa hidupnya mereka ingin bernostalgia di daerah kelahirannya. Pasangan Muchtar-Isi, dikarunia tiga anak dua laki-laki, satu perempuan, enam cucu dan tiga cicit.

dr. Muchtar berharap kepada pemerintah agar kereta api jurusan Banjar-Cijulang bisa dibuka kembali sebagai kereta wisata, soalnya obyek wisata pantai Pangandaran sudah menjadi obyek wisata nasional. Juga cukup terkenal di mancanegara. Cuma dalam penanganannya belum baik di infrastruktur, pertama jalan yang jelek. Padahal untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, transportasi kereta api cukup menjanjikan pemasukan anggaran pendapatan daerah.

Berarti pemerintah harus peka, akan hal tersebut ucap dr. Muchtar. Lebih jauh Muchtar mengingatkan, kesempurnaan dalam mobilitas. Harus memahami bahwa idealnya jalan, terutama jalan tol dan kereta api, harus saling mendukung, saling melengkapi dan terintregrasi. Akan tetapi, tanpa dukungan finansial yang kuat, diperburuk luasnya wilayah yang sangat dahaga insfrastruktur. Jelas kita harus memilih, menurut Muchtar kejelian dalam memilih begitu penting, karena kita sendiri yang menentukan masa depan di tanah air ini. Jangan salah kaprah seperti sekarang.

Memang kerap luput dari perhitungan, tak kala kita memilih membangun jalan raya dari pada kereta api. Ucap Muchtar sudahkah dipikirkan dampak polusi, stress akibat kemacetan. Hingga membengkaknya subsidi bahan bakar minyak (BBM) akibat fasilitas terhadap kendaraan pribadi ? Anehkan sejauh ini, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), untuk jalan  dan juga industri jalan tol terlihat lebih siap. Dibanding jalan kereta api.

Setelah satu jam lebih dr. Muchtar dan istri berbincang-bincang dengan HR, bus pun lewat  Muchtar dan Istri bergegas pamit. Istrinya berpesan pada Pak Muchtar, nanti bila sampai di Kalipucang jangan lupa beli rempeyek rebon (udang kecil) dan terasi. Iya, ucap Muchtar bila tak keburu nanti saja pulangnya, soalnya cucunya sudah hampir dua jam sudah menunggu di Pangandaran.

Pak Muchtar meskipun tua, penampilannya keren dengan stelan celana jeans warna biru muda, sepatu kets, dan hem abu-abu muda benar-benar kakek modis. Sementara istri berstelan baju dan celana putih, ditambah jilbab putih tulang sangat serasi. Sambil pamit Muchtar dan Iis, bersandung lagunya Iwan Fals, ”Kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini ingin ku kenang selalu. Hati ku damai. Jiwaku tentram disampingku. Hatiku damai. Jiwaku tentram bersamamu”. Kakek dan nenek modis itu naik ke bus yang kebetulan tidak penuh. Sambil melambaikan tangan sampai jumpa lagi. Selamat jalan Pak Muchtar, semoga enjoy. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles